
Richard langsung menghubungi receptionist, meminta menyiapkan makan malam romantis di kamar. Karena akan makan waktu untuk menyiapkan, jadi dia juga memesan buah untuk mengganjal perut. Sementara gue sibuk menyiapkan pakaian untuk kita berdua.
"Sayang, makan buah dulu" Richard mendekati gue yang sedang sibuk membongkar koper.
"Hem." Richard menyuapi gue.
"Apa yang kamu cari?"dia memasukkan satu potong buah ke mulutnya🔸 sendiri.
"Sesuatu yang sexy." sambil ngedipin satu mata.
"Wow... sepertinya malam ini akan menjadi makan makan yang panas." gue mengangguk setuju.
"Katakan pada waiternya untuk langsung menghidangkan semua makanan, Appa. Jadi mereka tidak perlu kembali lagi kesini. Aku tidak mau ada pengganggu."
"Wow... apa yang kamu rencanakan sayang?" Richard mulai curiga.
"Hanya makan malam yang panas." dia menatap gue dengan pandangan selidik sambil terus menyuapi gue.
Para waiter sedang melakukan persiapan. Meja mereka tata di dekat kolam. Memasang lampion - lampion di pohon. Menyusun lilin - lilin kecil disekitar kolam.
Gue mulai bersiap, memakai pakaian sedikit mini, berdandan ringan, menyemprotkan parfum bahkan hingga rambut.
"Appa, ganti pakaian mu."
"Sayang, kamu terlihat berbeda." puji nya.
"Benarkah?" gue memberikan pakaian yang harus Richard pakai malam ini.
"Apa ini?" Richard mengangkat gaun tidur berwarna merah yang baru saja gue berikan padanya.
__ADS_1
"Pakaianmu." Gue duduk di tepi ranjang menunggu Richard mengganti pakaiannya.
Shock itulah gambaran wajah Richard saat ini. Memandang gue dengan tatapan bertanya. "No wau!" katanya kemudian setelah mendapat anggukan dari gue.
"Yes way, appa. Ganti pakaianmu."
"Sayang, jangan bercanda." Richard memelas.
"Appa, baby ingin melihat appa nya tampil sexy." gue mulai merenggek. Gue harus berhasil membuat Richard memakai pakaian tidur.
"Sayang, minta apa saja tapi tidak yang ini." rayunya lagi. Kali ini Richard yang memberikan puppy eyes nya ke gue.
"Baik, aku tinggal di uwak sampai melahirkan." ini terdengar seperti ancaman ketimbang pilihan.
"What?! No. Sayang... please... "
"Yes, Appa." masang mata melotot supaya Richard tahu gue serius.
"Sayang, you can't be serious, can you?" Richard menghentikan tangannya ketika hendak menurunkan celana.
Gue menggerakkan jari telunjuk naik turun agar ia meneruskan menurunkan celananya.
Wajah Richard makin frustasi. Satu persatu kancing kemejanya mulai dilepas. "Sayang... " dia merenggek lagi sebelum melepas kemeja baby blue nya.
Richard memakai gaun tidur gue, tapi karena gak cukup, akhirnya dia hanya memakai kimono nya saja.
"Puas?" katanya dengan sebal.
"Appa, kamu sexy."
__ADS_1
"Sayang, aku lebih sexy tanpa memakai apapun." elaknya.
"Ayo makan." gue menuntunnya ke meja yang sudah disiapkan.
Makan malam berjalan dalam dua versi yang berbeda. Versi gue, gue puas mengerjai Richard.
Versi Richard tentu dia sebel banget sama gue. Selama makan malam dia terus cemberut. Tidak ada senyum sama sekali.
Gue tahu Richard pasti sudah menyusun rencana untuk membalas gue, jadi begitu makanan penutup gue habis, gue langsung kabur masuk ke kamar mandi, sikat gigi dan membersihkan muka. Pakai piyama tertutup biar ga diterkam Richard.
"Sayang, jangan pura - pura tidur. Bersiaplah untuk hukuman mu." gue bisa denger suara gemericik air sepertinya Richard sedang di kamar mandi. Menurunkan selimut hingga hidung, gue mengintip, memantau keadaan.
Gue kembali menutup selimut ketika mendengar suara gagang pintu yang ditekan. Gak lama gue merasa kasur bergoyang, gue km yakin nih Richard lagi naik ke atas kasur.
"Apa kamu tidak sesak napas hum?" gue menggeleng.
"Sayang... " Richard berusaha menarik selimut tapi aku tahan. Richard menghela napas. "Baiklah, aku pergi dulu."
"Mau kemana?" gue masih didalam selimut.
"Menenggelamkan diri dilaut sayang. Iisshh
aku malu melihat diriku sendiri." katanya.
Gue menurunkan selimut. Menoleh kearah suami gue. "Maaf"
"Apa kamu tidak malu melihatku seperti tadi?" gue kembali menggeleng.
"Kamu terlihat sexy, appa."
__ADS_1
Richard yang sudah berbaring di rajang menarik gue keatasnya. "Kalau begitu jadikan aku raja malam ini, sayang." pipi gue dibelai. Hawa panas mulai menjakar di wajah gue. "Itu hukumanmu." Richard menyeringai licik.
Sekarang gue merasa gue akan habis malam ini.