
"Dia istriku," jawab Roma tegas. Tatapan seketika lembut mengarah pada Mikha.
Betapa kagetnya Hanum, hingga wanita itu memundurkan langkahnya. Tatapannya melihat bergantian ke arah keduanya.
Hanum tertawa sumbang, "Apa buktinya? Apa Kakak sedang bertingkah konyol dengan mengakui mahasiswi bau kencur sebagai istri," sarkas Hanum dengan tatapan tak percaya akan tetapi hatinya mendadak berdebar kencang.
"Siapa yang bau kencur!" seru Mikha geram. Bagaimana pun ia tau jika perempuan muslimah yang cantik di hadapannya ini tengah meremehkan dirinya.
Karena itulah Mikha memutuskan untuk melangkah ke depan menghampiri Roma dengan gaya.
Uh, keren deh pokonya. Apalagi, tubuh Mikha itu lumayan tinggi dan berisi. Hingga Hanum terlihat menahan napasnya pada saat sosok gadis yang mengenakan pasmina dan juga topi pet di kepalanya ini meraih telapak tangan Roma, lalu menciumnya takzim.
"Tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi," gumam Hanum seraya membekap mulutnya sendiri. Kepalanya menggeleng dibarengi air matanya yang merembes deras membasahi kedua pipinya yang tirus.
"Kenalkan, Num. Dia ini adalah istriku, namanya Mikhaela Gonzales. Dia adalah anak dari sahabat Aby. Kebetulan, dia masuk kuliah di kampus tempat aku mengajar. Sengaja, agar kamu dapat saling mengawasi serta sering bertemu tentu saja. Iya kan, sayang?" tanya Roma sengaja menoleh dan tersenyum pada Mikha, memperlihatkan kemesraan mereka berdua pada Hanum.
"Bagaimana bisa Kakak memiliki istri seperti itu? Kak Roma level kriteria wanitanya itu tinggi. Mana mungkin? Ini pasti hanya rekayasa. Kak Roma lagi bohongin Hanum iya kan!" pekiknya masih menolak kenyataan.
"Rekayasa bagaimana, Num. Kamu perlu bukti apa lagi? Lagipula memang apa masalahnya jika Kakak memiliki istri seperti Mikha?" cecar Roma yang nampak tak terima dengan nada bicara Hanum yang seakan meremehkan Mikha istrinya.
"Jadi, Kaka gak percaya? Mau bukti otentik gitu?" cecar Mikha yang mana makin lama makin dekat dengan Roma.
"Iya, Hanum mau bukti," kata perempuan berpakaian serba tertutup itu.
"Oke. Tapi, jangan menyesal ya," tukas Mikha dan pada saat itu juga gadis ini meraih kedua pipi Roma dengan tangannya lalu dengan cepat Mikha memiringkan wajahnya dan menyambar bibir tipis sensual milik suaminya itu.
Roma seketika membelalakkan kedua matanya kaget. Tak menyangka jika bukti yang di maksudkan oleh istrinya adalah hal yang seperti ini.
Melihat hal tersebut, sontak Hanum membekap mulut dengan kedua tangannya. Dadanya seketika seakan ada yang menekan kuat hingga ia merasa sesak.
Tanpa sadar mereka telah cukup lama berciuman karena Roma pun menikmati tautan yang tidak di rencanakan ini.
Kapan lagi di cium sama Mikha.
Tentu saja Roma akan memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Tak peduli apa yang Hanum rasakan saat ini. Toh, bagaimana pun kawannya itu harus bisa menerima kenyataan.
__ADS_1
Hanum sudah gak dapat berkata apa-apa lagi. Bukti di hadapannya sudah demikian kuat. Dirinya telah di langkahin oleh gadis asing.
Gadis yang seketika menghancurkan mimpinya. Hal di luar ekspektasi dirinya yang mana ia pikir pengorbanan akan setara dengan terwujudnya mimpi yang lain.
Akan tetapi, semua sia-sia saja. Entah apa yang akan ia katakan pada ayah dan bunda nanti di rumah.
Mereka pasti akan menertawainya dengan keras karena telah menukar pendidikan di tanah termasyur dengan sosok pria yang tak mungkin bisa ia miliki.
______
Hanum telah berlari pergi beberapa saat yang lalu. Meninggalkan dua sosok ini, Roma dan Mikha yang terpaku diam karena malu satu sama lain.
"Maaf." Pada akhirnya Mikha mengakhiri sesi diam mereka.
