Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#7. Hari Pertama Ke Kampus.


__ADS_3

Mikha sampai di kampus dimana ini adalah hari pertama ia belajar. Setelah lebih dulu mengikuti beberapa sesi ospek sebelumnya.


Hingga, Mikha mendapatkan musuh pertamanya di tempat ini.


"Woi, guys. Itu Mikha!" ujar salah satu gadis yang merupakan kenalan Mikha sejak mereka sama-sama di ospek beberapa hari lalu.


Komplotan yang berbeda dengan yang mengajak Mikha mabuk beberapa malam lalu hingga ia berakhir di nikahi oleh pria asing yang di duga telah melecehkannya.


"Mikha!" panggil Ichi dan Ocha, si kembar identik yang mana mengambil kelas yang sama di kampus tersebut.


"Ngapain sih Lo berdua udah seriosa aja pagi-pagi gini!" protes Mikha seraya memasang wajah datarnya.


"Eh kita ke kantin yuk. Ada yang mau gue tanyain sama Lo," kata Ichi.


Tiba-tiba ...


Puk!


Ocha memukul lengan Ichi saudarinya satu kandung sekaligus satu ari-ari itu, hingga sang kembaran meringis campur kesal.


"Lo lupa ya, kalo hari ini tuh pertama kita ngampus dan belajar. Sekalian perkenalan sama dosen. Lo malah ngajak bolos gimana sih!" omel Ocha pada sang adik yang selisih lima menit je tu.


"Ye kirain kita masuk siang, Ocha!"


Mikha pun hanya bisa menghela napasnya, kala melihat kelakuan teman-temannya yang sama pada saat di sekolah menengah atas.


Si kembar gadis feminim ini adalah sahabat Mikha kala SMA. Mereka memang memutuskan untuk kuliah di universitas yang sama. Bahkan mengambil jurusan yang sama pulak.


Ichi dan Ocha sedikit merapikan pasmina mereka saat keduanya masuk ke dalam kelas yang sudah ramai ini.


Tetapi tidak dengan Mikha yang memang hanya sekedar menutupi kepalanya asal, lalu melingkarkan pasmina itu di lehernya dengan tetap tidak menutup sebagian auratnya itu.

__ADS_1


Bahkan, Mikha mengenakan sweater yang longgar dan celana jeans yang sobek di sana-sini.


Ichi dan Ocha hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat style kawannya ini tak juga berubah sejak SMA.


"Lo berdua gak usah ngeliatin gue! Dan jangan krisan dandanan gue ngerti!" kecam Mikha yang seakan tau apa arti tatapan kedua kawannya ini.


Baginya mereka hanyalah kawan dan tak berhak mengatur apapun yang ada pada dirinya atau apa yang ingin ia lakukan. Jangankan hanya kawan, bahkan pria yang sudah berlabel suaminya itu saja seakan tak memiliki hak apapun pada dirinya.


Mikha tak suka di atur.


Dulu, gadis ini tak begitu.


Mikha sempat mengenyam pendidikan di pesantren ketika usianya beranjak remaja. Kemudian Mikha pindah sekolah SMA negeri karena akan tinggal bersama dengan sang nenek.


Pada saat itulah semua karakter dan pembawaan Mikha yang lembut dan ceria itu hilang. Berganti dengan sifat yang keras lagi sudah di atur.


Keadaan kelas yang ramai karena terdengar beberapa pria menggoda Mikha pun seketika diam. Karena pada saat ini terdengar ketukan dari sepatu yang beradu dengan lantai marmer.


Suara itu semakin dekat seiring dengan sosok tinggi tegap yang masuk ke dalam ruang kelas mereka.


"Ya Allah. Seriusan dia dosen kita!" Ocha pun akhirnya bersuara setelah sepersekian detik terpaku.


Mikha yang sedang memainkan ponselnya, seakan cuek dan tak peduli siapa yang datang kedalam kelas. Lama-kelamaan, suara kasak-kusuk yang cukup mengganggu telinganya itu terutama dari kedua kawan yang mengapitnya ini membuat Mikha penasaran juga.


Siapa sih dosen mereka sampai semua penghuni kelas speechless seperti itu?


Mikha dengan malas mendongakkan wajahnya dan mengarahkan kedua manik matanya untuk menatap ke depan.


Pada saat itulah, kedua bola matanya membulat sempurna dengan napas yang seketika macet di tenggorokan.


Uhukk ... uhukk!

__ADS_1


Mikha sontak tersedak ludahnya sendiri. Pada saat mata kepalanya menerima sebuah kenyataan bahwa lelaki yang saat ini berdiri di depan kelas adalah ...


"Roma."


Mikha hanya bisa membatin karena lidahnya mendadak kelu.


Roma mengedarkan pandangannya hingga, sepersekian detik kemudian Roma dan Mikha pun sejajar dalam tatapan mereka.


Akan tetapi Roma abai dan tetap pada ekspresinya semula. Tak ada kesan kaget atau terkejut. Lelaki itu seperti tidak mengenali gadis yang menatapnya tanpa kedip itu.


"Mikha ..."


"Woi, Mikha!" panggil Ocha seraya mengguncang bahu gadis berbibir seksi ini.


"Apa sih lo Ca!" tukas Mikha.


"Terpesona juga kan Lo? Tadi aja sok cuek," ledek Ocha kembali menyenggol lengan Mikha dengan siku tangannya.


"Kagak! Siapa juga yang terpesona!" bantah Mikha seraya menoleh kembali menatap layar ponselnya.


"Hilih, Mi ... udah aja sih ngaku. Tuh dosen cakep bener dah, mana masih muda. Kalo gak mau tar gue aja deh yang gebet, Lo jangan nangis yak!" goda Ocha lagi sementara Ichi masih senyum-senyum sendiri dengan khayalannya.


Mikha diam tak menggubrisnya. Dirinya tengah mengontrol degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak karuan.


Setengah mati berusaha menutupi perasaannya yang benar-benar terkejut akan apa yang tampak di depan matanya saat ini.


Suaminya.


Ya, pria yang menjadi suaminya sejak kemarin tiba-tiba menjadi dosen di kampusnya dan mengajar bidang studi yang ia ambil selama satu tahun ajaran ke depan.


Itu artinya, sepanjang hari maka dirinya akan melihat lelaki itu di kampus maupun di rumah. Itu artinya lambat-laun kawan-kawannya dan juga yang lain akan tau bahwa dirinya telah menikah.

__ADS_1


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" batin Mikha menjerit.


...Bersambung ...


__ADS_2