
"Gimana nih, keluar gak ya?" gumam Mikha yang masih sibuk berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Tak lama hidungnya mencium aroma masakan yang menggugah selera.
"Pasti, cowok itu lagi masak deh. Kenapa pinter banget sih jadi laki-laki. Cocok banget maen di dapur. Jadi dosen juga pas, karena pembawaan tegas juga penyampaiannya lugas. Kenapa bisa sempurna banget sih dia jadi laki-laki. Mana gak pernah marah sama gue, gimana mau nyari gara-gara kalo kayak gini!" gumam Mikha yang kini sudah meletakkan bokongnya di pinggiran tempat tidur.
Gadis berambut panjang sepinggang itu masih kebingungan antara mau keluar kamar atau tidak. Hingga, Mikha tak tahan juga dan ia pun mengintip apa yang di lakukan oleh Roma.
Lelaki itu, nampak santai dengan stelan kaos dan celana bahan selutut. Tangannya asik menari di atas penggorengan. Hingga aroma, yang menggugah selera pun menggelitik lambung Mikha.
"Aih, tu cowok masak apa sih? Kayaknya enak banget, bikin perut orang keroncongan aja," gumam Mikha pelan.
Gadis itu seketika bersembunyi di balik dinding pada saat Roma menoleh ke arah pintu.
"Ketauan gak nih. Lagian lu ngapain sih Mi, segala ngintipin orang masak," gerutunya dalam hati, menyesali perbuatannya yang konyol ini.
Sementara itu, Roma yang telah mencurigai keberadaan Mikha hanya bisa menyembunyikan senyumnya.
Mikha sudah kabur lagi masuk kedalam kamar pada saat Roma hendak keluar dari dapur. Sebelum magrib menu masakan yang lelaki itu olah telah siap di atas meja.
Roma kembali masuk kedalam kamarnya untuk bersiap solat magrib.
"Sepertinya aku harus mengajak Mikha solat berjamaah mulai sekarang," batin Roma yang mana hal itu menuntun langkah kakinya hingga tanpa terasa ia telah berada di depan kamar istrinya itu.
Statusnya istri tapi tidurnya terpisah. Sungguh pernikahan yang miris.
Roma mengetuk pintu sekali dan tak ada jawaban. Sementara adzan sudah selesai dan iqomah sebentar lagi.
Roma pun mengangkat tangannya di saat ini, tepat di depan pintu kamar mikha. "Ya Allah, ku mohon lembutkanlah hati perempuan yang aku nikahi ini. Berikanlah, aku petunjuk untuk dapat mengambil hatinya, Aamiin," ucap Roma pelan, setelah itu ia mengusap wajahnya.
Tak lama pintu pun di buka dan nampaklah sosok gadis cantik natural yang telah mengenakan mukenanya. Roma seketika tersenyum melihat wajah yang biasanya menatap ia dengan ketus kini terlihat teduh menenangkan.
"Ada apa?" tanya Mikha singkat.
"Solat berjamaah yuk," ajak Roma singkat juga.
"Oke, tunggu aku ambil sajadah dulu," kata Mikha seraya masuk kamar lalu tak lama keluar dengan sajadah pemberian dari Roma pada saat mereka menikah beberapa hari yang lalu.
Roma kembali tersenyum tanda bahagia. Setidaknya Mikha ini masih mau mengerjakan kewajibannya sebagai muslim dan mau mengenakan barang pemberian darinya.
__ADS_1
Roma menggeser kursi sofa kemudian menggelar sajadah di ruang tamu tersebut. Berdiri menghadap kiblat dan mulai khusuk untuk memulai ibadah wajib ini.
"Allahuakbar!"
Ketika Roma mengucapkan takbir, pada saat itu juga sesuatu terjadi secara cepat di dalam diri Mikha. Hingga, gadis ini mengikuti setiap gerakan serta bacaan solat sang imam dengan khusuk hingga selesai.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku tiba-tiba ingin menangis?" batin Mikha yang tanpa ia sadari air mata itu kini meluncur deras di wajahnya.
Roma yang telah selesai berdoa pun mau tak mau menoleh ke belakang pada saat dirinya mendengar suara Isak yang di tahan.
