
Buk buk!
Mikha terdengar begitu rusuh di atas tempat tidur. Membuat Roma mau tak mau membalik tubuhnya untuk mengetahui apa yang sedang gadis itu lakukan.
Kedua manik mata Roma berusaha untuk tidak memperhatikan bagian dada maupun paha. Tetapi fokus akan benda yang Mikha sejajarkan di tengah tempat tidur.
"Kau ngapain sih, cepatlah tidur. Aku harus bangun tahajjud nanti," ucap Roma dengan nada lemas.
"Bikin pembatas," jawab Mikha singkat.
"Buat apa?" heran Roma, bergantian melihat antara guling berbaris dan juga wajah Mikha.
"Buat jaga-jaga biar kamu gak kelewat batas," tambahnya lagi.
"Ya ampun, kalo aku mau kelewat batas juga udah dari awal Mikha. Tapi, terserah kamu deh aku ngantuk," kata Roma dengan nada menahan gemas.
"Yw mana tau nanti setan lewat," sambung Mikha lagi melempar praduga pada pihak yang belum tentu bersalah.
"Aku gak perlu kemasukan setan Mikha. Kamu itu, istri sah aku," sahut Roma yang kembali berbalik dengan cepat dan kebetulan hal itu membuat wajah keduanya tak sengaja saling berdekatan.
Manik mata keduanya pun saling tatap tak bergeming. Sontak, Mikha menaikkan salah satu guling ke depan wajahnya.
"Tidur sana! Katanya ngantuk!" kilah Mikha mengalihkan pembicaraan.
Jujur saja untuk saat ini hati serta raganya belum siap untuk menerima perannya sebagai seorang istri. Walaupun Mikha tau hal ini tentu saja bukanlah pilihan yang benar.
Entahlah, apa yang membuat Mikha belum bisa menerima Roma serta membuka hatinya untuk pria yang baik itu.
Padahal selama ini Roma telah berusaha memperlakukannya dengan baik.
Roma selalu menghargai serta menghormati keberadaannya.
Walaupun begitu, jika hati belum bergerak maka semua tindakan maupun sikap itu tak bisa di paksakan.
"Maaf, Bung. Aku gak mau pura-pura. Suatu saat hal itu akan menyakiti kita berdua. Biar saja begini dulu, sampai keajaiban dari Tuhan melunakkan hatiku yang keras ini," batin Mikha.
__ADS_1
Sebenarnya ia pun merasa tak berbudi karena telah memperlakukan Roma seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi, hatinya masih menolak kenyataan.
Beberapa jam berlalu, guling yang Mikha gunakan sebagai pembatas telah berada jauh dari tempat tidur alias jatuh ke lantai. Sementara, Mikha saat ini sedang asik memeluk sesuatu.
Merasakan ada yang menindih dan menggesek serdadunya, Roma pun terbangun. "Eugh!" Pria berusia dua puluh dia tahun dengan hidung mancung ini merentangkan tangannya sambil menguap lalu membuka kedua matanya dengan cepat. Ketika salah satu tangannya meraba sesuatu yang empuk di samping tubuhnya.
Alangkah kagetnya pada saat ia mendapati bahwa dirinya saat ini sedang di peluk dengan begitu erat oleh Mikha, dan sebelah telapak tangan Roma dengan asik menangkup dada yang lumayan besar itu.
"Alhamdulillahilladzi ahyana bada ma amatana wailaihinnusyur," gumam Roma kecil, malah mengucapkan doa bangun tidur. Mungkin dirinya mengira jika ini semua masih skenario dalam mimpinya. Setelah Roma menyadari bahwa ini semua adalah nyata, sontak pria itu mengucapkan istighfar.
"Astagfirullahal adzim. Apa-apaan dia," gumam Roma yang semakin merasa tertindas apalagi sebelah kaki Mikha yang berada di atas pahanya ini tak bisa diam.
"Aduh! Kena," celetuk Roma seraya meringis. Sebab, lutut Mikha mengenai serdadunya yang telah berdiri tegak.
"Cobaan apalagi ini ya Allah. Tolong berikan aku jawaban dan jalan keluarnya. Aku sudah berusaha menahannya sejauh ini. Tetapi, kenapa godaannya semakin kuat dan nempel begini," gerutu Roma dalam hatinya.
