
⛔⛔⛔ WARNING!!! YANG GAK KUAT BOLEH SKIP AJA ⛔⛔⛔
Gue melihat Sarah yang masih meringkuk dipojok ruangan. Jelas seki ketakutan tergambar di wajahnya. Keringat dan air mata menjadi satu.
Gue mendekati wanita tua itu, berjongkok dihadapannya. Tangan Sarah saling bertautan memohon, tapi tidak ada kata yang bisa terucap karena mulutnya terjahit.
"Lu mohon ampun Sarah?" Sarah mengangguk cepat. "Dimana kesombongan lu itu hah?!"
"Gue udah pernah bilang sama lu, kalau lu akan berakhir ditangan gue." Sarah menggeleng. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu bilang apa?" gue pura-pura gak ngerti. "Buka jaitannya." anak buat uwak datang, satu orang memegangi kepala Sarah, satu orang lagi menarik benang yang menjahit mulut Sarah dengan kasar.
Krrreeeeekkkk! Darah kembali mengalir dari mulutnya. Sarah menangis menahan sakit tapi tetap tidak bisa mengeluarkan suara.
Gue mengambil tangan Sarah yang kotor dan dipenuhi darah kering. "Tangan lu ini sudah kotor dengan darah orang-orang yang lu bunuh. Gue akan bantu lu untuk membersihkan tangan lu."
Sarah kembali menggeleng sambil menangis. Melihat gue yang tidak memberikan reaksi apa-apa Sarah merangkan ke arak Uwak Madin memohon pengampunan.
"Lu beruntung karena gue pantang membunuh wanita dan anak-anak." Uwak menatap Sarah jijik. "Nyawa lu ditangan Alana." Uwak menarik rambut Sarah. "Berdoalah dia akan kasi kematian yang mudah buat lu." Uwak mendorong Sarah dengan kasar.
__ADS_1
Rupanya Sarah gak menyerah, kini ia merangkak mendekati Richard. Ia juga memohon pengampunan ke suami gue.
Richard mundur selangkah. Menjauhkan kakinya dari jangkauan tangan Sarah.
Sarah kembali merangkak ke arah gue. Memegangi kaki gue dan memohon ampun.
"Potong jari-jarinya! Bagikan pada Betty dan Bunny."
"Eemmmm!!!! Eeemmmm!!!" Sarah menggeleng. Berusaha menghindari dari penjaga yang akan menangkapnya.
Tapi dia tidak bisa kemana-mana. Kakinya terantai dengan kuat.
"EEEMMMM!!" suara teriakannya yang tertahan mengisi seluruh ruangan. Baru satu jari. Kurang sembilan lagi.
"Bangunkan dia." seseorang menyiramkan air dingin ke wajah Sarah dan membuat Sarah tersadar.
"Gue sudah kasi lu kesempatan dengan melepaskan Jasmin, tapi ternyata lu sangat tamak." Gue berdiri didepan wajah Sarah yang terbaring lemas dilantai.
"Lu sudah bikin papa gue menderita, buat mama gue menangis. Membunuh orang tua gue dan juga Rosaline. Jadi hukuman apa yang pantas buat lu?"
__ADS_1
Tangan tanpa jari Sarah bergerak perlahan ingin menyentuh kaki gue. Gue injak tangan itu dan membuat Sarah kembali meraung kesakitan.
"Membunuh lu memang gak bikin orang tua gue dan Rosaline kembali hidup, tapi lu bisa jadi mainan mereka di akhirat sana."
"EEEMMM" Sarah masih berusaha mendapat pengampunan. Tapi tentu saja tidak akan ada gunanya.
"Gue akan kasih lu satu kesempatan untuk keluar dari sini." Sarah mengangguk senang.
Penjaga membuka rantai yang mengikat kaki Sarah, memapahnya dan membawa wanita tua itu ke lorong panjang.
Gue tersenyum senang melihat keterkejutan Sarah. "Lu harus bisa melewati bara ini untuk sampai ke pintu keluar. Kalau lu bisa, gue biarin lu keluar."
Sarah diam. Tubuhnya melorot ke lantailantai memandangi bara apa yang terbentang sepanjang dua meter.
Perlahan Sarah bergerak maju.
Nyeesss! Nyeesss! suara bara yang menyentuh kulit Sarah terdengan bersahutan bergantian dengan suara rintihan Sarah.
Bau gosong mulai menyeruak. Sarah merangkan semakin lambat. Belum sampai satu meter, ia sudah pingsan kembali.
__ADS_1
"Bagikan pada Betty dan Bunny." Anak buah Uwak menuruti perintah gue tanpa bertanya.
Richard memeluk gue dari belakang. "Ayo kembali. Angel pasti sudah menunggu."