
Mikha meninggalkan Roma di dapur dan memutuskan untuk kembali kedalam kamar. Berpikir apa yang ia bisa perbuat. Alangkah kagetnya gadis itu ketika melihat kamar suaminya juga sudah nampak rapi.
"Ih dia mah. Semuanya aja di kerjain sendiri. Enak banget dong aku jadi istri," gumam Mikha seorang diri.
Seketika pikirannya pun menerawang, apakah sang ayah juga dulu memperlakukan hal yang sama kepada ibunya? Seingat Mikha, Rudi adalah pria yang lembut dan penyayang.
Sejak kecil pria itu selalu mengajaknya bermain dan jalan-jalan. Mikha merasa telah terlalu keras dan kejam dengan mengatakan jika ayah adalah laki-laki yang tak punya hati. Hanya karena keterangan dari sang nenek, ayahnya yang memiliki andil terbesar sehingga sang ibu pergi dari rumah.
"Aku harus cari tau yang sebenernya. Sebelum aku membenci orang yang salah. Ya, seperti kata Kak Roma," gumam Mikha.
Perlahan mata hatinya seakan terbuka, karena lambat laun ingatannya sejak kecil kembali. Menggambarkan akan kebaikan sang ayah serta perlakuannya yang hangat.
"Loh, ternyata kamu di sini. Kirain tadi ke balkon?" kata Roma yang kehadirannya membuat Mikha sedikit kaget.
"Aku, rencananya cuma mau merapikan kamar. Tetapi nyatanya sudah rapi," jawab Mikha dengan senyum sekilas.
Roma pun ikut duduk di samping tempat tidur pada sisi yang lain. "Maaf ya, bukannya maksud aku tidak menghargai kamu atau apapun yang mau kamu lakukan terhadap kediaman kita ini. Tetapi, aku telah terbiasa sejak lama melakukan semuanya sendiri tanpa mengandalkan orang lain," jelas Roma yang mana membuat Mikha menatapnya intens.
"Mulai saat ini, berbagilah tugas denganku. Meskipun, sudah ada asisten rumah tangga. Setidaknya ajarkan aku untuk bersih-bersih dan juga memasak," kata Mikha.
Roma tersenyum lebar sebelum ia menjawab.
"Mikha yang manis. Bagi aku, yang berkewajiban melakukan semuanya adalah suami. Semua ini adalah kewajibanku. Karena aku merasa tak mampu melakukannya sendirian maka itulah menggunakan jasa asisten rumah tangga. Tetapi, kalau untuk memasak dan sekedar merapihkan kamar saja aku bisa dan ada waktu," jelas Roma.
Mikha mengerutkan keningnya bingung.
"Lalu, tugas Mikha apa?" tanyanya polos. Iya dong, bingung. Semua pekerjaan sudah diambil alih orang lain lalu apa tugasnya sebagai istri. Wajar kan Mikha bertanya seperti itu?
Secara dirinya baru berusia delapan belas tahun, belum lama lulus SMA. Tapi, sudah di hadapi dengan urusan serta kewajiban seorang istri dalam bahtera rumah tangga.
__ADS_1
Untung saja Allah memberikannya suami yang berasal dari keturunan keluarga Choki Zakaria dan Annisa Meizani. Sehingga dapat membimbingnya yang belum tau apa-apa ini.
"Kamu mau tau tugas kamu sebagai seorang istri itu apa?" tanya Roma dengan alis terangkat dan bibir melengkungkan senyum.
"Cepat katakan. Dan jangan memasang wajah seperti itu!" kecam Mikha. Dimana hal itu lantas membuat Roma tergelak.
"Dih, malah ketawa!" kesal Mikha, karena pertanyaannya serius dan tidak di jawab dengan serius pula.
"Kalau begitu sini, biar aku jelaskan," titah Roma yang memerintahkan pada Mikha agar mendekat padanya.
Mikha pun menurut, kemudian berjalan mendekat dan kini duduk di depan Roma pada sisi tempat tidur yang sama.
"Dengar ya Mikha yang manis. Tugas seorang istri itu hanyalah melayani suaminya. Menyenangkan hatinya serta memuaskan birahinya. Itu tugas seorang istri yang sesungguhnya. Tetapi, bukan berarti karena hal ini dang suami boleh menggaulinya tanpa jeda waktu atau seenaknya. Tetap, hal yang utama adalah perlakuan pasangan kita dengan baik dan manusiawi," jelas Roma dengan tegas dan rinci.
Mendengar itu, Mikha langsung menunduk.
