
"Syaratnya adalah, Mikha mau sebelumnya kita mengadakannya tasyakuran terlebih dulu dengan mengundang anak yatim dan kaum dhuafa kemudian memberi santunan kepada mereka," kata Mikha.
"Haih, kirain syaratnya apa. Itu mah gampang, Nak. Mau kau undang berapa? Seratus, dua ratus atau seribu?" tantang Alberto dengan senyum bahagianya karena Mikha mau mengabulkan keinginannya.
"Gak usah banyak-banyak, Opa. Seratus pun boleh yang penting pemberiannya cukup dan manusiawi. Jangan mengundang banyak tetapi ternyata isi santunan ala kadarnya," kata mikha lagi.
"Opa mengerti sayang. Nanti kamu dan Roma yang kumpulkan mereka itu semua. Biar Opa dan Oma yang akan menyiapkan acaranya. Opa, sangat paham maksud dari kamu. Mikha memang cucu pintar yang Sholehah, insyaallah," puji Alberto yang tidak menyangka bawah jawaban Mikha sebegitu bijaksana.
Gadis muda ini memikirkan tanggung jawab yang lain di luar hingar bingar pesta yang akan melambungkan namanya sebagai istri dari cucu laki-laki satu-satunya penerus perusahaan Alberto Corporation.
"Insyaallah, Opa. Nanti, akan Mikha bicarakan dengan kak Roma. Insyaallah Mikha memiliki target operasi," kata gadis tersebut ceria.
Alberto sangat menyukai istri dari cucunya ini. Walaupun pernikahan keduanya berawal dari sesuatu hal yang tidak terlihat baik akan tetapi, nyatanya Mikha adalah anak yang santun dan tai bagaimana caranya menyenangkan hati orang tua.
Alberto merasakan kehangatan serta keakraban macam berbicara dengan cucu sendiri.
Padahal, ini adalah kali pertama bagi mereka berdua bicara serius dan cukup dekat.
"Kalau begitu, pembicaraan kita selesai sudah. Ayok, kita turun tangga. Opa harap sendi lututmu kuat," ledek Alberto yang mana membuat Mikha tertawa malu.
Mereka berdua menuruni anak tangga lebih lama daripada waktu naik sebelumnya. Mikha benar-benar kewalahan karena Alberto bisa bergerak sangat cepat dan tak terlihat kelelahan sama sekali.
"Sepertinya kamu harus mulai mengkonsumsi susu berkalsium tinggi dan juga berolahraga," kata Alberto memberi nasihat pada cucu menantunya ini yang terlihat kepayahan di undakan tangga ke tujuh puluh lima.
"Istirahat dulu sebentar ya, Opa. Sumpah dengkul Mikha linu," adunya dengan gaya bicara yang manja.
"Kau ini, masa iya sih harus Opa gendong gitu," ledek pria tua yang suaminya sudah memasuki angka enam puluh tahun lebih itu.
"Mikha gak suka susu, Opa. Udah mual karena sedari kecil memang mengkonsumsi susu sapi. Mikha kan bukan anak ASI eksklusif," jelas Mikha. Karena ia teringat benar cerita dari sang ayah dan ibunya bahwa sejak kecil Mikha minum susu formula. Semua itu di sebabkan karena Sonia sang ibu tidak bisa memproduksi ASI.
Karena itulah sang ibu dengan mudah meninggalkan untuk bersenang-senang bertemu dengan teman-temannya dan meninggalkan Mikha hanya dengan asisten rumah tangga saja.
Terkadang sang ayah akan mengajak Mikha ke tempat pekerjaannya yaitu pabrik homemade pembuatan basreng dan cimol.
__ADS_1
Karena itu pula, dari sana Mikha pada akhirnya mengenal dunia otomotif terutama kendaraan beroda dua. Rudy memang tidak pernah mengajari putrinya ini mengendarai motor sport akan tetapi, Mikha kecil pada saat itu mampu membujuk salah satu anak buah ayahnya untuk mengajarkan padanya cara berkendara secara diam-diam tentunya.
"Hei, kenapa malah melamun. Apa sungguh sakit? Kalau begitu maaf, ini semua salah Opa," kata Alberto yang mendekati Mikha dan mencoba memeriksa kaki gadis itu.
Mikha yang terkesiap kaget langsung berdiri.
"Ah, bukan itu Opa! Nih, Mikha gapapa kok, udah gak linu lagi. Ayok kita lanjut!" ajak Mikha yang tak mau mengatakan apa yang sebenarnya tengah berkelebat dalam pikirannya saat ini.
