
Pov Author
Saat Richard bergegas menuju lantai dua untuk menyelamatkan Alana, Madin dan Blue serta anak buah mereka sibuk membereskan preman cap cicak yang menghalangi mereka. Entah mereka ini anak buah Codet atau anak buah Wong. Yang pasti mereka tidak akan selamat malam ini.
Seperti rencana awal, Blue bertugas untuk menyelamatkan Angel. Berbekal gambar CCTV dari Ecco, Blue menuju kamar yang terletak dibawah tangga.
Dari gambar yang didapat Ecco, Angel tidak sendirian. Dia di jaga oleh beberapa orang dengan senjata laras panjang.
Blue membagi tim nya menjadi dua. Dia dan satu orang berjaga di depan pintu, dua orang lainnya keluar untuk mengalihkan perhatian mereka yang ada didalam.
"Blue, kita siap." suara salah satu anak buah Blue terdengar melalui earpiece yang ada ditelinga Blue.
"Hitungan ke tiga. Satu, dua, tiga." Blue memberi komando.
PRANG!
Terdengar suara kaca pecah dari dalam. Anak buah Blue memecahkan jendela kamar dan melepaskan bom asap.
Mendengar keributan dari dalam, Blue yang sudah memakai masker menyerbu masuk, menembaki penjaga yang sedang lengah dan batuk karena asap.
"Lu urus mereka, bawa ke markas." Blue memakaikan masker pada Angel dan mengendong gadis kecil itu keluar kamar.
Sambil setengah berlari Blue membawa Angel ke mobil dimana Marlin sudah menunggu. " Lu berangkat duluan." perintah Blue pada Marlin.
Dilihatnya Madin menarik rambut Sarah dan memaksa wanita itu berjalan mengikutinya. "Beresin tempat ini." perintah Madin pada anak buahnya.
"Bawa dia ke markas." Madin menyerahkan Sarah pada anak buahnya yang lain.
"Mana Richard?" Madin memandang ke lantai atas.
"Belum keliatan." Mendengar jawaban Blue, Madin kembali mengangkat senjatanya. Blue mengikuti sang alfa.
Mereka menaiki tangga menuju kamar tempat Wong menyandera Alana.
"Sayang, liat aku. Kamu percaya padaku, kan?" Madin yang berdiri dibelakang Richard. elihat dengan jelas situasi didepannya.
__ADS_1
Wong menodongkan pistol pada Alana, sedang Richard mengarahkan pistolnya pada Wong. Demi apapun, Madin berharap Richard tidak akan menjalankan rencananya.
Karena jika meleset, Alana akan terluka parah.
"Richard?!" Madin mencoba memperingatkan Menantunya itu.
Iya, Richard memang berencana untuk menembak Alana agar Mr. Wong lengah dan menjauhkan Alana darinya. Saat itulah Richard akan menembak Wong.
"Sayangnya, aku tidak berniat mengirimu ke akhirat dengan cepat." Ledek Richard, dan
Dor!
Mata Alana membulat sempurna ketika merasakan timah panas menyerang pundaknya.
Mr. Wong yang juga terkejut karena tidak menyangka Richard akan menembak, mendorong tubuh Alana dan memeriksa tubuhnya sendiri.
Kesempatan itu tidak disia - siakan oleh Madin, ia menembak lengan Wong. "Aarrgghhh!" Wong berteriak ketika merasakan panas di lengannya.
BUGH! Richard sempat memukul wajah Wong sebelum menghampiri Alana.
*ihaehabnikka - kamu mengerti?
BUGH! Kini Richard yang mendapatkan bogem mentah dari Madin. "Kalau sampe Alana kenapa-napa urusan lu sama gue. Paham lu?!" Amuk Madin.
Richard tidak membalas. Ia menggendong Alana dan membawanya ke mobil. Sedang Madin dan Blue membawa Wong yang masing mengerang kesakitan.
"Sebaiknya lu punya banyak nyawa, karena yang pingin ngabisin lu gak cuman satu orang." Madin memapah Wong dan memasukkannya ke mobil bersama Sarah dan Codet.
"Bawa mereka!"
Anak buah Madin menutup kepala Wong dan Sarah juga Codet dengan kain hitam.
"Madin!" Richard berteriak dari mobil ketika melihat Alana semakin melemah.
Madin berlari mendengar kekhawatiran di suara Richard. Melihat Alana yang yang melemah, Madin.
__ADS_1
Madin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Appa, Angel mana?" lirih Alana lemah.
"Dia sudah di rumah sakit, sayang. Jangan khawatir. Jangan banyak berpikir, oke?" Richard memeluk pundah Alana, sebelah tangannya menekan pundak Alana yang terus mengeluarkan darah. Sepertinya tembakan Richard mengenai titik yang salah.
"Appa, aku berjanji sama Angel, setelah ini kita akan berlibur ke Seoul." Alana terbata-bata.
"Iya sayang, kita akan ke Seoul." Mata Richard memanas, ia merutuki dirinya sendiri.
"Appa, jangan menangis. Ini bukan salahmu." Alana seperti bisa membaca pikiran suaminya. Dengan cepat Richard menghapus air matanya
"Rich, gue ngantuk." suara Alana makin lemah.
"Tidak sayang, jangan tidur. Kita akan segera tiba di rumah sakit." Richard menepuk-nepuk pipi Alana agar Alana tetap sadar.
Menciumi seluruh wajah istrinya. "Jangan menyerah sekarang, sayang. Angel menunggumu. Kita belum bertemu baby." Richard berusaha memberikan semangat pada Alana.
"Madin!" Richard memenangi kursi Madin karena frustasi.
"Appa, dingin." lirih Alana.
"Sayang, jangan menyerah okeh? Jangan tinggalkan aku. Jangan biarkan aku menanggung rasa bersalah dan kehilanganmu. Aku tidak akan sanggup." Richard mengeratkan pelukannya.
"Bangunin dia, Bangsa*t!" Madin mengintip melalui kaca spion, dia liatnya mata Alana terpejam.
"Sayang, ayo berjuang demi aku, demi Angel dan demi baby." Richard harus menghadapi situasi seperti ini lagi.
Pertama saat mobil yang dikendarainya mengalamai kecelakaan dan Rosaline mereka jadi korban meninggal, sekarang lagi - lagi istrinya harus terluka karena kesalahannya.
"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku..." tangis Richard pecah sambil memeluk Alana.
like dan komen ya gaes...
klik mawar juga buat Alana, Richard dan Angel.
__ADS_1