
Dua insan itu terlihat mengatur napasnya, yang seperti habis melakukan lari maraton. Mikha menengok ke arah lelaki yang telah memasukinya, sebanyak dua kali pagi ini. Sensasi luar biasa yang dapat ia rasakan kini benar-benar berbeda dengan yang pertama kali, karena penyatuan barusan tidak menyisakan sakit dan perih lagi.
Justru, ia seakan mabuk di buatnya. Hingga suara-suara aneh, yang belum pernah tercipta dari pita suaranya, bisa keluar sebebas itu dari kedua bibirnya. Meninggalkan semburat malu, di wajahnya.
"Kenapa Lo enggak tahan aja sih tadi, bikin malu aja...aaaaa!" batin Mikha menjerit.
Alhasil, gadis yang akhirnya sudah tidak perawan lagi itu, menutupi seluruh wajahnya dengan kain selimut.
"Hei, kenapa pula di tutupin." Roma sontak menarik selimut itu kebawah, hingga melewati dada Mikha. Membuat istrinya itu reflek menjerit.
"Aaaakk...! Kakak apa-apaan sih!" sungutnya karena tubuh polos bagian atasnya terekspos lagi.
"Kenapa? Aku kan udah liat juga, ngapain teriak coba?" goda Roma seraya mencoba menurunkan lagi, ujung selimut yang di pegang dengan erat oleh istri menggemaskannya itu.
"Auk, ah! Kamu ih...sana deh, udah dua kali kan, sekarang bebasin aku!" rengek Mikha dengan gaya merajuknya yang semakin menggemaskan bagi lelaki yang ada di sebelahnya itu.
Roma hanya melengkungkan senyum manisnya, yang ternyata perbuatannya itu, telah berhasil membuat rona kemerahan itu merekah dari kedua pipi Mikha.
"Emang ada batasnya ya, hmm?" goda Roma lagi, malah sekarang di tambah dengan sentuhan di sekitar pipi.
"Kak, ih... aku mau mandi," lirih Mikha yang sudah mulai terbawa suasana. Terdengar dari nada suaranya yang mulai melembut.
"Sekali lagi ya. Setelah ini aku janji deh, kita bakalan mandi," rayu Roma kepada sosok elok nan molek yang kini berada di bawah kungkungannya lagi.
"Ya Allah, kak roma udah minta lagi aja, kenapa dia gak ada capeknya sih? tubuhku udah mau remuk ini, huhu..." batin Mikha.
"Aku maunya mandi sekarang, aku juga udah laper! Dari tadi kerja terus tapi gak di kasi makan," omel Mikha dengan bibir yang di majukan, dimana kelakuannya sungguh lucu di mata Roma.
"Iya, abis ini deh."
Cup!
"Aku bakalan kasih kamu makanan yang enak-enak."
__ADS_1
Cup!
Roma terus membujuk di sela-sela kecupan curiannya itu.
"Emang, gak bisa gitu, nanti lagi aja ... ini badan udah lengket semua," protes Mikha yang mencoba untuk negosiasi dengan suami perkasanya ini.
Meskipun hatinya menolak, namun respon tubuh telah mengkhianatinya. Walaupun ia juga menginginkannya, akan tetapi tubuhnya juga butuh asupan, demi mengganti seluruh energinya yang sudah terkuras sejak beberapa jam lalu. Itu logikanya.
Akan tetapi, kenapa tubuhnya malah macam cacing di tabur garam. Heran?
Hingga kini matahari sudah hampir tenggelam mereka masih saja bergulat di atas ranjang yang sudah tak lagi berbentuk ini.
"Tapi si dia sudah berdiri sejak tadi. Masa sih kamu tega, hemm?" Roma terus melancarkan serangan demi serangan meskipun kalimat penolakan itu terus keluar dari bibir seksi sang istri.
Perutnya juga lapar, tapi tenaganya seakan tidak ada habisnya, ia ingin terus merasakan sensasi nikmat yang baru dia rasakan seumur hidupnya. Ia begitu gila dan rakus akan tubuh Mikha yang sintal.
Setelah ia merasakan pusat intinya tertanam pertama kali. Ia tidak bisa menahan gelora yang kini datang lagi, dengan membawa sengatan panas ke setiap sendi tubuhnya.