Hatinya merasa dag-dig-dug tak karuan pada saat apa yang Mikha miliki melekat erat dengan tubuhnya.
"Emh, apa sih ini? Guling kok keras gini sih? Kotak-kotak." Sementara itu Mikha nampak mulai menggeliat dan bergumam sambil meraba-raba dengan mata yang setengah terbuka.
"Ini apaan sih?" gumam Mikha pelan, sambil menggoyangkan tubuh di sebelahnya. Ia sama sekali belum menengok siapa makhluk yang kini tengah ia peluk dengan kaki yang menyilang. Bahkan, Roma sudah mulai merasa kesemutan.
"Mikha, kamu itu berat banget sih! Sana ah!" Roma dalam pertahanan imanya sekuat tenaga mencoba memindahkan kaki sang istri yang terus tak bisa diam itu.
BRUGH!
Kaki yang berat itu berhasil berpindah tempat, namun sebuah tangan besar mendarat dengan sempurna di atas serdadu Roma yang telah membuat sesak segitiga bermuda.
Plak!
Roma dengan cepat memindahkan tangan Mikha yang telah membuatnya ngilu.
"Ichi–Ocha!" Mikha yang kaget justru langsung meneriaki nama kedua sahabatnya, dengan lantang. Kedua mata besarnya seketika membuat sempurna.
Pada saat Mikha mengenali tubuh kekar siapa yang saat ini tengah ia peluk dengan erat.
__ADS_1
"Aaaa ...!" Mikha berteriak dengan kencang, ketika pandangannya menangkap sosok pria tampan yang sengaja ia hindari justru berada dalam pelukannya.
Sontak, Mikha beringsut mudur lalu duduk dan menyibak rambutnya yang berantakan.
"Kancingkan juga pakaianmu!" titah Roma.
Mikha langsung menatap ke arah piyama bagian atasnya dan seketika apa yang nampak membuat ia malu kemudian segera menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dada yang sedikit menyembul itu.
Roma yang juga kaget lantaran mendengar teriakan Mikha itu, lantas terbangun dan beringsut mundur.
"Keterlaluan!" Mikha menjerit kencang, membuat Roma kaget dan reflek memundurkan tubuhnya kebelakang. Hingga tepian kasur tak lagi dirasakannya, lalu ...
BRUKK!
"Aww!" Bokongnya mendarat dengan sempurna di atas lantai kayu apartemen tersebut. Jika di kamar Mikha lantainya beralaskan karpet tebal berbulu. Jadi, kalau jatuh tidak akan sesakit ini. Di tambah malu juga, yang membuat Roma ingin segera membenamkan wajahnya di antara tumpukan bantal.
"Jangan berteriak! Semua ini kan ulahmu sendiri!" pekik Roma tertahan yang agak geram pada istri kecilnya ini.
"Kenapa Mikha bisa meluk kamu? Ini pasti akal-akalan kamu aja kan!" tuduh Mikha seenaknya. Membuat kedua manik mata Roma mendelik tak percaya. Bisa-bisanya gadis ini justru malah menyalahkan dirinya.
Roma yang seketika berdiri, entah kenapa tak mampu mengeluarkan kata bantahan. Sorot mata Mikha begitu menggemaskan dengan muka bantalnya. Bahkan Roma baru sadar kalau kecantikan Mikha begitu natural dan alami.
"Kenapa wajahnya seimut itu sih kalau baru bangun tidur?" batin Roma, memuji.
Mikha pun turun dari tempat tidur dengan begitu ceroboh hingga ujung jari kakinya tersangkut selimut dan ...
"Awas Mikha!" teriak Roma seraya berlari dan mengulurkan tangannya cepat sehingga ia berhasil menangkap raga Mikha yang hampir terjerembab jatuh.
Grep!
hampir saja, wajah cantik Mikha menyentuh lantai dengan tak elegan, jika saja Roma tidak bergerak secepat ini.
Roma yang memegangi lingkar pinggang Mikha dari belakang membuat gadis itu menoleh dengan cepat.
"Duh, mataku!" pekik Roma yang terkena sabetan dari rambut Mikha.
__ADS_1
...Bersambung...