Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#56. Solat Sunnah Pengantin.


__ADS_3

"Aduh! Aduh ... Ya Allah! Jantung Mikha, deg-degan ini. Gimana nantinya ya, kok jadi gemeteran?" gumam  Mikha pelan di balik pintu kamar mandi yang di tutup rapat olehnya.


Sementara di atas kasur king size, Roma  tengah tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan ekspresi Mikha yang merona dan malu-malu tadi.


Membayangkan ciuman tadi sambil memegangi bibirnya sendir. Roma melenguh kecil lalu terkekeh geli. Sampai-sampai, ia menutupi wajahnya dengan bantal hotel yang empuk, berharap gelak tawanya tak terdengar cicak yang mungkin bersembunyi di balik plafon.


Pria maskulin ini langsung mendudukkan tubuhnya, membuka piyama handuk itu dan melemparnya asal. Sepasang mata hitamnya memandang tak berkedip pada pintu kamar mandi.


Roma menunggu.


5 menit.


10 menit.


"Huft! Kenapa, dia lama sekali." Roma berjalan mondar-mandir dan berakhir kembali ke atas kasur yang empuk dan kembali merebahkan tubuh tegap nan gagahnya, lalu mencoba memejamkan matanya sebentar, tetapi ...


Klek.


Suara pintu di buka.


Roma langsung membuka kedua matanya. Ia langsung bangun dengan reaksi kaget pada saat menatap ke depan


Seketika ... aroma sabun yang wangi menggelitik indera penciumannya.


Saat itu juga pandangannya terfokus pada sosok cantik yang segar berseri. Dengan rambut yang masih sedikit basah dan wajah natural tanpa make up.


Roma menatap Mikha tanpa kedip, tubuh tinggi langsing nya kini hanya terbalut dengan handuk kimono. Membuat Roma langsung menerka-nerka bagaimana bentuknya.


Kepala dan rambut yang selama ini tertutup, kini tergerai indah. Betis dan lengan serta leher jenjang yang selama ini terbungkus. Telah terpampang jelas menampilkan keindahan, yang seketika mendatangkan aliran dan sengatan dalam diri pria tampan dengan rahang berbulu halus ini.


Pikiran Roma yang sudah bermain kemana-mana, mulai membangunkan sesuatu yang selama ini tertidur. Sesuatu tiba-tiba tegak meskipun bukan keadilan.


Membangunkan gelora yang sepanjang usia nya ia tahan. Gairah yang di paksa nya untuk hibernasi panjang, kini telah bangkit menuju kebebasan.


Di tetap sedemikian rupa oleh pria yang sudah sah menjadi suaminya di atas tempat tidur nyatanya membuat Mikha tertunduk malu menutupi rona di kedua pipinya.


Saat ini Mikha paham bahwa suaminya itu menginginkan kesadarannya terhadap kewajiban itu.

__ADS_1


"Sini!" panggil Roma agar Mikha mendekat ke arahnya. Ia tau gadis itu malu karena dapat ini Roma bertelanjang dada.


Akan tetapi, lambat laun pun Mikha harus terbiasa melihat tubuhnya. Gadis itu harus berani demi kewajiban yang selama ini Roma nantikan sebagai haknya.


Mikha memberanikan diri untuk mendekat karena memang sudah seharusnya ia menurut bukan. Semakin menunda maka pikirannya tak bisa tenang.


Pada saat Mikha telah berada di depan Roma, maka pria itu langsung membawa sang istri ke atas pangkuannya.


Mereka kembali berciuman mesra dalam rengkuhannya hangat Roma yang sudah tak tahan, menciumi aroma harum pada rambut dan tubuh itu.


Hingga ia menarik tubuh Mikha semakin dekat dengan kulitnya. Mikha bergerak tak bisa diam karena merasa risih pada saat ia berada di atas pangkuan suaminya saat ini.


Dengan hanya terbungkus handuk kimono mini. Hingga, mempertunjukkan paha mulus nya yang aduhai indah. Apalagi, sejak tadi tangan Roma sudah sibuk mengelusnya, sampai bulu kuduk Mikha meremang seketika.


"Mikha ... Kamu, gak keberatan kan kalau aku minta hak ku sekarang? tanya Roma dengan kilat gelora yang nampak dari tatapan mata hitamnya. "Tetapi, aku gak mau maksa kalau kamu masih gak mau," tambahnya lagi.


"Um, Mikha ma–mau dan siap. Tapi ... kakak gak lupa kan sunahnya apa?" tanya Mikha mengingatkan suaminya akan ritual yang harus di lakukan sebelumnya.


Sepertinya Roma sudah keburu oleh napsunya sehingga ia melupakan hal yang penting.


"Astagfirullah! Kamu bener, tapi tau darimana?" tanya Roma heran.


