
POV Roma.
Aku merasakan ranjang sedikit bergoyang, seperti ada yang bergerak. Ku pikir itu mungkin Mikha yang telah bangun.
Akan tetapi, mata ini sulit sekali membuka. Aku hanya bisa menggerakkan tangan dan kaki agar seseorang yang berada di dalam dekapanku, tetap dalam posisi yang sama.
Kenyataannya, kejadian tadi sudah menguras sebagian energiku. Seseorang yang berada dalam dekapanku, benar-benar ingin melepaskan dirinya.
Enak saja! Aku mendekapnya lebih erat lagi dan, ia terdiam. Lama ... aku pun berusaha mengintip dari celah mataku.
Masyaallah. Ternyata dia adalah istri kecilku ... bidadari yang Allah turunkan ke bumi untukku. Sepertinya dia sedang asik menikmati wajah suami gantengnya ini.
Aku hanya bisa mengintip sedikit dengan mata yang bergitu berat ku buka. Semburat senyum yang ia kulum semakin membuat wajah itu menggemaskan bagiku.
Sebenarnya, Apa yang sedang ia pikirkan saat ini? Kejadian barusan atau apa?
Aku pun membuka paksa kedua mataku yang sejujurnya masih sangat mengantuk ini, hingga sepasang retinaku menangkap sebuah rupa yang membuat hati ini berkali-kali mengucap syukur.
Sepasang mata bulat dengan bulu lentik, yang mengerjap lucu. Irisnya yang berpendar biru terang bagaikan samudera. Membuatku merasa sebagai lelaki paling beruntung di dunia ini.
hidung mancung yang mungil, bibir merah bagai buah plum yang ranum, membuat ku ketagihan terus untuk merasakan manisnya.
Mikha, kamu sudah menjadi candu ku sayang.
Dan, seketika tenaga ku pun pulih kembali, berbarengan dengan gejolak hasrat yang sepertinya langsung on fire lagi. Hilang semua kantuk yang tadi masih bergelayut di kelopak mataku.
Wajahnya yang kaget karena aku yang tiba-tiba membuka mata, sangatlah lucu.
"Ganteng ya! Liatin deh sampai kamu puas. Ehm, diapain juga aku ikhlas kok," godaku dengan senyum semanis mungkin, agar pipi bidadariku ini semakin merona.
Mikha gadis barbar yang suka balapan ini sontak terkesiap, karena ia sudah kepergok ketika sedang mengagumi dan menikmati keindahan dihadapannya ini.
Seketika, istriku itu tertunduk malu. Bahkan rona kedua pipinya sudah semerah lobster rebus. Karena tidak tau harus menjawab apa, maka ia pun menarik kain selimut itu, hingga menutupi seluruh wajahnya.
Kelakuan, Mikha, tentu saja membuatku terkekeh hingga geli sekali. Aku pun menyibak kain selimut itu hingga perlahan menampakkan wajahnya yang cantik meskipun tanpa make up.
"Kenapa, hemm? Ketauan ya lagi terpesona sama suami sendiri?" tanyaku, yang seperti mendapat mainan baru. Senang hati ini melihat kedua pipi itu kembali bersemu merah. Ingin ku gigit saja rasanya.
Kedua matanya yang bulat itu pun mendelik seketika. Akan tetapi, sama sekali tidak membuat orang takut. Justru hal itu membuatku gemas dan ingin memakannya lagi.
"Eh, berani melototin suami nih? Hayo? dosa!" ledekku sengaja.
__ADS_1
"Ish, siapa," sahutnya dengan gaya memajukan bibirnya seraya membuang muka. Sepertinya istriku ini kura-kura dalam perahu.
"Hem, malah mancing," Aku terus menggodanya yang kini berada di sampingku.
"Di atas tempat tidur emang bisa mancing? Kok, Mikha baru tau ya?" sahutnya antara polos atau menggodaku.
"Bisa dong, mau tau gak bisa mancing apa?" tanyaku sambil memperhatikan ekspresi polos menggemaskan darinya, yang mana hal itu justru membuat hasratku kembali naik, sehingga ingin menerkamnya pada saat ini juga.
Bagaimana aku bisa tahan di buatnya, wajah polos itu dengan anak rambut yang menjuntai ke depan wajahnya. Dengan keadaannya yang masih tanpa sehelai benang, bahkan hanya tertutup oleh selimut.
Hingga aku bisa merasakan kulit kami yang saling bersentuhan. Bahunya yang mulus serta kulit putih bersihnya, membuat ku menelan ludah. Apalagi saat aku mengingat kejadian beberapa saat tadi.
Aku sempat merasa bersalah padanya, karena keinginanku. Akibat geloraku yang menggebu, ia sampai menjerit sekuat itu. Untung saja kamar ini kedap suara.
"Kak Roma, lagi mikirin apa sih? kok senyam-senyum sendiri?" tanya wanita cantik milikku, yang masih betah berada di bawah selimut bersamaku. Aku bahkan tidak tersadar jikalau sudah mengulum senyum sejak tadi. Aku pun langsung menoleh padanya, sekalian mencuri ciuman pada bibirnya sebentar.
