
"Halo, Alana. Terkejut melihat saya?" Sapaan dari Mr. Wong. "Kamu putri Paulo Rivera?" tangan keriputnya memegang dagu gue.
Gue hempaskan tangan Mr. Wong. "Sombong seperti Paulo. Saya suka pertukaran mu, Sarah." Kini Mr. Wong menatap tajam ke arah Angel. Gue bisa melihat gairah dimata Mr. Wong.
Dasar monster! Angel mengeratkan pelukannya. Dia takut, gue bisa merasakan itu. Gue pun takut. Gue harap Richard menghubungi uwak.
POV Author
Disaat Richard sedang gusar dan khawatir ponsel nya kembali berdering, kali ini tertera nama Madin di ponsel nya.
"Rich, apa Alana ada sama kamu? Ujang menemukan tasnya di parkiran."
"Uwak, kita harus ketemu. Angel dan Alana dalam bahaya." Richard menutup ponsel nya dan meluncur ke kediaman Madin.
Madin yang mendengar itu segera meminta Blue dan Ecco untuk berkumpul di rumahnya.
Saat Richard tiba di rumah Madin, Blue dan Ecco juga sudah ada disana bersama dengan Marlin.
Mereka berkumpul diruang makan. Di depan Ecco sudah ada dua laptop, di sedang Marlin sibuk dengan laptopnya sendiri. Blue sedang berbicara dengan seseorang di ponsel nya.
Richard mengambil tas Alana yang ada diatas meja dan membongkar isinya. Richard menggaruk kepalanya frustasi karena melihat ponsel Alana ada didalam tasnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Madin mendekati Richard. Sekarang semua mata memandangi Richard.
Richard duduk dengan lesu dikursi. Diingatnya hari ini Alana mengeluh karena perasaannya tidak enak. Istrinya itu berkali - kali meneponnya menanyakan keadaannya.
"Saya juga tidak tahu pasti, wak. Tadi Sarah menelepon. Dia menyandera Alana dan Angel."
"Apa yang dia minta?" kini Marlin yang bertanya.
"Asuransi Rosaline." Jawab Madin yang diikuti anggukan kepala Richard.
"Dia kasi waktu dua hari untuk membuat surat pengalihan ahli waris." Richard napak lesu dan sedih.
"Kamu harus tenang, Alana itu terlatih. Dia bisa menjaga dirinya dan Angel." Uwak berusaha menenangkan.
"Alana sedang hamil, wak. Gimana saya bisa tenang." Richard mengusap wajahnya dengan kasar. Madin menepuk pundak Richard.
"Din." Blue mendekati Madin. "Abi baru dapet kabar Mr. Wong keluar dari penjara."
Madin mengalihkan pandangannya pada Blue dengan tatapan bertanya. "Sepertinya dia bayar orang dalem. Apa ini ada hubungannya?" Blue memutar - mutar ponsel nya.
"Bisa jadi. Kemungkinan itu selalu ada."
"Alfa, gue dapet gambar CCTV sekolah." Ecco berteriak.
Madin, Richard, Blue dan Marlin berdiri di belakang Ecco. Memperhatikan gambar yang ada di layar laptop Ecco.
"Bandingin sama CCTV parkiran. Cari yang plat nya jelas." perintah Madin.
Richard yang melihat bagaimana Angel dan Alana dimasukan kedalam mobil mengepalkan tangan nya. Amarahnya semakin menjadi melihat Angel yang dibius dan digendong saat dibawa ke mobil.
__ADS_1
"Lin, cek data Mr. Wong. Cek sedetail mungkin. Mungkin gue kelewatan sesuatu." kembali Madin memberi perintah.
"Codet juga keluar dari penjara seminggu yang lalu."
"Sialan! Bajingan itu bisa keluar dari penjara!" umpat Richard.
"Gue dapet nomor platnya." Ecco mengalihkan perhatian yang lain kembali ke laptop Ecco. "Tapi sepertinya nomor palsu."
"Gak masalah, retas CCTV dijalan. Kita pasti dapet petunjuk kemana mobil itu pergi." Ecco mengangguk. "Richard kasi nomor telepon Sarah ke Marlin."
Richard memberikan ponselnya pada Marlin. Membiarkan Marlin melakuan apapun yang ia butuhkan pada ponsel nya.
"Ecco, sebar foto mobil ke semua orang kita, termasuk yang luar kota." lagi - lagi Ecco mengiyakan perintah sang Alfa.
"Blue, minta semua orang cari keberadaan mobil. Segera lapor kalau ada yang liat, satu lagi pantau markas Codet."
Blue kembali sibuk dengan ponselnya, melakukan apa yang Madin perintahkah.
