Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#48. Ada Penguntit.


__ADS_3

"Lu liat kan, kemaren Mikha masuk kedalam gedung itu lagi," ucap Ichi dimana ia dan saudari satu ari-arinya itu berada di koridor kampus.


Biasa, mereka berdua menunggu kedatangan Mikha dengan bergosip.


"Iya, ketemu siapa sih dia di sana. Abis liat ponsel langsung ngacir," timpal Ocha.


"Kan gue bilang, itu tuh si sana ada ruangannya pak dosen Roma. Ini tuh informasi dari sumber yang terpercaya," bisik Ichi karena ia tak mau pembicaraan mereka ini di dengar banyak orang.


"Sayangnya kita gak punya bukti secara langsung. Mau gak mau harus desak Mikha biar mau cerita sama kita berdua," kata Ocha gemas.


"Lu bener Ca. Awas aja tuh anak kalo sampe dia ada macem-macem sama dosen ganteng kita tapi diem-diem aja dari kita, uh!" gemas Ichi seraya menumbuk telapak tangannya sendiri.


"Lu berdua ngapain di sini?" tanya Mikha yang mana tentu saja langsung mengagetkan keduanya.


"Mikha!!" pekik Ichi dan Ocha serempak.


"Berisik ih! Demen banget jadi pusat perhatian sih!" kesal Mikha karena mereka bertiga langsung jadi pusat perhatian dari para mahasiswa yang lainnya.


Satu hal yang paling tidak di sukai oleh Mikha sendiri.


Karena itulah Mikha selalu berpakaian asal-asalan. Dalam artian tidak mengikuti fashion yang terbaru dan berkembang saat ini. Akan tetapi, sudah lebih baik dalam segi menutup aurat setelah gadis ini mulai menerima pernikahannya serta mau mengakui Roma sebagai suaminya sekalipun baru dalam hati saja.


"Wuih, makin cakep aja deh ah kawanku ini," puji Ichi pada saat melihat pakaian yang Mikha kenakan tak ada lagi yang sobek-sobek gitu baik di jaket maupun di celana jinsnya.


"Masyaallah gitu dong, Ci. Ini namanya perubahan yang baik," timpal Ocha yang terus tersenyum sambil mengusap pasmina Mikha yang mulai terjulur menutupi dadanya serta menutup kepalanya dengan sempurna. Tidak seperti tempo hari lalu yang hanya ia selempangkan begitu saja.


" Dah ah, mending kita ke kelas. Dikit lagi masuk tuh. Jangan ghibah Mulu kerjaannya!" ajak Mikha seraya menarik kedua tangan kawannya Ichi dan Ocha ini, lalu menyeretnya ke dalam kelas.


"Tumben nih anak semangat banget belajarnya," celetuk Ocha.


Mikha tak menyahut karena mereka berdua memang ada benarnya.


Setelah jam pelajaran selesai, Roma mengumumkan libur selama dua hari. Tentu saja hal itu menjadikan para mahasiswanya bersorak gembira.


"Weh, dalam rangka apa nih Pak dosen ngasih kita jatah libur?" heran Ichi sambil melirik ke arah Mikha yang nampak menyembunyikan senyum senangnya.


Gimana gak senang kalau Mikha lagi membayangkan kebahagiaannya besok.

__ADS_1


Roma akan mengajaknya berlibur dengan Umma dan Abi Annisa. Bahkan suaminya itu berjanji nanti malam akan menghubungi Adiba dan mereka akan bertatap muka untuk pertama kalinya melalui fitur Vidiocall.


"Iya nih, mana lama lagi tiga hari. Ngapain ya gue selama itu?" kata Ocha.


"Lu mau ngapain Mi, pas liburan? Kita jalan yuk!" celetuk Ichi dengan mata yang berbinar senang karena telah menemukan ide bagus.


"Nanti deh gue kabarin," sahut Mikha. Karena dirinya tak mungkin mengatakan kepada dua kawannya ini bahwa telah ada rencana untuk mengisi liburan.


"Bener ya. Kita kan belum pernah bikin acara bertiga. Lu selalu aja sama si Janet itu. Padahal udah jelas tuh anak dengki Ama lu!" kata Ocha menimpali rencana Ichi.


"Insyaallah, nanti aku kabarin," kata Mikha lagi.


Setelahnya Mikha jalan lebih dulu keluar dari ruang kelas, tanpa di sadari oleh kedua kawannya ini. Karena mereka saat ini sedang terkesiap akan ucapan dari Mikha barusan.