Mikha pun buru-buru mengusap air mata serta menyudahi aksi mellow-nya itu. Tak lama ia hendak berdiri dan melipat sajadahnya.
"Mikha," panggil Roma.
"Iya," jawab Mikha yang menoleh sesat lalu kembali lagi ke posisi semula.
"Mikha," panggil Roma sekali lagi.
"Iya apa sih!" ketus Mikha, seraya menatap Roma dengan tatapan matanya yang tajam.
Gadis itu pun sontak mengerutkan keningnya. "Ngapain?" heran Mikha polos.
Roma tersenyum dan dengan sabar ia menerangkan apa maksudnya. "Kamu harus mencium punggung suami mu ini. Biar berkah," kata Roma.
Tanpa penolakan pun Mikha terlihat maju lalu meraih telapak tangan Roma tanpa bertanya lagi. Oh, mudah sekali? Tumben nih.
Akan tetapi, keduanya tiba-tiba terdiam pada saat kedua telapak tangan mereka bersatu untuk kedua kalinya. Karena saat pertama kali adalah setelah ijab qobul malam itu. Dimana kali pertama juga bagi Mikha mencium tangan Roma.
Perasaan aneh seketika hadir menciptakan gelenyar aneh dalam diri keduanya. Hingga tanpa sadar, kedua tatapan pun saling beradu dalam sekejap. Hingga, Roma tersadar dan berkata, "Aku tunggu kamu di meja makan setelah ini."
Mikha pun langsung mengangguk dan selalu pergi masuk kembali ke dalam kamarnya.
"Ya Allah, Umma. Doakan anakmu ini agar sabar ya," gumam Roma.
Beberapa saat kemudian terlihat pasangan suami istri yang jangan sekali bicara ini tengah makan malam berdua.
Roma sesekali terlihat melirik ke arah Mikha dan gadis itu menyadarinya. Tak seperti biasa pada saat mendapat tatapan seperti itu, hati Mikha yang sebelumnya acuh dan cuek kini merasa gelisah.
__ADS_1
Mikha yang biasanya makan dengan asal kini terlihat menjaga sopan santunnya. Hingga, tak terdengar suara sekecil apapun termasuk gerakan sendok yang beradu di piring.
Keduanya makan dengan tertib atau penuh tekanan?
Ah, mungkin bukan tekanan tetapi nampak grogi. 😁
"Mikha, nanti solat isya kita berjamaah lagi ya. Setelah itu, aku ingin mengajak kamu nonton DVD gimana?" Roma membuka percakapan diantara mereka tapi berujung di kacangin sama Mikha.
"Apa-apaan dia? Masa hari gini ngajak nonton DVD. Apa dia gak punya modal buat ke bioskop?"batin Mikha yang masih diam tak menjawab karena gadis ini masih setia menunduk.
"Kamu gak suka ya? Kalo gitu boleh dong apa yang kamu suka," kata Roma selanjutnya, berniat memancing obrolan.
Benar saja, Mikha mendongakkan wajahnya dan mulai membuka bibirnya.
"Aku suka balapan dan nonton Thai boxing," jawab Mikha tenang. Akan tetapi, nyatanya membuat Roma keselek seketika.
Uhuk, uhukk!
"Minum." Mikha menyodorkan air putih. Roma pun langsung meraihnya cepat hingga jemari keduanya bersentuhan tanpa sengaja.
"Maaf," kata Roma.
"Ngapain nanya-nanya?"
"Cuma mau tau aja. Emang gak boleh ya? Lagipula kita ini sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Apa kita mau begini terus Mikha. Serasa orang asing padahal tinggal dalam satu atap?" pancing Roma lagi berusaha mencari tau apa yang Mikha rasakan.
"Kita memang orang asing dan tak saling mengenal sejak awal. Lalu, atas alasan apa kita harus mengubah itu? Memang apa manfaatnya?" cecar Mikha balik.
"Setidaknya dengan bicara maka, kita akan saling mengenal. Itu penting, agar diantara kita berdua tidak ada yang saling mencurigai. Aku, jika suka liat balapan motor, malam ini boleh kan aku ikut kamu?"
Sontak pertanyaan Roma barusan membuat Mikha yang gantian tersedak.
Uhukk!
"Apa!"
...Bersambung ...
__ADS_1