Roma yang sejak tadi duduk menyamping sontak memutar badannya. "Kenapa kamu minta maaf?" heran Roma.
"Ya, karena Mikha tadi sudah lancang mencium Kak Roma di depan orang lain," jawab Mikha jujur.
"Kamu gak salah. Itu tindakan yang benar," kata Roma dan kini raut wajahnya mulai melentur, tidak setegang tadi.
Setelah itu, bahkan Roma tak lagi mau menatapnya.
Tak tau saja kamu Mikha, suamimu itu sedang menahan rasa yang timbul karena sikap agresifmu barusan.
Bagian pusat tubuh yang sesak tentu saja akan terlihat memalukan bukan. Jadi lebih baik diam untuk meredam dan menyembunyikan Joni yang bangun hingga ia tertidur tenang lagi.
"Aku malah suka kamu yang seperti itu. Hanya saja tadi cukup mengagetkan," ucap Roma jujur. Ia berbicara sambil menatap ke arah Mikha yang membulatkan matanya.
"Itu ... aku cuma--"
"Mikha, kita harus mengadakan resepsi agar pernikahan kita ini jelas di ketahui oleh orang lain sehingga tidak menimbulkan fitnah. Karena pertemuan kita secara sembunyi-sembunyi ini pasti suatu saat akan ada yang mengetahuinya. Kamu mau kan menerima pernikahan kita ini?" tanya Roma setelah penjelasannya yang cukup panjang.
Mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Roma Mikha hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan. Setidaknya ia bisa membayangkan bagaimana raut wajah satu perempuan lagi yang akan kena mental pada saat mengetahui bahwa sosok tampan ini sudah ada pemiliknya. Pikir Mikha. Hingga gadis ini tersenyum simpul meski tak terlalu kentara.
"Jadi kamu setuju, Mikha? Beneran?" cecar Roma antusias dengan kedua mata penuh binar.
__ADS_1
"Insyaallah, Mikha setuju," jawabnya terlihat tenang meskipun yang sebenarnya hatinya sudah dag-dig-dug tak karuan.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu mau menerima juga semua takdir ini," ucap Roma lega, seakan telah terlepas semua hal yang membebani hatinya selama ini.
Senyum tercetak jelas di wajah Roma yang begitu nampak bahagia. Mikha mendadak merasakan desiran aneh itu lagi merasuk ke dalam kalbunya.
"Berhentilah tersenyum. Kau mengacaukan hatiku. Haih, kenapa aku bisa-bisanya mengiyakan rencana resepsi itu," batin Mikha. Terkadang logika dan hatinya berseberangan.
"Waktu istirahat sudah habis. Kamu kembalilah ke kelas!" titah Roma pada Mikha yang nampak sedikit lemas.
Roma baru aja mau bertanya akan tetapi kini ekspresi itu sudah berubah kembali ceria seperti sedia kala.
"Baiklah, Mikha ke kelas dulu," ucap Mikha yang seketika kembali menoleh, padahal baru dua langkah keluar. "Oh ya, lain kali jangan terlalu dekat dengan Janet. Dia sepupuku," kata Mikha dan langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari Roma dulu.
"A–baiklah ..." sahut Roma yang mana telah kehilangan jejak punggung istrinya itu.
"Apa itu artinya dia cemburu? Apa karena hal itu juga sehingga Mikha mau menerima pernikahan ini?" gumam Roma yang tak menyangka kejadian tak mengenakkan yang di bawa oleh Hanum ada faedahnya juga. Setidaknya, gadis yang telah menjadi istrinya itu telah benar-benar mau menerima pernikahan mereka.
Itu artinya .....
Apa ada yang tau artinya itu apa??
Roma lagi asik senyum-senyum sendiri sambil menggigit bibirnya yang tadi di cium oleh Mikha.
Ahaii, bang. Baru juga di cium.
🤣
_________
"Sekarang kau tau kan! Itulah akibatnya menuruti hawa napsu. Otak serta akhlak mulia seorang perempuan muslimah bahkan kau gadaikan begitu saja," sarkas seorang pria yang mengenakan gamis Turki. Bahkan wajahnya memang mengikuti garis negara tersebut.
"Tetapi, Hanum pikir kesempatan itu masih ada Abi. Bukankah seorang pria boleh beristri dua?"
"Hentikan. Ide gilamu itu, Hanum!" tekan pria dengan rahang penuh bulu itu geram. Bahkan kedua matanya memerah lantaran marah.
__ADS_1
Bersambung