PROMO
Ada yang penasaran gak sebenarnya Madin itu siapa? Ceritanya dia bisa kayak sekarang, punya banyak anak buah ala - ala mafia gitu awalnya gimana?
Penasaran??
Cek ceritanya di
...MADIN, THE ALFA OF THE PANDAWAS...
Masukin ceritanya ke rak, like dan komennya Jangan lupa.
Cuplikan bab 1
Bocah berusia tujuh tahun bersembunyi di dalam lemari pakaian. Ia duduk sambil memeluk dua lututnya. Matanya yang awas mengawasi yang terjadi jadi celah pintu lemari yang tidak tertutup rapat.
Masih terngiyang di telinganya pesan ibu yang meminta tetap diam didalam lemari apapun yang terjadi.
Pertengkaran antara ibu dan ayahnya sudah bukan hal baru bagi Madin. Pemandangan ayah yang memukul dan mencaci ibu nya mewarnai hari - harinya. Bahkan sering kali Madin juga menjadi sasaran pelampiasan amarah ayahnya.
Rasa takut pada ayahnya sudah berubah menjadi dendam karena selalu melihat ibunya disiksa. Madin masih menahan diri karena ibunya.
Madin yang ceria tumbuh menjadi Madin yang pendiam dan pemarah. Semua sikap buruk ayahnya diserap dan disimpan dalam jiwa polosnya.
Anak - anak seperti spon yang menyerap apa saja yang ada disekitarnya. Baik minyak ataupun air. Itulah yang terjadi pada Madin. Jiwanya disisi oleh kasih sayang ibu tapi bersamaan dengan itu jiwanya juga disisi oleh keras dan kasarnya sifat ayahnya.
Hari itu Madin kembali ke rumah setelah bermain layang - layang besama teman - temannya. Sesampainya di rumah, Euis yang ketakutan meminta Madin untuk masuk ke lemari pakaian.
"Jangan keluar apapun yang terjadi." wajah Euis menjadi pucat pasi saat mendengar teriakan suaminya. Dengan cepat ia menutup pintu lemari.
__ADS_1
"Euis! Kamana kamu! Kadie!" Euis yang semakin panik menyembunyikan putri kecilnya yang masih berusia dua tahun di kamar sebelah. Mengunci kamar itu dan memasukan kunci ke saku daster yang ia pakai.
**Euis! Dimana kamu! Kesini!
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Euis. Ia sampai tersungkur karena Baron menamparnya dengan keras.
"Dasar istri gak tahu diri! Urang geus ngomong Jangan ganggu Lia! Lia keguguran gara - gara kamu!" Baron melepaskan ikat pinggang yang celananya.
SPLASH!
"Kamu masih urang kasi makan!"
**Urang \= aku
SPLASH!
"Anak haram itu urang kasi makan!"
SPLASH!
"Apa masih kurang?! Hah?!"
Jeritan pilu terdengar tiap kali Baron mencambuk istrinya dengan kepala ikat pinggang. Darah membasahi daster yang dipakai Euis.
"Ampun, a." Euis merangkak memegang kaki suaminya. "Ampun. Abi gak ngapa - ngapain Lia."
Baron menendang Euis tanpa belas kasihan agar Euis melepaskan kakinya.
UHUK! Euis batuk darah.
"Kamu memang pembawa sial! Anak haram itu pembawa sial!" teriak Baron.
Baron menarik rambut Euis. Membenturkan kepala Euis ke lantai.
Berteriak kesakitan hanya itu yang bisa Euis lakukan. Ia kalah tenaga menghadapi Baron, belum lagi luka ditubuhnya membuat Euis lemas.
Entah setan apa yang merasuki Baron, kehilangan calon bayi dari istri keduanya membuat Baron gelap mata.
Baron terus membenturkan kepala Euis ke lantai tanpa sadar Euis sudah tidak lagi berteriak. Euis telah meregang nyawa.
Wajah Baron memucat melihat Euis yang sudah tidak lagi bergerak. Baron menempelkan jari dihidung Euis, untuk memeriksa napas istrinya.
Tidak ada napas.
Wajah cantik Euis tertutup darah. Rambutnya basah bukan karena keringat tapi karena darah.
Baron mundur beberapa langkah dari jasad Euis. "Nyawa dibayar nyawa." lirihnya sambil menyeringai.
Baron bergegas pergi meninggalkan rumah istri pertamanya tanpa tahu ada sepasang mata yang menatapnnya dengan penuh amarah dan dendam. Matanya seperti mata serigala yang sedang berburu mangsa.
__ADS_1
Madin ingin berlari menghampiri ibunya yang sudah terbujur kaku. Tetapi badannya yang gemetar membuat gerakannya menjadi lambat.
Madin merangkak keluar lemari. Perlahan mendekati ibu nya. "Ibu... " lirihnya.