Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab #61. IBG. Penyebaran Gosip.


__ADS_3

Beberapa komentar pun mulai bertebaran pada saat penghuni grup melihat foto-foto yang di sebar oleh Janet. Termasuk si kembar manis Ichi dan Ocha.


Keduanya kaget dan tak percaya darimana Janet mendapatkan gambar-gambar tersebut. Mereka juga heran kenapa Mikha tidak muncul meskipun sudah di tag oleh beberapa mahasiswa dan siswi yang memang tak suka dengannya.


Kebanyakan dari mereka melempar makian serta hujatan karena mengira kalau Mikha simpanan om-om.


Semua itu karena postur tubuh Roma yang tinggi besar.


Karena itulah, Janet dengan mudah mendapatkan sekutu untuk memusuhi saudara sepupunya itu.


"Mampus lu, Mikha! Tuh cowok belom aja gue sebar mukanya. Siapa tau, masih bisa nego sama kak dosen yang tampan itu. Kak Roma, kamu harus menuruti apa yang aku inginkan atau, nama serta citra baikmu hancur di tanganku," gumam Janet dengan raut wajah sumringah.


Di lain tempat Ichi dan Ocha bingung campur heran karena ada yang tau kedekatan Mikha dengan Roma selain mereka berdua.


"Ca, coba lu telpon Mikha sekali lagi. Siapa tau diangkat kali ini," kata Ichi.


Ocha pun kembali mencoba untuk menghubungi Mikha sekali lagi. Akan tetapi, hasilnya tetep sama. Kawan mereka itu tidak bisa di hubungi bahkan di chat juga hanya ceklis satu.


"Tetep gak diangkat, Ci. Gak tau deh ni anak kemana perginya," kata Ocha putus asa. Sudah ada sepuluh kali dia mencoba menghubungi kawannya ini.


"Mikhaela, mana dia kagak pamit dulu lagi sama kita kalo mau ngilang gini. Kebiasaan emang!" kesal Ichi menahan geram.


"Huh, mana lagi ada masalah begini. Gimana mau konfirmasi kalo yang bersangkutan gak nongol. Kacau deh ah!" Ocha memilih merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur.


Ichi mau tak mau mengikuti kelakuan saudari kembarnya itu. Karena, ia sendiri pun tak tau lagi harus melakukan apa. Di tambah lagi beberapa anggota grup justru mencecar mereka.


Rasanya mereka berdua yang stress dengan kasus Mikha ini.


"Udahlah, Ca. Kita non aktifkan aja nih hape. Pusing aku kalo kayak gini," kata Ichi mulai frustrasi.


"Sembunyikan ajalah grupnya kita jangan nongol. Soalnya gue mau main tiktok ini," tolak Ocha.


"Ck, nih mereka pada japri. Kesannya kayak kita ini maling aja di cecar terus!" gerutu Ichi dengan bibirnya yang di majukan ke depan.


"Yaudah matiin hape deh, mending kita ngerujak aja di belakang," ajak Ocha yang pada akhirnya bangun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Boleh juga idenya, Ca. Tapi, Lo yang manjat ya," sahut Ichi menyetujui ajakan saudari kembarnya itu.


"Ish, kok gue sih. Selalu aja Lo nyuruh-nyuruh, Ci! Gak sopan!" gemas Ocha.


"Elo kan Kakak ....," goda Ichi pada Ocha, dengan mencuri gaya dan logat salah satu lembar botak yang menjadi tokoh kartun paling fenomenal itu.


"Tauk ah, dasar adek gak guna! Naek pohon jambu biji aja gak berani!" ledek Ocha balik dan langsung berlari meninggalkan Ichi yang cemberut.


Kita tinggalkan di kembar manis ini dan kembali ke keluarga Cemara eh keluarga bahagia.


Mikha sama sekali tak tau jika nama baik serta statusnya tengah menjadi pergunjingan hangat di kalangan mahasiswa dan mahasiswi baru.


Gadis itu saat ini tengah asik mengunyah nikmati makan malam bersama keluarga besar Alberto.


Annisa sudah memberitahukan pada Roma dan Mikha akan keinginan opa Alberto yang menyarankan pesta meriah pada resepsi mereka nanti.


Sebagai suami yang bijak, maka Roma menyerahkan semuanya pada sang istri.


Mikha yang sangat tidak suka berada di keramaian serta pesta yang berlebihan pun tentu saja menolak ide tersebut.