Tubuh molek di bawah nya ini menggeliat tak karuan, ketika jemari nya terus menari memainkan sesuatu yang empuk dan pas dalam genggaman tangannya. Sesekali ia mengelus pelan pucuk yang berwarna coklat muda itu, dimana bentuknya begitu kecil dan lucu.
Mikha mengeluarkan desah sambil menjambak rambut suaminya pada saat pria itu sengaja membiarkan bibir sensualnya menyesap hingga meninggalkan jejak, yang tidak akan hilang dalam beberapa hari ke depan.
Roma mengangkat kepalanya, menyambar bibir yang sedari tadi mengeluarkan desah dan erang yang membuat gelora hasratnya semakin menggebu.
Di awali dengan kecupan ringan, namun, Mikha yang sudah di selimuti hawa panas di sekujur tubuhnya, membalas serangannya itu dengan liar, bahkan ia sudah lihai dalam membelit dan mengisap.
Roma sontak melepaskan tautannya, membuat si pemilik buah plum yang merona alami itu, mengeram.
"Kak Roma ...." Desah itu lolos keluar dari bibir Mikha tanpa sensor. Ia sungguh tak sanggup menahannya. Lagipula, dinding kamar ini kedap suara bukan?
Yah, mereka bebas untuk berteriak bahkan melengking.
Roma menurunkan ciumannya untuk kembali menyesap leher yang putih dan mulus itu. Tadinya sih, karena sekarang sudah banyak jejak merah kehitaman yang ia ciptakan di sana.
__ADS_1
Seperti nya, serdadu perkasanya itu sudah tidak kuat bertahan lebih lama, ingin segera membenamkan diri, di dalam lembah yang begitu hangat dan, ahh...susah di deskripsikan pokoknya.
Mikha yang memang masih belum terbiasa melihat sang serdadu tegak berdiri dengan gagah perkasa, hingga timbul urat-urat di sepanjang tubuhnya. Ia lantas memejamkan matanya, dan menarik nafasnya ketika kepala si serdadu itu sekali lagi menabrak benteng pertahanannya, meskipun sudah koyak tapi tetap saja agak susah.
Hingga, membutuhkan beberapa kali dorongan agar kepala dan tubuh si serdadu perkasa, terbenam sempurna di dalam sana.
Alunan desah nan merdu sukses terucap dari bibir Mikha, ketika Roma mulai bergerak perlahan. Sampai dimana gelora itu semakin tinggi, hingga suhu tubuh naik, dan menciptakan bulir-bulir keringat, bersatu padu pada raga yang menempel tanpa celah.
Gerakan keduanya mencipta ritme yang semakin cepat. Hingga Roma kembali merasa sudah di ujung batasnya untuk meledakkan sesuatu, begitu juga pada sang istri yang menatapnya penuh arti di bawah kuasanya itu.
"Aku mencintaimu Mikha!" teriak Roma sambil menggeram nikmat, hingga tubuhnya melenting bak serigala yang sedang melolong.
"Terimakasih sayang."
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat dengan mulus di kening yang juga mulus dan licin itu. Roma yang kembali puas pun, melepaskan intinya, kemudian beranjak bangkit dari ranjang yang menjadi saksi bisu percintaan panas keduanya.
Ia menutupi tubuh polos itu dengan selimut, karena sang empunya badan sudah terkapar tak berdaya. Bagaimana tidak, sejak beberapa jam lalu semenjak sampai ke kota ini tadi hingga hari beranjak petang, istrinya itu terus di gempur olehnya.
Setelah pasangan pengantin itu membersihkan diri mereka.
Kini saat mereka mengisi lambung yang kosong sejak tadi.
Mengembalikan energi dan stamina yang sudah terkuras habis.
Disinilah, pasangan suami istri itu menghabiskan sisa hari mereka.Merecharge asupan protein serta karbohidrat. Makan siang yang di rapel sekalian dengan makan malam itu, berjalan dengan damai dan syahdu. Hingga hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring saja.
Mikha sempat melirik singkat pada lelaki di hadapannya, yang sedang memasang wajah tampan tanpa dosa.
Sungguh menyebalkan!
Kenapa aku tidak mampu menolak pesona nya sih?
__ADS_1
"Aih Kak Roma. Mikha senut-senut ini," batinnya.
...Bersambung. ...