"Um, Mikha pernah baca di novel religi romance," jawabnya jujur.


"Bagus, ada manfaatnya berarti bagi kamu. Karena apa yang kamu baca secara gak langsung udah ngasih kamu ilmu," kata Roma dan mereka berdua pun memutuskan untuk solat dua rokaat.


Selepas sholat. Roma kembali membawa Mikha ke atas tempat tidur. Kemudian, ia melafalkan doa untuk mencampuri istrinya. Merebahkan pelan, sang istri ke peraduan mereka. Lalu melebarkan selimut yang akan menutupi tubuh keduanya.


Mikha, memekik tertahan, ketika Roma membenamkan wajah ke bagian depan tubuhnya. Entah sejak kapan raganya keduanya kini telah polos bagaikan bayi yang baru lahir.


Roma saat ini semakin mengeratkan pelukannya, tangannya mulai aktif menyingkap segitiga bermuda sebagai penutup akhir dari mahkota yang sangat indah itu.


Meskipun dari dalam selimut, akan tetapi Roma dapat melihatnya dengan jelas. Sebab, ia tidak mematikan semua lampu kamar tersebut.


Roma ingin melihat dan merekam dengan jelas bagaimana bentuk tubuh indah wanita yang kini telah halal untuk ia pandang, ia sentuh dan ia nikmati.


"Kak Roma ...,"

__ADS_1


"Iyaa, sayang ...?"


Mikha terus meracau pada saat tubuhnya merasakan sensasi yang baru pertama ia kecap seumur hidupnya. Pikirannya kosong, rasa malu-malu yang beberapa saat lalu sempat melingkupinya. Kini, entah menguap kemana.


Pria ini benar-benar menikmatinya sekaligus juga memberi kenikmatan padanya saat ini. Sebab, bukan hanya mulutnya saja yang beraksi, namun jari-jemarinya juga mulai lihai merambah ke dalam hutan lindung yang masih tersegel itu.


Desah, racau dan jerit menjadi satu dan semakin tak terkendali. Hingga kedua tubuh dua insan yang telah halal ini, tanpa benang sehelai pun yang menutupi ini menyatu dan saling memeluk. 


Roma mengecup kedua mata Mikha yang basah. Menarik selimut agar tubuh mereka tertutup seluruhnya. Kemudian Mikha memejamkan matanya, tatkala bibir Roma menyesap bibirnya pelan dan semakin menuntut.


"Lakukanlah, Kak. Aku milikmu," kata Mikha.


Keduanya pun semakin memanas dalam alunan merdu serta irama decapan yang syahdu.


Sampai akhirnya pekikan Mikha pun melengking ketika gerbang hutan lindungnya terkoyak oleh kepala serdadu perkasa.


Roma semakin mendorong, meskipun perlahan sambil sesekali memberi kecupan di kening, mata dan bibir istrinya itu.


Mengucap maaf berkali-kali, karena ia tak mungkin berhenti saat ini. Meski pun, hatinya tak tega melihat air mata itu luruh membasahi kedua pipi mulus wanita yang telah utuh menjadi miliknya.


Akhirnya, Roma pun mempercepat ritmenya, ia tak tega dan ingin segera  menyelesaikan aksinya. Ia pun sampai pada titik ternikmat yang kebanyakan orang bilang surganya dunia. Begitu juga dengan Mikha.


"Terimakasih, sayang. Karena kamu telah mengizinkanku  untuk memberikan kewajiban sekaligus meminta hak pada mu," kata Roma sambil terus menciumi seluruh wajah istrinya.


"Terima kasih. Karena kamu telah menjaga dan mempersembahkannya untukku." Roma mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada wajah cantik yang sudah lemas itu.


"Aku suka kau memanggil ku seperti itu, sayang," lirih Mikha dengan mata terpejam.


" Kalau, begitu. Aku akan memanggilmu sayang mulai saat ini," sahut Roma yang kini telah bersandar pada kepala ranjang.


Mikha pun tersenyum, tak lama kemudian ia sudah hanyut dalam mimpinya.


"Kenapa langsung tidur? Ya sudah biar aku saja yang membersihkan." Kemudian, Roma pun  turun mencari waslap dan air hangat.


Seketika senyumnya mengembang, kala ia melihat bercak merah itu di seprai. Kemudian, ia membasuh dengan lembut pada daerah pribadi istrinya itu. Membersihkannya dari jejak percintaan mereka.


Setelahnya, ia kembali menutupi rapat sang istri dengan selimut. Karena, ia bukan hanya takut istrinya itu kedinginan. Tapi, ia juga takut jika keinginannya timbul lagi. Sementara, Mikha masih dalam keadaan teler seperti itu.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2