"Ca, gue gak salah denger kan? Mikha nyebut barusan, udah gitu bahasain dirinya baku banget lagi," kata Ichi heran sekaligus bingung akan perubahan yang terjadi pada diri sahabatnya itu dari hari ke hari.


"Iya sih, gue juga denger. Tumben banget tuh anak ngomong kayak gitu. Akhir-akhir ini juga udah jarang ngegas kalo ngomong kan?" timpal Ocha.


"Tapi, ngomong-ngomong tuh anak kemana, Ca?"


"Yah, dia kabur lagi!"


Tapi nihil, tak ada bekas jejak Mikha yang bisa di lacak oleh si kembar manis.


"Kita kehilangan dia lagi, Ca," keluh Ichi. Belum sempat gadis ini menelan ucapannya tiba-tiba ada seseorang yang merangsek maju dari arah belakang mereka.


"Lo berdua udah salah menilai si Mikha itu," celetuk Janet.


"Eh, Mak lampir ngagetin aja Lo ah!" kaget Ichi.


"Sialan Lo! Ngatain gue Mak lampir. Liat aja, Lo berdua tuh bakalan tau dimana sifat Mikha yang sebenarnya. Emangnya kalian berdua itu segitu berarti buat tuh cewek? Kagak lah! Gue aja yang sodaranya gak dianggap sama dia, apalagi kalian!" ujar Janet mulai meracuni pikiran di kembar manis.


"Eh, Lo pikir kita berdua bakalan percaya gitu sama kata-kata Lo! Sodara sirik bin dengki!" sarkas Ocha geram.


"Tau nih mak lampir. Dateng-dateng main pitonah orang aja!" timpal Ichi ikutan kesal.


Mereka berdua langsung berlalu menjauh meninggalkan Janet sendirian.

__ADS_1


Janet menghentak kakinya sambil mengumpat kesal.


"Awas aja Lo, Mi. Gue bakalan cari tau apa rahasia yang lagi Lo sembunyiin dari keluarga. Nenek bakalan tau kejelekan Lo dan wanita tua itu akan langsung membuang Lo dari daftar cucu kesayangannya," gumam Janet.


Pucuk di cinta ulama pun tiba. Ekor matanya melihat bayangan dari sosok yang ia cari. Hingga, terbitlah seringai licik dari bibirnya.


"Pak dosen tampan, tunggu aku," batin Janet.


Dengan tanpa suara gadis ini mengikuti langkah Roma hingga pria itu menyebrang ke gedung sebelah.


"Mencurigakan. Langkahnya begitu terburu-buru dengan kedua mata yang sesekali melihat ke arah ponselnya. Itu berarti dia ada mau ketemu sama orang lain," gumam Janet seraya terus mengikuti langkah Roma secara diam-diam.


Hingga aksi menguntitnya itu berakhir di sebuah lantai gedung dan Roma langsung masuk setelah pria itu menemukan sebuah pintu berwarna coklat gelap.


Tak mau menyia-nyiakan apa yang sudah ia lakukan sejauh ini, Janet terus berada di tempat itu untuk mengintai.


Janet mengumpat karena tak dapat mendengar apapun dari balik pintu dan hal itu membuatnya memutuskan untuk kembali bersembunyi di tempat semula.


Lima belas menit kemudian, pintu ruangan dosen tersebut pun terbuka dan yang mengagetkan Janet adalah sosok yang keluar dari dalam sana.


"Mikha?" herannya dalam hati.


Tatapan mata Janet terus mengikuti kemana arah saudara sepupunya itu melangkah.


"Gue gak nyangka ternyata lo ada main sama dosen kita ya Mikha. Gue pikir Lo cuek sama cowok cakep," gumam Janet dengan seringai sinis-nya.


Janet pun keluar dari persembunyiannya dan gadis ini dengan langkah mantap, nampak percaya diri untuk menghampiri ruangan tersebut.


Toktok!


Tanpa menunggu jawaban Janet langsung masuk. Di dalam ruangan itu ia dapati sosok Roma membelakangi pintu.


"Kok balik lagi, Mi. Apa ada yang ketinggalan?" tanya Roma lembut dengan disertai senyum seraya berbalik cepat. Dan, alangkah kagetnya karena yang ia dapati bukanlah sosok Mikha yang kini berada di hadapannya.


"Kamu!"


Janet sontak tersenyum penuh arti.

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2