"Morning kiss! Kayak, yang di novel yang suka kamu baca itu atau drama Korea deh," ucapku, sembari tertawa kecil setelahnya karena sedikit merasa lucu.
Eh, dia merem dong, hemm ... mau lebih dari sekedar kecupan nih kayaknya. Berhubung sudah dapat lampu hijau, maka ... gasss!
Aku pun melanjutkan aksi cium-mencium, tujuanku masih pada satu bagian itu dulu, karena belum puas dan selalu membuatku tidak bisa berhenti bermain-main di sana.
Sensasi manis, hangat dan basah itu, membuatku candu. Bagaikan menyesap buah stroberi yang ranum dan masak. Manis dan ahh ... aku tak menemukan satu kosakata pun untuk dapat mendeskripsikan apa yang sedang kurasa saat ini.
Aku, faham sekarang. Ia sangat menyukai itu.
Satu tangannya mencengkeram pinggangku, ketika aku mencoba untuk semakin menyesap dan membelitnya. Cengkeraman dari Mikha, sukses membuat seluruh otot ku menegang, terutama yang di bawah sana. Sebenarnya sudah sejak tadi sih.
Mikha mulai lancar, membalas pagutan demi pagutan yang ku berikan. Permainan, kami pun semakin menuntut lebih, udara semakin terasa panas, terlihat dari bulir-bulir keringat yang mulai menetes dari tubuh yang bagai bayi baru lahir ini.
Padahal, suhu AC di dalam kamar ini sudah sangat dingin.
Aku melepas tautan kami untuk sesaat, menatap ke dalam bola matanya, mencari sesuatu yang membuat hatiku bergetar hebat kala menatapnya. Ya, aku melihat ia, juga menginginkan apa yang juga aku dambakan saat ini.
Karena itu, dengan penuh kepercayaan diri, aku bertanya. "Aku, mau sarapan ya, boleh?" tanyaku dengan ambigu.
"Eh!"
Mikha langsung mengernyit heran. Oh, istriku ... kau menggemaskan sekali.
"Berarti kita ke bawah, atau gimana? Aku telepon koki di aja ya ?" jawabnya, membuat ku ingin menggigit kembali bibir penuhnya itu.
__ADS_1
Emang, dia gak liat apa mataku yang sudah berkabut, suara yang sudah serak karena menahan hasrat?
Haish, sungguh tak peka. Atau memang dirinya sedang mengerjaiku saja.
"Aku mau sarapan disini, di atas kasur ini!" ucapku sarkastis.
"Ya udah, Kakak turun dulu. Aku mau pesan lewat telepon itu, lalu--"
Aku pun membungkam bibirnya dengan ... ya kalian pasti taulah ya. Udah gemes banget aku.
Aku juga sudah tak tahan, dirinya cerewet sehingga bibirnya itu terus bergerak lucu.
Tak ayal, karena perbuatanku itu, kena cubitlah perut kotak-kotak ini.
"Aww," rintihku pelan, pura-pura sebenarnya.
"Kenapa, di cubit si? udah gak cinta ya?" aktingku seakan merajuk. Siapa tau setelah ini di elus atau di cium.
"Hish, salah sendiri, istri lagi ngomong udah di patuk aja. Macam ular!" kesalnya, dengan memajukan bibirnya. Kan, mancing lagi itu namanya.
" Oh, suami sendiri di samakan dengan ayam. Jahatnya!" Aku pun menarik hidungnya yang mancung. Kemudian, mendusel hidung ku disebelah pipinya yang berisi.
"Ck, katanya mau sarapan. Awas dulu sana!" Seketika, Mikha hendak bangun, dari posisi yang sangat menguntungkan buatku ini.
Eits, aku menarik nya lagi, hingga kini ... dada polos kami bersentuhan. Membuat desiran itu bagai kan aliran listrik, yang menyengat langsung ke ujung paku bumi.
Kedua mata kami saling bertatapan, karena jarak yang tanpa kami sadari telah semakin terkikis. Hingga deru nafas hangatnya menyapu kulit wajahku.
"Iya, emang mau sarapan. Tapi, sarapannya itu kamu, sayang," kataku dengan suara yang sudah semakin serak, karena sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi mengendalikan serdadu perkasa, yang kalian tau, dirinya pun sudah siap sedia, ingin menggempur benteng lawan sejak tadi.
Aku melihat respon yang ku inginkan dari matanya, dan ... akhirnya aku pun memulai untuk mengulang kehangatan sebelumnya.
"Kak ...."
"Aku janji, kali ini rasanya tidak akan sesakit tadi," kataku yang seakan tau apa yang ingin di katakan oleh istriku ini. Ia pun mengangguk tanda mengerti.
Bahagianya melihat dia menurut seperti ini.
Tak lama, suara indah itu pun kembali mengalun dari bibir bidadariku bersama desah dan deru napas kamu yang saling bersahutan.
Menyatu dengan peluh yang membanjiri tubuh, yang entah kapan telah melakukan penyatuan kedua hari ini.
__ADS_1
Tak ada lagi rintihan sakit itu, yang ku dengar hanya suara indah nan merdu yang mengalun dari bibirnya. Mengartikan, jika ia pun saat ini telah merasakan sensasi kenikmatan yang membawa kami melayang.
...Bersambung....