
Pov Author
Setelah Ecco berhasil meretas kamera CCTV dan mengetahui jalur yang dilalui oleh mobil penculik, Madin mengerahkan banyak orang untuk menyisir tempat mobil itu hilang dari tangkapan CCTV.
Richard memukul tembok dengan tangannya hingga berdarah. "Aish... kamu ini marah boleh, bodoh jangan." Madin menyerahkan pistol CZ 75.
CZ 75 adalah salah satu pistol terbaik di dunia bahkan tidak tersedia untuk penembak rekreasi selama Perang Dingin. Pistol CZ 75, diperkenalkan pada 1975, banyak meniru model pistol John Moses Browning, Browning Hi-Power, secara eksternal maupun internal, tetapi bukan salinan mutlak, dan menampilkan perbedaan yang signifikan. Pistol sembilan milimeter itu bisa membawa hingga enam belas peluru, menjadikannya salah satu pistol berkapasitas terbesar pada masanya.
"Aku tahu kamu terbiasa memegang ini." kata Madin penuh dengan makna tersirat. "Paulo akan sangat bangga. Lu menjaga kedua permatanya."
"Saya pernah gagal." jawab Richard sambil menunduk penuh penyesalan.
"Jadi pastikan hari ini lu gak gagal untuk yang kedua kalinya." Madin menepuk pundak Richard.
"Ayo, Blue sudah siap. Malam ini kita berburu."
Richard menyelipkan pistolnya di pinggangnya. Mengikuti langkah Madin keluar rumah dan bersiap menyerang Mr. Wong.
Mereka memang belum tahu pasti rumah tempat menyekap Alana dan Angel, tapi dipastikan tidak akan lama lagi mereka bisa mendapat informasi itu.
__ADS_1
Tiga mobil berjalan beriringan menuju perumahan mobil yang membawa Alana dan Angel menghilang dari pandangan CCTV.
Madin membawa orang - orang terbaiknya. Biasanya saat Madin melakukan penyerangan, ia akan menyerahkan sisanya pada polisi, tapi tidak untuk kali ini.
Sarah dan Wong berani menyerang keluarganya, kali ini ia sendiri yang akan membereskan kedua orang itu.
Sedang Richard yang sudah berjanji tidak akan mengangkat senjata, kali ini ia akan melanggar janjinya. Ia akan melenyapkan semua yang orang yang tangannya sudah menyentuh istri dan anaknya.
Sisi buruk yang selama ini dikubur oleh Richard bangkit kembali.
"Din, kita sudah dapat lokasinya." Blue baru bicara dengan salah satu anak buahnya melalui ponsel.
Ddrrtt, ddrrttt giliran ponsel Richard yang berdering. Panggilan video dari nomor tidak dikenal.
"Halo, Richard." Wajah Mr. Wong muncul di layar ponsel Richard.
"Wong!" jawab Richard geram.
"Malam ini aku berbaik hati akan memberikan hadiah padamu." Mr. Wong tersenyum bahagia.
"Kamu tahu apa yang paling menyenangkan di dunia ini?" Richard tidak menjawab.
__ADS_1
"Yang paling membahagiakan adalah mendapatkan gadis yang kita inginkan. Bukan begitu? Malam ini akan menjadi malam membahagian untukku, karena malam ini aku akan mendapatkan wanita yang sangat aku inginkan. Dan aku berbaik hati akan membaginya dengan mu. Ha... ha... ha... "Mr. Wong senang melihat wajah marah Richard.
"Jangan berani kamu menyentuh istriku!" Raung Richard.
"Atau apa?" tantang Mr. Wong.
Kamera ponsel beralih pada Ranjang. mata Richard berkaca - kaca seketika. Pandangannya menatap tajam pada layar ponsel.
Madin yang melihat sikap Richard mengambil ponsel Richard. Tangan Madin mengepal, memukul dasboard mobil untuk melampiaskan marahnya.
"Gue kasi lu waktu sepuluh menit. kita harus sampe disana dalam sepuluh menit. Lu DENGER GUE BLUE?!" madin berteriak pada Blue yang sedang mengemudi.
Blue menginjak pedal gas lebih dalam lagi. melakukan perintah Madin. Ia tidak tahu pasti apa yang Madin dan Richard lihat, tapi sepertinya bukan sesuatu yang bagus. Jadi dia tidak akan membuang waktu.
Mobil melaju dengan kencang melewati beberapa mobil.
Sesekali Richard berteriak memaki Wong. Matanya Richard mengembun melihat bagaimana Wong memperlakukan istrinya.
"Blue?" Richard menanyakan posisinya.
"Lima menit lagi." jawab Blue singkat.
__ADS_1