
⛔⛔⛔ WARNING!!! YANG GAK KUAT BOLEH SKIP AJA ⛔⛔⛔
Setelah membantu Angel membersihkan tubuhnya dan juga menyuapi Angel makan, Gue, Richard, Bang Blue dan Uwak berangkat ke markas.
Hari ini adalah hari terakhir Wong dan Sarah bisa menghirup oksigen di sekitar mereka.
Gue lihat paha Wong yang terluka sudah ditutupi perban. Sedang Sarah, tidak ada yang berani menyentuhnya tanpa perintah gue ataupun Uwak.
Darah yang mengalir dari bibirnya sudah mengering menyisakan bau anyir khas darah di ruangan itu.
"Lepas aku!" Wong mendekati kami yang duduk diluar jangkauan rantainya. Wong menarik rantainya dengan kuat berusaha melepaskan ujung rantai tapi itu tidak akan terjadi, karena ujung rantainya tertanam kuat dilantai.
"Bunuh saja aku! Lakukan dengan cepat!" Hardik nya lagi.
"Kematian lu itu udah pasti, bangs*t. Tapi sebelum ini gue akan kasi lu bekal buat ku bawa ke alam baka."
"Sayang, kamu yakin mau melihat ini?" Richard memeluk gue dari belakang.
"Liat tempat, woi!" Bang Blue gak terima melihat kemesraan kami.
Uwak hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kami. "Berikan minumannya." Perintah Uwak.
Penjaga memaksa Wong untuk menghabiskan minuman yang sudah kami semua siapkan. Penjaga Uwak jangan ditanya mereka tidak punya hati. Sesedih apapun kamu memohon ampun, tanpa perintah Uwak Madin mereka tidak akan berhenti.
"Apa ini?! Uhuk! Uhuk! " Wong minum hingga tersedak. Kesombongan Aki tua ini belum hilang rupanya.
"Minuman yang sama seperti yang kamu berikan pada keponakanku." Wajah Uwak terlihat datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Apa?! Kalian kira minuman seperti itu bisa membunuhku?!" Ais... pak tua ini belum paham juga.
Tidak ada satupun dari kami yang menjawab Wong. Kami semua menunggu obat itu melakukan tugasnya.
"Bawa dia masuk." perintah Uwak saat melihat tubuh Wong mulai bereaksi.
Wong mulai gelisah, keringat mulai membasahi wajahnya. Tak lama, anak buah Uwak membawa masuk seorang wanita dengan pakaian minim.
Uwak menodongkan pistok ke arah wanita itu, "Lakukan tugasmu dengan baik, maka aku akan mengampuni nyawamu." Uwak Madin sudah berada dalam mode serigala nya.
"Live show? Sialan! Harusnya gue gak usah ikut. Habis ini gue lampiasin kemana? Gue jomblo, sat!" Blue tidak segan memaki Madin.
"Sabun." Jawab uwak dan Richard bersamaan. Jawaban yang membuat gue tergelak.
"Sialan lu!" Bang Blue memilih keluar.
Tiba-tiba Richard berdiri didepan gue dan menghalangi pandangan gue. "Appa... "
"Aku tidak mau kamu melihat tubuh laki-laki lain sayang." Gue hanya bisa membuang napas ke udara. Sempat-sempatnya dia cemburu disaat seperti ini.
Entah apa yang terjadi karena Richard benar - bener menghalangi pandangan gue. Gue hanya mendengar suara Wong yang memohon untuk dipuaskan.
Setelah gue bisa mendengar suara desahan Wong, sepertinya ia sangat menikmati permainan wanita dibawa Uwak.
"Lakukanlah." Uwak menyerahkan pisau lipat pada Richard.
"Sarung tangan." Richard memakai sarung tangan dikedua tangan nya.
__ADS_1
"Sayang, jangan lihat, berbaliklah. Aku akan melakukannya dengan baik."
"Aish cepat sebelum larvanya menyembur." Uwak mengingatkan.
Richard tidak lagi membantah, dibiarkannya gue melihat apa yang akan ia lakukan.
Richard menepuk pundak wanita yang sedang bermain dengan perkutut tua Wong. Meminta wanita itu segera pergi.
"What the..." Wong tampak kecewa.
"Kau tahu Wong apa yang paling menyebalkan bagi seorang pria? Permainan berhenti saat kita dipuncak gairah."
"Aaahhhh!! Apa yang kamu lakukan, Rich? Lepaskan aku bangs*t!" Wong meraung saat Richard memegang perkutut nya.
Dua penjaga maju untuk memegangi Wong agar tidak bergerak.
Ssrrettt! Ssreett!! Richard memotong perkutut Wong perlahan seperti memotong daging steak. Dia membuat ini tidak mudah untuk Wong. Memberikan kesakitan luar biasa dan sangat menyiksa bagi Wong.
Wong berteriak histeris, darah membasahi tangan Richard sampai akhirnya Richard berhasil memutus kebanggaan Wong itu.
Wong pingsan karena tidak kuat menahan sakit. Sedang Sarah sedari tadi sudah berjongkok dipojok ruangan.
"Lempar dia untuk makanan Betty dan Bunny." perintah Madin. Walaupun namanya mereka lucu Betty dan Bunny jangan pikir mereka selucu nama mereka.
Richard membuka sarang tangannya. Menyambar bibir gue dan menyesapnya. "Setelah ini kita harus membersihkan mata mu, sayang."
"Maaf, Appa. Kamu masih harus puasa." mengingat beberapa hari yang lalu gue baru saja dikuret.
__ADS_1