Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#48. Tuduhan Janet.


__ADS_3

"Darimana kau tau ruangan kerjaku, Janet? Dan kenapa kamu berani masuk tanpa ijin dariku!" tanya Roma dengan nada tegas menekan.


"Um, darimana ya?" Janet justru balik bertanya dengan mimik wajah tak serius lebih terkesan menggoda. Bahkan gadis ini berjalan mendekat dengan langkah yang di buat melenggak-lenggok.


"Jawab saya, Janet!" tegas Roma kembali.


"Darimana ya? Mungkin saja dari hati yang terlanjur terpaut pada Pak Dosen yang membawa langkah saya kesini," jawab Janet malu-malu.


Roma mendengkus dan memalingkan wajahnya karena enggan melihat mimik wajah Janet yang ia tau hanyalah pura-pura lugu itu. Bagaimanapun Roma, bukanlah pria bodoh dan pria ini sudah paham seperti apa gerak-gerik para perempuan penggoda itu.


Sekalipun, Janet mengenakan kerudung untuk menutupi kepalanya tapi tidak dengan tonjolan serta lekuk tubuhnya.


Masih lebih baik Mikha yang selalu mengenakan pakaian longgar sehingga hanyalah Roma yang tau betapa besar gadis itu memiliki buah kembar.


Sementara, Janet mengobral semuanya.


"Keluarlah dan kembali ke kelasmu," titah Roma mengusir halus mahasiswinya ini.


"Oke, tapi lain kali boleh ya Janet main ke sini kalau ada hal yang tidak aku mengerti soal pelajaran," kata Janet percaya diri.


"Tidak. Kecuali kamu menemui saya dengan beberapa teman, bukan sendirian seperti ini," jawab Roma tegas. Rahang pria ini mulai mengeras karena merasa terganggu dengan tindakan berani Janet.


"Loh, kok gitu Pak. Tadi aja Mikha kesini sendirian gapapa," sanggah Janet yang mana dengan ucapannya itu kedua manik mata Roma membesar seketika.


Pria ini kaget atas apa yang baru saja Janet sampaikan.


"Benar juga, jaraknya kedatangannya dengan kepergian Mikha sungguh berdekatan Bahkan aku saja sampai salah mengira tadi," batin Roma. Sembari mencari cara serta alasan untuk menampil sangkaan Janet tersebut.


"Karena saya mengundang Mikha. Dan kami hanya bertemu sebentar," jawab Roma mengatakan hal yang sebenarnya.


"Pak, anda tau gak pepatah ini. Sekali berbohong maka kau akan melakukan kebohongan kedua lalu ketiga dan seterusnya demi menutupi kebohonganmu yang pertama. Artinya seseorang yang sekali bicara bohong maka selanjutnya tidak akan bisa berkata benar , dan pada saat itulah dia akan sulit di percaya lagi kata-katanya. Apalagi, jika sosok itu adalah seorang pendidik," sindir Janet, dengan segala persepsi yang pada saat ini berputar di kepalanya.


"Janet, sebaiknya kau tidak perlu menerka-nerka atas apa yang kau lihat. Karena semua yang ada dalam pikiranmu bisa saja salah. Islam, bahkan melarang umatnya saling mencurigai tanpa bukti," kata Roma lagi. Mencoba menghentikan tindakan Janet yang hendak menekan dirinya.

__ADS_1


Roma tau betul apa isi niat dalam pikiran gadis seperti Janet ini. Masih muda tetapi, isi kepalanya sangatlah kompleks.


Roma tak habis pikir cara apa yang di gunakan oleh kedua orangtuanya sehingga ia memiliki pola berpikir seperti ini.


"Wajar sih, Pak. Kalau saya salah paham. Karena, Mikha sudah lebih dulu berada di dalam ruangan ini. Itu artinya, Mikha bukan baru sekali ke tempat ini untuk menemui anda. Saya bisa saja melaporkan masalah ini kepada ketua dekan!" ancam Janet yang mulai mengeluarkan taringnya untuk menekan serta memojokkan Roma.


"Silakan laporkan. Tetapi, jika apa yang kamu curigai itu bukanlah yang sebenarnya maka saya akan melaporkanmu balik, agar universitas ini mengeluarkan kamu!" kecam Roma balik.


Sekalipun Janet adalah mahasiswinya, akan tetapi jika secara tak sopan berani merambah urusan pribadi serta mendiktenya. Maka Roma akan bertindak tegas, apalagi dirinya tidak bersalah.


