Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#35. Doa Seorang Roma.


__ADS_3

"Urusan tentang dunia dan akhirat itu memang perkara masing-masing manusia. Akan tetapi seorang suami telah Allah tunjuk sebagai imam bagi istri dan juga keluarganya. Sehingga suami harus membimbing serta menunjukkan jalan yang benar, terutama kepada istrinya dan anak-anak perempuannya nanti. Karena ... jika sang suami tidak bisa mendidik istri serta anak perempuannya dengan baik maka dosa dari kesalahan yang mereka perbuat akan Allah limpahkan kepada sang suami tersebut," jelas Roma dengan kalimat yang lembut hingga mengena.


Kalimat demi kalimat yang teruntai dari bibirnya itu sampai ke hati dan relung jiwa Mikha dengan baik. Hingga, gadis ini berpikir dan meresapinya.


Sejak ia kecil, seingatnya sang ayah selalu mendidiknya dengan agama. Sebelum, mereka berdua tinggal terpisah karena nek Sum yang mengajaknya tinggal bersama.


Kalau diingat, memang sang ibu sering sekali keluar rumah dengan alasan bisnis. Bahkan Mikha sangat jarang sekali mengobrol atau sekedar di urus oleh Sonia. Meskipun, sesekali ibunya itu akan memberikan hadiah untuk sekedar membujuk dan pada saat itulah Mikha tak lagi bisa marah apalagi berani menuntut.


"Maksud kamu, kalau Mikha tidak baik maka kamu yang akan berdosa terhadap apa yang aku lakukan, begitu?" tanya Mikha lagi. Sorot mata gadis ini mendadak lain. Roma dapat merasakannya bahwa apa yang ia sampaikan perlahan dapat diterima dengan baik oleh istrinya.


"Betul, Mikha. Kamu itu istriku, terima atau tidak terima dirimu akan hal ini. Karena, setelah aku menjabat tangan Om Rudi, ayahmu. Maka ... seluruh tanggung jawabnya terhadapmu telah berpindah," jelas Roma sambil menahan haru di dalam dadanya. Entah mengapa perasaan itu seketika datang begitu saja.


Mikha terdiam sesaat seraya menelaah apa yang Roma sampaikan dengan penuh perasaan barusan. Pantas saja, selama ini Roma terkesan mengatur caranya berpakaian, tutur bicara serta sikap. Lelaki di hadapannya ini juga membatasi pergaulannya yang urakan termasuk balap liar dengan taruhan.


"Apa selama ini aku telah membuatnya susah? Apa karena ini dia terus mencari cara agar aku gagal balapan?" batin Mikha mencerna setiap arti dari nasihat Roma.


"Jadi, kau mengatur hidupku bukan karena kau berpikir telah memiliki? Atau telah membeliku dari ayahku?" cecar Mikha.


Pertanyaan ini tentu saja wajar bagi wanita seusianya. Apalagi, Mikha dibesarkan dalam keluarga yang minim agama.


"Siapa yang membeli istri, Mikha? Dalam Islam tak ada istilah seperti itu. Kita, bersatu karena takdir dari Allah. Bahkan ... kita tidak saling mengenal sebelumnya. Tetapi, dengan kuasanya Allah langsung mempertemukan kita dan mempersatukan dalam ikatan halal serta suci, yaitu pernikahan. Terlepas dari bagaimana cara kita bertemu. Karena semua itu hanyalah sabab," ucap Roma.


Membuat Mikha semakin merasa yakin jika hatinya telah terbuka.


"Karena, Mikha seorang dengar dari kawan bahkan juga banyak konten yang seperti itu. Banyak sekali laki-laki yang seolah-olah memiliki seorang perempuan sepenuhnya setelah mereka berhasil menikahi. Seakan-akan mempunyai hak untuk mengatur dan menuntut ini-itu," kata Mikha lagi.


Gadis ini terus saja mengorek informasi yang ingin ia ketahui. Karena berdasarkan nasihat dari Roma juga bahwa kita tak boleh menilai dari satu sisi saja.


Mikha sekarang sadar dan baru mengerti bahwa suaminya ini memiliki pemahaman agama yang lumayan baik.

__ADS_1


Eh, dia cakap apa barusan?


Suami?


Uhukk.


