Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#21. Ungkapan Hati.


__ADS_3

"Aku pergi dulu sebentar. Nanti sore kembali ke sini saja nanti kita pulang sama-sama," titah Roma yang mana hal itu membuat Mikha berdecak.


"Oke," jawabnya singkat.


Roma pun keluar dari ruangan tersebut dengan terburu-buru. Mau tak mau Mikha yang harus membersihkan bekas makan siang keduanya barusan.


"Oke hari ini gue turutin. Tapi besok ogah banget. Gue mau bawa si Jalu pokoknya," oceh Mikha sambil merapihkan meja.


"Sebenarnya, apa yang mau mereka berdua bicarakan ya? Ih, kok Lo kepo banget sih Mikha!" omelnya pada diri sendiri.


Berusaha mengaburkan kerisauan yang tiba-tiba datang ke pikirannya. "Bodo amat ah dia mau ngapain juga, bukan urusanku. Lagian kan kalo dia deket sama perempuan itu aku bisa minta pisah. Dan Roma bakalan setuju untuk menceraikan aku." Mikha bicara sendiri dan menjawab sendiri apa yang ia tanyakan.


Gadis ini sama sekali tak memikirkan masa depannya jika apa yang ia ucapkan barusan menjadi kenyataan. Mikha berusaha abai dan acuh terhadap rasa yang perlahan singgah di dalam hatinya.


Mikha keluar dan berlari dari gedung tersebut karena kelasnya akan mulai lima belas menit lagi. Ia tak memiliki waktu untuk sekedar mengintip apa yang saat ini Roma lakukan di taman. Sekalipun, hati kecilnya memang ingin agar ia melakukan hal tersebut.


Setelah sampai kelas, kedua temannya si kembar manis Ichi dan Ocha menyembur Mikha bersamaan.


"Kemana aja sih Mi ...!" semprot keduanya berbarengan, bahkan dengan nada tinggi. Tak ayal seluruh penghuni kelas menoleh ke arah mereka bertiga, termasuk pemuda yang tadi sempat menjegal langkah Mikha.


"Biasa aja dong!" protes Mikha, ketus. Ia paling tak suka jika menjadi bahan pusat perhatian. Sekalipun itu dari penghuni kelas ini.


Mikha langsung duduk di kursi dan membuka ponselnya karena ia mendapat notif pesan di email. Semua itu karena memang Mikha tidak suka menyebar nomer ponselnya.


Ternyata ajakan untuk tanding balapan dari penantang yang berasal dari luar pulau Jawa.


Mikha yang sangat menyukai tantangan tentu saja menyanggupi ajakan tersebut tanpa berpikir panjang lagi dan Mikha sama sekali tak berniat untuk meminta ijin kepada Roma terlebih dahulu.


"Lo kenapa Mi. Baru masuk kelas udah senyum-senyum aja," heran Ichi.

__ADS_1


"Kepo banget sih sama urusan orang!" sarkas Mikha.


"Ih, resek Lo!" Ichi pun mendorong bahu Mikha pelan sehingga hal itu membuat Mikha tertawa puas.


"Lo tadi kemana pas makan siang? Cepetan jawab karena kita emang pengen tau," cecar Ocha.


"Gue makan siang. Tapi sama paman gue," jawab Mikha mengarang cerita. Sejak kapan Roma yang tampan bin mengemaskan itu menjadi pamannya.


"Dih, kurang ajar ya Lo. Bukannya bilang ma kita!"


"Ho'oh, Lo. Kita kan nungguin!" protes si kembar.


"Ye maaf deh. Paman gue tuh dadakan tadi nelpon dan dia udah ada di depan kampus," jelas Mikha lagi dengan menambahkan kebohongannya.


"Oke, lain kali jangan buat lagi macam tu. Beritahu kita kalo kamu gak bisa makan sama-sama. Kasian tuh Ichi, rencananya mau makan ayam goreng tapi nungguin kamu dateng, sampe idup lagi tuh ayam tau gak?" kata Ocha dicampur candaan.


Sontak saja Ichi tertawa girang. Akan tetapi, tidak dengan Mikha. Gadis itu tetap saja memasang wajah datarnya. Bahkan Mikha menatap malas pada Ocha yang berniat melawak tapi garing.