Justru, semua hal buruk akan berbalik pada gadis ini jika dia tetap nekat meskipun Roma telah memperingatkannya.


Janet mengepalkan kedua tangannya kencang. Kenapa dosennya ini tak bisa di tekan padahal dirinya telah memergoki perbuatannya yang tengah menjalani suatu hubungan dengan mahasiswi di luar konteks pendidikan.


Ya, itu kan menurut pandangan Janet dari apa yang ia lihat sekilas oleh kedua matanya.


Tak berhasil menekan Roma maka Janet segera keluar untuk mencari sepupunya itu.


"Untung aja gue udah ambil beberapa foto pada saat Mikha keluar dari ruangan pak dosen," gumam Janet sembari mencari keberadaan Mikha yang ia tau masih berada di area taman kampus.


Sayangnya setelah berputar lebih dari lima belas menit, Janet tak juga menemukan Mikha. Hingga jam kelas kembali di mulai. Dan kesalnya adalah ternyata Mikha telah berada di kelas dan adik tertawa bersama dua kawan kembarnya itu.


"Sial! Kenapa dia tau-tau ada di kelas!" gerutu Janet pelan. Terpaksa dirinya harus menunggu sampai waktu pelajaran berakhir.


Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Janet sama sekali tak bisa tenang. Senyumnya semakin terkembang setiap kali ia membayangkan pengusiran sang nenek terhadap Mikha.


"Gue bakalan pastiin, bahwa kali ini adalah masa terakhir Lo bersikap sok di sayang Mikha. Sebentar lagi cucu yang selalu di bilang bagus dan membanggakan ini akan mencoreng nama baik keluarga," batin Janet.


Saking asik melamun, Janet pun terkena teguran keras dari dosen wanita yang terkenal cukup killer ini.


Terpaksa, Janet harus menjalani hukuman menulis materi di papan board putih serta mengembalikan buku ke kantor sang dosen yang berada di lantai atas.


Sialnya lagi, pada saat Janet mengembalikan buku-buku tersebut, jam pelajaran pun berakhir.

__ADS_1


Dengan cepat Janet berlari karena ia tak mau kehilangan Mikha lagi, namun ia terlambat. Kelas sudah kembali kosong dan Mikha tak lagi terihat batang hidungnya.


"Sial!" umpat Janet, sambil menghentak kakinya kuat ke atas lantai.


"Udah ilang aja lagi sih tuh anak. Apa bisa nembus tembok kali ya dia!" kesal Janet.


Akan tetapi kakinya tetep melangkah meninggalkan gedung kampus.


Beberapa saat kemudian. Janet yang memang membawa motor maticnya acap kali pergi dan pulang kampus menemukan sebuah pemandangan yang membuat kedua sudut bibirnya menciptakan lengkungan.


"Wah, siapa sangka jika aku menemukan bukti konkrit lainnya," ucap Janet kegirangan seraya menyiapkan kamera ponselnya untuk mengabadikan.


Dimana Mikha nampak di jemput oleh pria dala mobil yang ia sangat tau dan kenal bahwa itu adalah kendaraan dosen mereka.


"Kamu bisa aja mengelak di depanku, pak dosen cakep. Tetapi, bukti ini mana mungkin bisa," ucap Janet dengan senyum penuh kemenangan sambil menatap layar ponselnya yang telah menangkap beberapa gambar.


"Seru nih, kalo seluruh kampus juga tau," tambahnya lagi dengan segala niat licik yang berputar di dalam kepalanya.


"Kenapa Mikha?"tanya Roma, setelah istrinya itu telah masuk kedalam mobil.


"Aku, ngerasa kayak ada yang lagi memperhatikan kita berdua," kata Mikha sambil mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil.


"Sudahlah, setelah ini kita akan mengumumkan pernikahan. Jika nanti ada gosip yang beredar abaikan saja. Siapapun yang melempar kotoran maka akan terkena muka sendiri," jelas Roma yang akhirnya membuat Mikha duduk dengan tenang.


"Jadi, kita sekarang main kerumah Umma dulu kan?" tanya Mikha.


"Iya, nanti kita mampir dulu beli kue kesukaan Umma,"jawab Roma.


"Asik!" celetuk Mikha girang.


Roma tak mau menunda lagi dan langsung tancap gas kendaraannya tersebut.


Sementara itu di balik pepohonan, Janet nampak bersembunyi tak bergerak.

__ADS_1


"Hampir saja!"


...Bersambung. ...


__ADS_2