Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#30. Terpaksa Satu Kamar Bag 1.


__ADS_3

"Lalu bagaimana? Umma dan Abi apa tidak memberi tau dulu ketika mau datang ke apartemen?" tanya Mikha bingung.


Bagaimanapun ia tak mau persoalan perjanjiannya dengan Roma di ketahui oleh pihak orangtua. Mikha juga tak sampai hati membuat hati Annisa serta Choki kecewa padanya.


Mereka berdua adalah sosok yang baik padanya. Bahkan sejak Mikha kecil kala itu. Pasangan ini selalu memberikan hadiah padanya setiap berkunjung ke pabrik basreng dan cimol krispi homemade.


Semua hal manis itu sebelum sang ibu membawanya untuk tinggal bersama sang nenek. Sehingga, Mikha harus berpisah dengan sang ayah yang seingatnya dulu sangat menyayanginya.


Setelah itu Mikha tak ingat lagi, bahkan awal mula kenapa kedua orangtuanya bisa bercerai. Satu hal yang ia ingat adalah kebencian pada sang ayah karena dalam kepalanya semua penderitaannya ini berakar dari Rudy.


Mikha menggeleng karena tak mau mengingat-ingat hal itu dulu untuk saat ini.


"Kamu kenapa?" tanya Roma heran, karena melihat Mikha terus menggelengkan kepalanya.


"Gapapa, mendadak pening aja," jawab Mikha asal.


"Semoga, Umma tidak memeriksa kamar kita," kata Roma.


Tentu saja tidak, Roma. Kamar adalah tempat privasi. Meskipun orangtua sendiri tetap tak bisa sembarangan masuk terutama ketika sang anak sudah menikah.


Sementara itu di apartemen.


Annisa dan suaminya tetap berada di ruang tamu untuk menunggu putra mereka pulang sambil menonton televisi.


Choki kaget karena terdapat kotak penyimpanan DVD ketika Roma masih kecil.


"Ternyata kotak DVD ini di bawa anak kita kesini, sayang," kata Choki, sambil menunjukkan benda tersebut kepada istrinya.


"Hem, pantas saja Annisa cari di gudang gak ada," sahut wanita bergamis syar'i itu.


"Sambil nunggu mereka pulang, gimana kalo kita nonton ini aja sayang, The Incredible," kata Choki.


"Itu film kesukaan Adiba. Karena tokoh wanitanya itu introvert dan pemalu sepertinya," sahut Annisa.


Mereka berdua macam baru saja menemukan harta karun. Dan mereka pun menonton animasi super Hero tersebut sambil sesekali mengingat putri mereka yang saat ini berada di pesantren.


Hal itu membuat Annisa sesekali mengusap air matanya. Karena Violet benar-benar mirip Adiba dengan rambut sebahu yang hitam dan lurus bahkan terkadang sampai menutupi wajahnya.


"Aku juga merindukannya sayang. Tapi mau bagaimana lagi, Adiba gak mau pulang kalau hapalannya belum 30 juz," bisik Choki yang mengerti apa yang saat ini tengah dirasakan oleh istrinya itu. Bahkan Adiba sampai tak mau pulang meskipun sang Abang menikah.

__ADS_1


Adiba hanya menyampaikan ucapan selamat serta hadiah yang di kirim melalui jasa ekspedisi.


"Iya, By. Annisa paham kalau putri kita itu lagi berjuang untuk akhirnya. Hanya saja rasa rindu ini belum juga hilang dan justru semakin hari membuat dada ini semakin ringkih memikirkan keadaannya di sana, astagfirullah," ucap Annisa.


"Ambil wudhu gih. Biar hati kamu tenang," titah Choki yang lantas diangguki oleh istrinya itu.


Roma masih belum membuka pintu mobilnya padahal mereka berdua telah sampai di parkiran apartemen.


"Kenapa, gak keluar?" tanya Mikha yang heran sehingga keningnya mencipta tiga garis kerutan.


"Mana pasmina kamu?" tanya Roma.


"Di dalam tas, kenapa?" jawab Mikha yang kemudian balik bertanya.


"Buka topi itu, ganti dengan pasmina yang kaku kenalan di kepala," titah Roma tegas.


Mikha yang mengerti pun langsung mengiyakan. Akan tetapi, Roma kembali meringis pada saat matanya tertumbuk ke lutut Mikha. Dimana celana jeans model Jogger yang istrinya kenakan itu terdapat robekan cukup besar di sana.