"Maaf," cicitnya.
"Terimakasih. Kak Roma sudah mau mengerti aku. Hanya saja Mikha saat ini jadi merasa sebagai istri yang tidak berguna. Semua hal telah Kakak lakukan dan aku hanya--" Mikha tak meneruskan kata-katanya karena merasa sedikit bersalah.
Roma mencoba memberanikan dirinya untuk mengelus kepala Mikha. Dengan senyum dan tatapan mata hangatnya dia mengembalikan kepercayaan diri istri kecilnya itu.
Roma kembali memberi pengertian pada istrinya bahwa Mikha sebaiknya fokus untuk belajar saja. Bahkan Roma menawarkan kepada gadis di hadapannya ini agar mau bertanya apapun padanya mengenai pelajaran. Ia akan dengan senang hati membantu dan memberi les privat kepada Mikha.
Roma juga membicarakan mengenai keinginan sang Aby kepada istrinya.
"Boleh, ayok kita staycation!" pekik Mikha girang.
"Aku sudah bilang sama Aby, kemungkinan libur hanya hari Ahad. Gak mungkin kan kita cuma sehari. Karena itu aku akan meminta cuti awal ke kampus, biar sekalian ngeliburin kamu juga," jelas Roma.
__ADS_1
Mikha hanya mengangguk tanda mengerti meskipun sebenarnya ia tak mengert. Satu yang gadis itu tau adalah ia akan berlibur bersama dengan keluarga idamannya ini.
Ia akan bertemu dengan Umma Annisa lagi. Merasakan kelembutan sentuhannya di pipi dan juga segala perhatiannya.
Hal yang tak pernah Mikha dapatkan dari sang ibu. Ternyata, selama ini terhitung sejak kecil perlakuan Sonia padanya sangatlah datar. Mikha bahkan lebih sering di peluk oleh Rudi.
"Kak, Mikha--" Gadis itu memotong ucapannya. Hatinya belum yakin apakah ia akan membagi perasannya ini kepada Roma.
"Mikha, utarakanlah apa yang ingin kamu katakan. Berbagilah dengan suamimu ini apapun itu. Maupun senang, dan sudah sekalipun. Tolong, jangan kamu pendam lagi sesak itu sendirian. Jadilah sosokku berguna di hadapan Allah. Aku adalah pelindungmu Mikha. Percayakan keamanan serta perlindunganmu padaku," kata Roma.
"Kak, apakah mungkin ayah Rudi berkhianat di belakang ibu? Seperti apa yang di ceritakan oleh nenek. Kalau iya, seharusnya beliau melupakan kamu terutama aku kan, tetapi ayah selama ini masih memberikan nafkahnya padaku dan juga keluarga bibik," tutur Mikha.
"Tunggu dulu. Di sini, nenek kamu itu apakah ibu dari om Rudi?" tanya Roma penasaran.
"Bukan ibu kandung. Karena nek Sum itu istri pertama dari kakek dan ayah adalah anak dari istri kedua. Tetapi, nenek begitu menyayangi ibu Sonia. Sehingga, nek Sum tak terima ketika ayah menyakiti ibu. Karena itulah nek Sum mengusir ayah," jelas Mikha yang kini mulai terbuka akan keluarganya.
"Menurut keterangan dari nenekmu. Apa perlakuan om Rudi yang di bilang menyakiti ibu kamu sampe beliau pergi meninggalkan anak satu-satunya?" telisik Roma.
"Nek Sum hanya bilang kalau beliau gak suka lelaki penghianat yang berasal dari rahim wanita perebut suami orang. Nek Sum sering memaki jika ayah berasal dari penghianat maka kan ikut menjadi penghianat juga. Tetapi, ayah selalu membantah hal itu. Sayangnya, aku lebih percaya nenek ketimbang ayah dan saat ini kepercayaanku perlahan melemah," jelas Mikha.
"Rupanya, masalahmu cukup pelik Mikha. Cukup membutuhkan cara berpikir yang logis dan penelitian secara mendalam. Sebaiknya kamu temui om Rudi dan dengarkan cerita dari versi beliau," saran Roma.
Mikha mengangguk mengerti.
Tak lama adzan Maghrib berkumandang sehingga mereka berdua segera bersiap untuk solat.
Sekali lagi, Roma terpana pada saat melihat wajah basah Mikha yang mengenakan mukena.
"Masyaallah. Teruslah lembutkan hatinya ya Allah," batin Roma yang tanpa sadar menguntai doa diantara adzan dan iqomah.
__ADS_1
...Bersambung. ...