
...Aku Korban Perkosaan...
Bab 1 - Malam Yang Mengerikan
"Talitha." Si empunya nama menoleh kearah suara. "Hari ini kamu bisa dobel shift, ya? Maya ijin sakit. Saya gak bisa menghubungi Raka." Pak Anom, Manager bar dan restoran tempat Talitha berkerja memhampiri gadis yang sedang sibuk menata daftar menu.
"Iya Pak." Jawab Talitha pasrah. Ia memang tidak punya pilihan.
"Tenang aja, nanti saya bayar lembur." Kalimat terakhir Pak Anom cukup menghibur Talitha. Karena saat ini ia memang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ayah.
Talitha Trisna, gadis manis dan polos berumur 20 puluh tahun. Diusianya yang masih sangat muda ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Menjadi anak tunggal tidaklah seindah kata orang. Kata orang anak tunggal akan selalu berlimpah kasih sayang dan mendapatkan apapun yang ia inginkan.
Tapi tidak untuk Talitha. Diusianya sekarang ia sudah harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, pengobatan ayah dan juga membayar hutang dengan bunga selangit.
Sejak lulus sekolah menengah atas Talitha sudah bekerja. Apapun ia kerjakan asalkan halal dan juga menghasilkan uang. Mulai dari tukang cuci gosok, pembantu rumah tangga musiman hingga akhirnya ia bisa bekerja di restoran.
Phoenix Bar & Resto adalah nama tempat Talitha mengais rejeki selama setahun belakangan. Talitha dan keluarganya menutup telinga mereka rapat-rapat dari gunjingan tetangga. Mereka masih berpendapat gadis yang bekerja di bar bukanlah gadis baik-baik.
Tapi demi nama Ibunya, Talitha berani menjamin tempatnya bekerja tidak pernah meminta lebih selain mengantarkan makanan dan minuman pesanan pelanggan.
"Kamu gantii Maya, ya Ta? Reina menghampiri Talitha yang sedang menggosok cutluries.
Talitha menganggukkan kepalanya, " Lumayan buat nambah-nambah beli obat ayah."
"Emang kamu gak capek? Kamu udah masuk dari pagi loh." Reina adalah sahabat Talitha sejak bekerja di Phoenix.
Talitha menggeleng sambil tersenyum. Tersenyum memang selalu menjadi andalan Talitha untuk meringankan langkah kakinya dan menghibur dirinya sendiri.
---
Sudah pukul sebelas malam tapi bar masih ramai penggunjung. Talitha masih mondar-mandir melewati penggunjung yang sedang berdansa di dance floor untuk mengantarkan pesanan pelanggan ke meja mereka.
"Bill, Vodka tonic meja dua belas dong." Talitha mengetuk meja bar sembari meminta pesanannya.
__ADS_1
"Table 12, vodka tonic out." Billy menyerahkan segelas minuman bening. Walaupun Talitha berkerja di bar belum pernah sekalipun ia mencicipi minuman beralkohol.
Tak lama Talitha kembali lagi ke meja bar, "Bill, buka botol Blue Label."
Billy menyiapkan pesanan Talitha. Talitha dengan lincah membawa botol serta empat gelas diatas nampannya sementara tangan lain membawa seember kecil es batu.
Pukul satu dini hari, Talitha baru bisa keluar dari tempat kerjanya. Hari ini ia bekerja lebih dari 12 jam. Talitha sangat merindukan kasur tipisnya. Berharap secepatnya ia bisa sampai di rumah.
Talitha menyerah setelah setengah jam menunggu. Tidak ada satu angkot pun yang lewat. Hanya beberapa kendaraan pribadi yang lewat dan tidak mungkin ia meminta tumpangan di jam seperti ini.
Talitha memutuskan untuk berjalan kaki, ia tidak mau menghabiskan malamnya di pinggir jalan menunggu angkutan umum. Ini tindakan nekad, Talitha menyadari itu. Tapi berdiri di pinggir jalan juga bukan tindakan yang aman.
Sepuluh menit berjalan ia merasa pria yang berada dibelakang sedang mengikutinya. Talitha mempercepat langkahnya. Berusaha memperlebar jarak dengan pria itu.
Tapi semakin cepat Talitha berjalan, pria itu pun melakukan hal yang sama. Pria itu bahkan setengah berlari agar jaraknya dengan Talitha tidak terlalu jauh.