"Kepala dan leher sudah, lalu gimana dengan lutut kamu itu!" tunjuk Roma.


Mikha pun menelan ludahnya kasar. Kenapa kedua mertuanya harus datang pada saat dandanannya sedang seperti ini.


"Ya sudah kalau nanti di tanya sama Umma, kamu terpaksa harus berbohong. Bilang aja tadi kena apa kek gtu," kata Roma yang sudah kehabisan akal.


Setelah sepakat keduanya memutuskan keluar dari mobil dan berjalan beriringan menuju lantai dimana keduanya tinggal bersama selama sepekan terakhir ini.


"Assalamualaikum!" ucap keduanya bersamaan setelah pintu apartemen terbuka dari luar.


"Sayang, putra dan menantu kita sudah datang!" seru Choki memanggil sang istri yang tengah membuatkannya kopi di dapur.


"Jagoan Umma," sambut Annisa dengan bentangan tangannya pada sang putra.


Roma pun menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu dengan antusias dan raut wajah gembira.


Merangkul sang umma lalu mencium pipi dan juga punggung tangannya takdzim.Setelah itu barulah ia menghampiri sosok sang aby.


Annisa pun melakukan hal yang sama kepada menantu satu-satunya ini. Akan tetapi, kali ini Annisa-lah yang menciumi Mikha.


"Kalian mandi gih nanti kita makan camilan sambil ngopi bareng-bareng di balkon," kata Annisa.

__ADS_1


Tentu saja ucapannya langsung diangguki dengan cepat dan antusias oleh Roma dan juga Mikha.


"Yaudah, Umma sama Aby duluan deh ke balkon. Biar nanti aku sama Mikha nyusul. Soalnya kita mau mandi dulu," kata Roma.


"Oke, tapi kalian gak usah mandi berdua. Nanti kelamaan," goda Choki dengan gerakan alis yang turun naik ke arah sang putra.


"Aby," decak Roma. Kenapa orangtuanya ini memiliki pikiran mesum seperti itu.


"Ayo Mikha, kamu cepat masuk kamar dan keluarkan barang-barang kamu terus bawa ke kamar aku," bisik Roma.


Mikha pun langsung mengangguk cepat tanda mengerti.


Karena kedua mertuanya telah berada di balkon maka Mikha dengan cepat masuk kamar dan melakukan apa yang Roma perintahkan tadi.


Mau tak mau, Mikha pada akhirnya masuk juga ke dalam kamar pria yang notabene adalah suaminya ini.


Glek.


"Akhirnya gue berada di dalam kamar Roma. Kamarnya rapih banget sih, beda sama kamar aku," batin Mikha yang tanpa sadar mengagumi kerapihan Roma sebagai laki-laki.


"Tuh cowok dimana ya, apa dia lagi mandi sekarang? Terus aku harus nunggu dia selesai dulu gitu?" gumam Mikha bertanya seorang diri sambil meletakkan tasnya di sembarang tempat.


"Mikha, jangan letakkan tas di atas tempat tidur," ucap Roma yang seketika membuat Mikha menolehkan kepalanya.


Aaaaa!!


Terdengar sebuah jeritan dari mulut Mikha yang mana hal itu langsung membuat Roma membekapnya.


"Kamu jangan teriak gini dong. Nanti kalo Umma sama Abi curiga gimana?" ucap Roma yang tanpa sadar nampak memeluk Mikha dengan dada telanjangnya. Sementara, bagian bawah tubuhnya juga hanya di belit dengan handuk saja.


Lelaki ini ingatnya dia masih sendirian di dalam kamar. Jadi seenaknya saja pas keluar dari kamar mandi.


Mikha yang mulutnya di gelap oleh Roma tentu saja tak bisa bersuara. Gadis itu hanya memberi kode melalui tatapan matanya.


"Apa?" tanya Roma. Ia pun membuka bekapan pada mulut Mikha setelah gadis itu berjanji tidak akan teriak lagi.


"Gimana aku gak teriak kalo kamu keluar dari kamar mandi dengan keadaan begitu!" protes Mikha dengan nada tertahan sambil menunjuk dengan jarinya. Gadis itu pun memalingkan wajah karena tak mau melihat tubuh Roma yang ternyata begitu atletis dengan bentuk kotak-kotak di perutnya.


Aihh, jadi Mikha sempet ngintip ya. Tuh tau klo bentuknya roti sobek😁

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2