"Kagak lucu ngapain ketawa!" tukas Mikha.


"Ih, galak banget dah jadi cewek," ledek Ichi.


"Tau gak Lo, Mi. Kata emak kita kalo cewek judes itu nanti jodohnya jauh. Bakal jadi perawan tuak tuh!" Kedua saudara kembar ini pun tertawa.


"Mitos aja kalian percaya!"


Beberapa saat kemudian para penghuni kelas tersebut diam karena sang pengajar sudah masuk.


Kita tengokin yang lagi di taman kuy.

__ADS_1


"Kakak. Aku kirain gak bakalan dateng," sambut Hanum dengan senyum terbaiknya.


"Maaf ya, kamu nunggunya kelamaan. Kita kesana ya, yang tempatnya lebih terbuka," ajak Roma, pada Hanum menuju posisi yang mana keberadaan mereka berdua bisa dilihat dari sisi manapun.


Roma hanya mencari aman. Karena sebenarnya bertemu secara berduaan begini tidak dibenarkan.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan Num. Kenapa kamu juga tiba-tiba datang dan berkata seperti itu padaku?" cecar Roma mencari kepastian dari apa yang sebenarnya Hanum maksud.


"Maaf, Kak. Jika sebelumnya kedatangan aku bikin kamu kaget atau gak nyaman. Atau mungkin juga bikin kamu bertanya-tanya. Sebenarnya, selama ini Hanum ... sudah menyimpan perasaan terhadap Kakak. Tepatnya semenjak semester kedua. Tetapi, pada saat itu Hanum pikir itu hanya perasaan suka sementara yang terjadi hanya karena intensitas ketemuan kita yang pada saat itu sama-sama punya tugas membimbing mahasiswa baru. Tetapi, setelah beberapa waktu kemudian perasaan itu semakin berkembang. Puncaknya setelah kita di wisuda, beberapa hari yang lalu. Hanum, beberapa kali memimpikan Kakak mengenakan pakaian gamis berwarna putih dengan kopiah dan kalung bunga melati," tutur Hanum panjang lebar.


Roma sempat menarik napasnya dalam. Pria ini perlu oksigen cukup banyak karena dadanya seketika penuh dan hendak meledak saking senangnya. Karena wanita yang sempat ia suka ternyata menyimpan perasaan yang sama.


Akan tetapi di sisi lain, Roma seketika tersadar bahwa posisinya saat ini tidak mengijinkannya untuk merasa menang. Dia sudah menikah dan telah memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan membentuk karakter serta akhlak yang lebih baik untuk Mikha.


Roma lantas berpikir kalimat apa yang pantas dan sopan untuk ia utarakan para Hanum. Kata yang tidak melukai hati wanita yang sempat ia kagumi selama bertahun-tahun.


Roma sempat memejamkan matanya. Bagaimanapun ia harus menerima semua yang telah terjadi pada hidupnya. Roma yakin jika pernikahannya dengan Mikha adalah takdir dan ketentuan dari Allah.


"Sebelumnya. Aku mau bilang terimakasih karena kamu udah jujur terhadap perasaan kamu, Num. Jujur saja, sebenarnya aku juga memiliki perasaan yang sama ke kamu. Dan itu terjadi semenjak aku mengagumi kecerdasan kamu setiap kita kerja sama dalam tugas kuliah kala itu," jawab Roma yang nampak menjeda ucapannya sekejap.


Pada saat inilah hatinya mencelos karena melihat rona di kedua pipi Hanum dan senyum bahagia gadis berwajah teduh di hadapannya ini.


"Bahkan, sejak saat itu aku selalu berkhayal jika suatu saat aku dan kamu akan membina satu rumah tangga yang sama. Tetapi, nyatanya takdir dan ketentuan Allah tidak selalu sesuai apa yang kita inginkan dan impikan," sambung Roma.


Dimana ucapannya ini mengundang gurat heran campur bingung di wajah Hanum.


"Takdir apa, Kak? Aku gak jadi kuliah di Kairo, demi Kakak," ucap Hanum yang masih menyimpan sejuta tanya di dalam hatinya.


"Jangan batalkan impianmu demi aku."

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2