Talitha mencoba tetap tenang walaupun dalam hatinya ia sangat takut. Sambil terus berjalan, Talitha merogoh tasnya, berusaha mencari ponsel butut miliknya untuk meminta bantuan seseorang.
"Aaa-" Teriakan Talitha terhenti karena pria itu membekap mulut gadis polos itu dengan tangan.
Selain membekap mulut Talitha pria itu juga melingkarkan tangannya di perut Talitha dan memaksa Talitha untuk mengikuti langkahnya.
Dengan kasar pria itu mendorong Talitha untuk masuk kedalam sebuah mobil. Mengikat tangan Talitha dengan sabuk dan menyumpal mulut Talitha dengan dasi yang ia pakai.
"EEMM!! EEMM!!" Talitha mencoba memberontak tapi tidak berhasil.
Pria itu menindih tubuh Talitha, merendahkan sandaran joknya. Ia meraup bibir Talitha dengan kasar hingga melukai bibir ranum itu.
Gairah pria itu sudah dipuncak, Talitha yang berada dibawahnya bisa merasakan puncak gairah pria itu siap untuk dilepaskan.
"EEMM!! EEMM!!" Talitha menggeleng, menatap mata pria itu dengan tatapan memohon. Berharap ia menggapai setitik kesadaran pria itu dan melepaskannya.
Bukannya melunak, pria itu justru semakin bersemangat. Ia merobek baju Talitha hingga seluruh kancingnya terlepas. Pria itu melakukan aktifitasnya dengan kasar tidak memperdulikan Talitha yang menangis sesunggukan.
Penyatuan mereka pun dilakukan dengan kasar. Pria itu merobek mahkota Talitha tanpa aba-aba membuat Talitha menjerit kesakitan, hanya saja suaranya tidak terdengar.
__ADS_1
Pria sialan itu mendesak kenikmatan sementara Talitha menangis pilu dibawahnya. Apa dia perduli? Tidak sama sekali, yang ia inginkan hanyalah mendapatkan pelepasannya.
Pria itu menyebut nama seseorang saat melepaskan benihnya.
Darah mengalir diantara kedua paha Talitha bukti bahwa ia sudah tidak suci lagi. Tragisnya lagi mahkota yang selama ini ia jaga diambil paksa oleh orang yang tidak ia kenal.
Apa Tuhan sedang mempermainkan hidupnya?
Ia digagahi pria yang tidak ia kenal, yang mengira Talitha adalah orang lain. Takdir macam apa ini?!
Talitha menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Pria sialan itu sudah terbang ke alam mimpi.
Rupanya setan belum mau meninggalkan tubuh pria itu, satu jam kemudian dia kembali menggagahi Talitha tidak kalah kasar dengan yang pertama. Hingga darah kembali mengalir diantara dua pahanya.
Talitha benar-benar merasa dirinya hancur dan kotor. Diperlakukan seperti binatang, ikat dan dibekap. Bahkan nasib pelacur bisa dikatakan lebih beruntung dari pada dirinya.
Mereka melakukannya dengan sadar dan atas kemauan mereka sendiri dan perlakukan dengan baik oleh si pria hidung belang.
Mata Talitha mulai berkunang. Kepalanya berputar hingga tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Ia pingsan.
Bajingan itu? Dia tidak sadar kalau korbannya pingsan dan mengalami perdarahan akikibat permainannya yang kasar. Pria itu tidur tanpa merasa bersalah sama sekali.
Tok- Tok- Tok-
Suara ketukan membawa Ezra Moereno kembali ke kesadarannya. Ia mengerjabkan mata untuk menyesuaikan mata dengan cahaya matahari yang menyilaukan.
Ezra memegangi kepalanya yang berdenyut, mencoba menyusun lagi kepingan ingatannya.
"Pak, tolong buka pintunya." Dua orang petugas polisi sedang berdiri diluar mobilnya. Sambil memegangi kepalanya, Ezra membukakan pintu mobil.
"Angkat tangan!" Dengan cepat kedua polisi itu mengeluarkan pistol mereka ketika melihat ada seorang wanita yang nyaris telanjang dengan tangan terikat didalam dan mulut tersumpal dasi di dalam mobil Ezra.
"What the **** did I do last night?"
__ADS_1
Novel ini aku tarus di lapak kuning gaes.
Masih gratisssss, belum aku kunci