Lagipula, Mikha cukup miris dengan kemungkinan biaya yang akan di keluarkan juga pesta tersebut di adakan besar-besaran.


Akan tetapi, dengan tak pantang menyerah opa Alberto membujuk cucu menantunya itu. Pria tua yang masih gagah itu mencoba merayu Mikha dengan mengajaknya bicara dari hati kehati.


"Rom, Opa pinjam dulu ya istri cantikmu ini," kata Alberto meminta ijin kepada cuci lelaki satu-satunya itu.


Roma tentu saja hanya bisa mengiyakan. Lagipula, ia berharap Mikha bisa mengambil keputusan yang terbaik.


Ia yakin jika istri kecilnya itu akan dewasa pada beberapa situasi, yang memerlukan kebijakan dalam pola pikir.


"Sini, Nak," kata Opa Alberto mengajak Mikha agar keatas penginapan mereka.


"Iya Opa, maaf Mikha agak lama jalannya," sahut gadis itu merasa tak enak hati.


"Kamu itu masih muda. Masa kalah sama Opa sih," ledek Alberto dengan tawa khas orangtua.

__ADS_1


"Iya ya, Mikha jadi mau malu nih," ucapnya.


"Kalau begitu kamu harus lebih sering lagi jalan kaki atau naik gunung. Jangan naik kendaraan terus. Jadi kalo kamu itu gak terlatih untuk berjalan maupun menanjak," saran Alberto memberi nasihat kepada sang cucu yang ia tau kalau gak naik mobil ya motor pasti.


"Benar juga tuh Opa. Mikha memang jarang banget jalan kaki. Kayaknya harus di jadwalin ya," timpalnya.


Alberto tersenyum karena sang cucu menerima usulan darinya. Setidaknya, Mikha tidak membantah apa yang ia sarankan dengan argumen yang katanya kekinian.


"Anak milenial itu nyatanya kaum rebahan. Artinya mereka sangat jarang sekali bergerak. Gak kena matahari kayak mahluk nocturnal. Kulitnya pucat, rambut kering, serta sendinya pada kaku. Masih muda aja udah pada kena penyakit osteoporosis," kata Alberto lagi.


Ucapannya barusan membuat Mikha membulatkan matanya. Pria tua di sebelahnya ini memiliki wawasan yang luas bahkan analisanya kurang lebih benar.


Kaum rebahan yang nocturnal dan takut matahari serta kebanyakan anti sosial itu tercipta karena adanya gadget dan makin beragamnya aplikasi pertemanan atau media sosial.


Sehingga, kalangan para manusia ini mengira gak butuh lagi mahkluk dunia nyata. Mereka lebih nyaman dengan kawan di dunia maya atau media sosial tersebut.


"Sini, pemandangannya bagus banget dari sini," tunjuk Alberto ke bawah bukit. Dimana mereka dapat melihat hutan terbentang hijau dengan sungai kecil yang meliuk bagaikan tubuh ular anaconda.


Tak sia-sia mereka menanjak sebanyak seratus anak tangga.


"Bagus banget Opa. Di kota kita gak bakalan ketemu pemandangan kayak gini," kagum Mikha. Sepasang manik matanya berbinar-binar senang.


"Mikha, cucu Opa yang cantik. Kau tau kenapa orangtua ini sangat bersikeras ingin membuat pesta yang meriah untuk resepsi kalian?" tanya Alberto pada Mikha serius yang kemudian hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh cucu menantunya itu.


"Karena, dulu pada saat Opa menginginkan hal ini dari mertuamu, mereka berdua menolaknya. Padahal, Opa hanya ingin menunjukkan pada para kolega dan publik betapa bahagianya kami mendapatkan menantu yang luar biasa. Kali ini, Opa kembali memintanya padamu. Tolong, turuti keinginan kami yang sudah tua ini. Berikan kami kebanggaan itu," pinta Alberto begitu serius dan penuh harap.


Mikha, nampak kesusahan menelan ludahnya. Gadis itu tak tau harus menjawab apa. Mengiyakan atau menolak ya?


Satu sisi pesta tersebut hanya akan menghamburkan uang. Tapi di sisi lain, sebagian kecil kebahagiaan Oma dan Opanya ada di acara tersebut.


"Opa, Mikha akan menyetujuinya asalkan--"


"Katakan. Opa akan mengabulkannya," potong Alberto antusias.


Kira-kira, apa syarat dari Mikha?

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2