"Karena itulah, Mikha. Para perempuan dianjurkan untuk memilih calon suami yang paham terhadap agama dan juga syariat. Sehingga, pria tersebut dapat menjalankan kehidupannya dengan aturan-aturan dari Islam. Sehingga tak ada alasan baginya untuk tidak menghargai manusia lain termasuk istrinya sendiri. Karena tak ada manusia manapun yang berhak membeli manusia lain untuk ia kuasai," jelas Roma lagi.


Nikah pun mengangguk dengan senyum di wajahnya. Gadis ini merasa puas sekali akan jawaban yang dilontarkan oleh Roma.


Pantas saja, Roma terkesan melayani bukan menuntut di layani olehnya. Pria itu bahkan meratukan dirinya sekalipun sikapnya selama ini di luar nurul eh nalar.


"Kamu kenapa, kok senyum-senyum gitu?" tanya Roma yang mana baru pertama kali ini melihat Mikha tersenyum manis seperti itu.


"Eh, mana ada aku senyum!" bantah Mikha yang langsung mengubah ekspresinya.


"Ih, jangan colak-colek segala!" ketus Mikha lagi dengan sorot mata galaknya. Akan tetapi hal itu membuat Roma justru tertawa.


"Galak banget sih istri aku ini. Awas loh nanti di laknat sama malaikat. Kamu gagal deh masuk surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki," kelakar Roma dengan nada sindiran halusnya.


"Kok bisa di laknat? Emang aku salah apa!" seru Mikha lagi masih dengan nada bicaranya yang cukup tinggi.


"Nih, karena ini-nih."


"Karena apa? Aku kan udah nurut gak jadi pergi balapan," sungut Mikha. Bagaimanapun gadis ini takut juga kalau harus dilaknat dan masuk neraka.


"Ini, cara bicara kamu yang pelan-pelan harus di ubah. Mikha, belajarlah untuk melembutkan suaramu juga tekan emosimu pada saat bicara pada suami. Karena, sesungguhnya Allah itu menyukai kelembutan,"jawab Roma tetap mempertahankan senyumnya yang menenangkan.


"Ekhm ... ini kan udah bawaan aku, gak tau gimana cara mengubahnya," kata Mikha.

__ADS_1


"Insyaallah, perlahan-lahan kamu pasti bisa. Kamu itu gadis yang pintar dan cerdas. Sampai di sini dulu taklim kita, aku sudahi dengan akhiru kalam Alhamdulillah. Semoga, kita bisa sering-sering punya waktu seperti ini," kata Roma dengan senyum puas di wajahnya.


Mikha pun turut mengangguk dan tersebut.


Gadis itu masuk ke ruang ganti. Kini Mikha telah berganti kostum dengan mengenakan piyama tidur.


Sambil memegang ponsel Mikha berjalan lurus ke arah tempat tidur.


Roma yang tengah bersandar di kepala ranjang langsung menoleh. Dan betapa kaget dirinya melihat penampilan istri kecilnya itu.


"Ya Allah, kenapa ujianku belum berakhir juga," keluh Roma dalam hatinya.


Bagaimana tidak jika saat ini Mikha hanya mengenakan piyama tanpa bagian dalamnya. Sehingga, dengan jelas terbentuk dada dan puncak gunungnya yang menantang. Sebab, ukuran dada Mikha lumayan besar.


Dengan rambut hitam panjangnya yang di gerai bebas melewati punggungnya. Belum lagi piyama yang Mikha kenakan bawahnya itu celana pendek.


Makin lengkap sudah penderitaan yang harus di tanggung oleh Roma malam ini.


Dalam hitungan detik, Roma langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Mikha yang naik ke atas tempat tidur.


"Dia kenapa?" batin Mikha heran. Gadis ini gak sadar bahwa ada seseorang yang sedang berjuang menahan hasratnya saat ini.


"Dia itu sudah halal buat aku. Tapi ... belum bisa aku miliki dan nikmati saat ini. Aku ingin Mikha menerima kehadiranku terlebih dulu. Jangan lama-lama ya Allah. Rasanya tuh gak enak," doa Roma dalam hati sambil memejamkan matanya berusaha untuk tertidur cepat.


Sabar ya Roma.


Akan tiba masanya nanti kok. 🤣


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2