Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Tujuh Puluh Satu


__ADS_3

Gue melewati hari ini seperti biasa, hanya saja sudah tidak sabar menunggu Richard sampai di rumah.


"Appa, kamu sudah pulang?" Gue mengambil tas kerja Richard dan menerima dari yang ia lepaskan dari lehernya.


"Air mandi mu sudah siap. Aku akan menghangatkan makanan." Richard masuk ke kamar tanpa bantahan


Lima belas menit setelah nya, Richard sudah duduk di meja makan. Iya, hari ini Richard pulang terlambat. Gue tidak terlalu ikut campur dengan urusan pekerjaannya, yang terpenting Richard memberi kabar, jadi gue gak khawatir.


"Appa, apa kamu pernah bertemu dengan ayah angkat mba Rosaline?" kami sudah berbaring di ranjang. Gue memutuskan untuk bertanya pada Richard tentang ayah.


"Hanya dihari pernikahan kami. Ada apa sayang? Kenapa tiba - tiba bertanya?"


Gue menceritakan tentang ayah dan ibu sesuai yang diceritakan uwak Madin.


"Ternyata dunia begitu sempit, sayang."


"Ceritakan padaku tentang ayah, appa." gue masuk dalam pelukan Richard.

__ADS_1


"Rosaline sangat menyayangi ayahnya. Tuan Paulo menyayangi Rosaline seperti putri kandungnya sendiri. Dari cerita Rosaline aku bisa merasakan mereka sangat dekat."


"Ceritakan lagi, appa."


"Rosaline besar bersama tuan Paulo. Sarah dan Jasmin lebih banyak diluar dan bersenang - senang. Walau ada kesedihan dimata tuan Paulo tapi kata Rosaline tuan Paulo selalu tersenyum padanya."


"Aku rasa tuan Paulo mendidik Rosaline dengan sangat baik sayang. Rosaline wanita yang ceria. Dia juga sangat pandai menutupi kesedihan nya dan pekerja keras."


"Apa kamu pernah bertemu dengan ayah?"


"Mba Rosaline sangat beruntung bisa bertemu ayah." gue mengeratkan pelukan gue. Berharap bisa menyalurkan kesedihan yang gue rasakan.


"Kamu pun beruntung sayang. Uwak membesarkanmu dengan baik. Dia mencurahkan semua cintanya untuk mu dan Marlin."


"Sekarang kamu mendapatkan banyak cinta dari ku, Angel dan eomma. Jangan bersedih." Richard mengecup kening gue. Merasa dicintai itulah yang gue rasakan saat bersama Richard.


"Terima kasih." gue menghapus sisa - sisa oar mata.

__ADS_1


"Jangan berterima kasih. Aku suamimu. Kita berbagi suka dan duka bersama. Jangan sungkan melibatkan ku saat kamu sedih. Mengerti?" Gue mengangguk.


"Tidurlah. Baby pasti lelah." Richard merapatkan selimut gue, memasukkan tangannya kedalam selimut dan mulai mengelus punggung gue hingga gue tertidur.


Seperti biasa jam sembilan gue bersiap untuk menjadi jemput Angel. Tapi entah kenapa perasaan gue hari ini gak enak banget.


Bahkan gue sudah lebih dari lima kali menanyakan keadaan Richard. Gue takut dia kenapa - napa.


"Sayang itu hanya perasaanmu saja. Semalam tidurmu tidak nyenyak. Karena itu hari ini kamu gelisah." Richard mencoba menenangkan gue.


"Iya, kamu benar appa. Aku akan bersiap menjemput Angel. Selamat tinggal, Appa. Aku mencintaimu." Gue menutup telepon dan mulai bersiap.


Okey, karena perasaan gue gak enak, gue memutuskan membawa pisau lipat kecil yang gue selipin didalam celana gue. Ada dorongan dari dalam diri gue yang bilang gue harus bawa sesuatu untuk membela diri.


Gue gak kayak Bang Blue dan uwak yang suka bawa senjata kemana - mana. Tapi hari ini gue merasa gue harus bawa satu.


Dalam hati gue berdoa ini memang hanya karena gue semalem gak tidur dengan nyenyak. Semoga hari ini berlalu dengan baik seperti hari - hari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2