Tak lama mereka sampai di penginapan kembali sebuah resort yang di pesan secara ekslusif oleh Alberto demi membahagiakan anak menantu serta para cucunya ini.
"Eli, aku sangat cocok dengan cucu menantumu itu. Dia sangat polos dan berhati baik," lapor Alberto pada saat dirinya sudah berada di kamar bersama sang istri.
"Aku pun merasa begitu Honey. Sepertinya Allah sangat menyayangi keturunan kita. Karena itu, Allah selalu memberikan menantu yang baik untuk anak maupun cucu kita. Bukankah, kita akan kembali mendapatkan cicit yang berkualitas nanti," kata Eli seraya menyisir rambutnya yang sebatas pantat.
"Semoga saja. Kita doakan agar Roma segera mendapat kepercayaan dari Allah. DIA yang maha tau kapan waktu terbaik meniupkan ruh itu di kandungan Mikha," kata Alberto lagi.
Pasangan senja ini pun menikmati kebersamaan mereka dengan berbincang hangat sambil membicarakan anak dan juga cucu.
Tentang bagaimana setelah mereka pergi maka ketentraman yang tersisa.
Alberto dan Eliana mengabiskan malam berdua dengan membuka mushaf dan melancarkan bacaan mereka.
Sekalipun liburan bukan berarti hanya akan diisi dengan bersenang-senang yang membuat lupa daratan. Tentu saja dimana pun berada kita harus selalu mengingat sang Khalik. Dzat yang telah menciptakan segala keindahan yang akhirnya dapat mereka nikmati.
Mikha yang juga kini sudah berada di atas pangkuan sang suami tak henti-hentinya membuat pria itu tertawa hingga tergelak.
"Ya Allah, aku gak nyangka kalau kalian berdua akan akrab secepat itu," timpal Roma.
Karena pria ini tau bahwa sang kakek memiliki sifat tertutup. Alberto tak mudah menerima orang baru untuk menjalin keakraban dengannya.
"Opa ternyata seru juga. Tadinya Mikha pikir juga kaku deh, bakalan dikit nih buat diajak tuker pikiran. Eh ternyata enggak dan semua itu di luar Ekspektasi aku," ungkap Mikha yang masih asik menikmati momen di manjakan oleh Roma, suaminya ini.
Roma terlihat menepuk-nepuk paha Mikha yang terbuka karena istrinya itu hanya mengenakan piyama tidur yang pendek.
__ADS_1
Sambil mendengarkan sang istri bercerita tangannya terus tak bisa diam.
"Sekarang kaki kamu pasti pegal kan. Sini aku pijat ya," kata Roma.
Mikha yang memang betisnya terasa berdenyut pun mengiyakan saja dan mengangguk pasrah.
Mikha sesekali memejamkan matanya, untuk menikmati pijatan tangan Roma.
"Enak ya, di pijat begini? Bagus banget ya malah bobo," celetuk Roma yang gemas sekali pada saat mendapati sang istri justru malah tertidur pulas. Sungguh, di luar ekspektasi dirinya.
"Aku kerjain deh!"
Roma pun dengan nakal mulai menaikkan jajahan pijat itu semakin ke atas. Hingga, pria itu memberi remas-an lumayan bertenaga pada beberapa area sensitif istrinya itu.
"Kak Roma, Mikha capek tau!" dorong gadis itu pada saat sang suami ingin menyesap madunya.
"Iya, Kak Roma tau kamu pasti lelah. Makanya aku cuma minta kenikmatan begini aja dari kamu. Aku udah ridho sumpah, gak akan boleh itu malaikat melaknat kamu gak boleh. Karena aku memang yang telah menyetujuinya," jelas Roma lagi seraya mendekatkan wajahnya pada bagian yang paling indah dan nikmat tersebut.
"Kak Roma, kalo begini Mikha juga capekkk!" lenguhnya sambil mencengkeram rambut suaminya itu kencang.
"Rontok deh rambut aku," keluh Roma pura-pura merajuk.
"Ih, siapa suruh ngerjain orang capek!" ketus Mikha dengan napas yang masih memburu, dimana hal itu justru membuat Roma tergelak.
"Kalo gitu sekalian aja ya capeknya," kata Roma lagi dengan posisi yang sudah on fire.
"Kakak!" pekik Mikha kaget.
Ngapain sih mereka ðŸ˜
Ada yang bisa jelasin kagak?
...Bersambung....
__ADS_1