Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#41. Insecure.


__ADS_3

Mikha masih terus menatap punggung dia pria menawan yang tengah bekerja sama mencuci piring bekas Umma Annisa memasak tadi.


Lalu, Mikha menoleh dan melihat ibu mertuanya itu merapikan meja makan. Merapikan sisa makanan serta menyimpannya di tempat khusus.


"Mikha, Umma simpan sisa lauk di dalam kulkas ya. Nanti, sore atau malam bisa kamu hangatkan di microwave. Tenang saja, Roma mau kok mengkonsumsi menu makanan pagi untuk makan malam," kata Annisa. Karena memang anak-anak telah ia didik untuk menghargai makanan.


Sekalipun keadaan keuangannya mampu untuk bergonta-ganti menu makan setiap waktu. Tetapi, memang jika ingin berganti menu maka Annisa akan mengolah sedikit saja. Kebetulan, menu sarapan yang ia buat pagi ini adalah kesukaan dari putranya.


Sehingga, Roma tidak akan menolak untuk mengkonsumsinya terus menerus. Ia juga membawakan menu tersebut untuk bekal makan keduanya nanti siang.


"Baik, Umma. Terimakasih," jawab Mikha.


Bahagia sekali rasanya mendapat perhatian sedetil ini. Mikha seakan memiliki keluarga baru. Keluarga yang ia impikan selama ini. Hingga gadis ini, kembali mengusap air matanya yang hampir jatuh.


"Ya Allah. Mikha ngerasa dejavu. Aku pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Pada saat keluargaku masih utuh. Tapi, kini semua yang hilang itu seakan berada dalam dekapanku lagi saat ini. Apakah aku tidak begitu bodoh bila ingin melepas ini semua, hanya karena takut pada sebuah komitmen? Apakah aku, sepengecut itu?" batin Mikha.


Pikiran serta kata hatinya berperang melawan sisi egoisme yang hendak mengekang serta mengukungnya.


Mikha tak tau apa yang harus ia lakukan karena semua pekerjaan telah di kendalikan oleh keluarga dari suaminya. Seketika Mikha merasa tak berguna. Tak ad satu pekerjaan yang bisa ia lakukan karena semua telah selesai dengan baik dan epik.


Gadis itu merutuki sikap malasnya selama ini sehingga membuatnya tak sigap serta pandai memegang satupun pekerjaan rumah tangga.


Lagipula, keadaan apartemen masih bersih. Mikha memilih masuk kedalam kamar untuk berpikir apa yang harus ia lakukan sebagai seorang istri yang baik.


Ah, istri ya.


Apakah itu artinya Mikha sudah mau menerima pernikahannya?


Entahlah, nampaknya gadis ini masih bingung dengan apa yang ia pikir serta rasakan.

__ADS_1


Mikha sejatinya belum bisa memutuskan. Walaupun sebenarnya apa yang ia cari dalam hidup ini ada pada keluarga Roma. Sosok lelaki yang ia benci dan ia takuti tidak ada dalam diri pria yang telah sah menjadi suaminya ini.


Berkumpul bersama dengan keluarga Roma sangat damai dan tenang. Tidak seperti pada saat ia berkumpul dengan keluarga dari ibunya. Karena sang nenek dan juga bibinya itu telah terbiasa untuk berkata kencang penuh emosi, apapun keadaannya.


Jarang sekali Mikha menemukan obrolan tenang dan momen diskusi seperti apa yang sering di lakukan keluarga ini.


Dalam keluarga ibunya, sang nenek adalah pemimpin dan pengatur. Wanita tua itu seakan tak memerlukan pendapat dari orang lain.


Sepertinya Mikha harus menyelidiki kenapa sang ibu pergi meninggalkannya. Hal apa yang membuat kedua orang tuanya berpisah. Kenapa di alam bawah sadarnya, sang ayah itu terkadang menyerupai sosok yang penyayang terhadap keluarga. Akan tetapi, di satu sisi ada sebuah kenyataan yang mengungkap seolah ayahnya ini adalah satu-satunya sosok yang membuat hidupnya menderita dan tertekan selama ini.


Mikha menekan kepalanya karena seketika rasa nyeri itu menekannya kuat.


"Mikha, ada apa? Apa yang terjadi sama kamu?" Tiba-tiba Roma masuk kamar dan mencecar pertanyaan pada saat pria itu melihat Mikha nampak kesakitan.


Mikha mendongak dan seketika mendapati raut wajah khawatir yang berarti peduli dari sosok tinggi tegap di hadapannya ini.


Mikha tak menjawab pertanyaan Roma, namun kedua mata gadis barbar ini seketika saja menjadi mendung.


Apakah ada lagi keluarga baik yang mau menerima gadis berlatar belakang keluarga tak utuh serta kebiasaannya yang buruk?


Tanpa jawaban satu patah kata pun yang mampu keluar dari bibir Mikha, ia langsung menubrukkan dirinya pada sosok Roma.


Grep!


Roma yang tidak menyangka akan mendapatkan tindakan tak terduga dari Mikha hampir saja terjengkang karena hilang keseimbangan tubuh. Buru-buru, Roma melingkarkan tangannya hingga raga sang istri melekat erat.


Tak mau bertanya lagi, karena Roma tau saat ini Mikha hanyalah butuh tempat dan waktu untuk meluapkan perasaannya saja. Sehingga, pria itu hanya menggerakkan tangannya pelan untuk mengusap punggung Mikha.


Setelah beberapa saat kemudian dan keadaan Mikha yang nampaknya sudah lebih baik. Roma membiarkan sang istri melepaskan sendiri tubuhnya dari dekapan dirinya.

__ADS_1


"Sudah lebih baikkah atau kamu butuh sesuatu? Biar ku ambilkan," kata Roma penuh perhatian.


Mikha menggeleng, rasanya justru ingin kembali menangis pada saat ibu jari Roma bergerak perlahan demi menghapus air mata di kedua pipinya.


Mikha langsung meraih telapak tangan itu. Dan membiarkan hatinya menikmati perasaan yang merasuk ke dalam hatinya begitu saja.


"Menangislah lagi jika belum keluar semua. Atau mau aku antar ke suatu tempat agar kamu bisa meluapkan segalanya yang terpendam?" tanya Roma menawarkan waktu serta bahunya.


"Aku harus kuliah, dan kamu pun harus mengajar. Ini sudah lebih dari cukup. Rasanya aku sudah lama sekali tidak menangis seperti ini," jawab Mikha dengan gelengan kepala.


"Baiklah kalau itu maumu. Tapi, Jangan sungkan bilang aja kalau mau jalan kemana gitu. Insyaallah aku akan selalu menyediakan waktu buat istriku ini," kata Roma seraya mengusap pucuk kepala Mikha. Jangan lupakan senyumnya yang sangat menawan, bahkan bisa membuat wanita manapun meleleh di buatnya. Termasuk Mikha.


Perlahan hati gadis ini mulai luluh dan terpikat dengan segala perhatian tulus dari Roma.


"Kamu begitu baik, juga keluargamu itu. Kamu bahkan hampir sempurna bagi seorang laki-laki. Apakah aku ... yang cewek barbar ini pantas untuk pria sebaik kamu, Kak Roma?" Mikha berkata sambil menatap pria di hadapannya dengan dalam.


"Kamu ini ngomong apa!" sahut Roma sambil menarik ujung hidung Mikha yang juga mancung tapi agak sedikit bulat. Tidak sepertinya yang lancip macam bule Eropa.


"Mikha ... hanya mencoba untuk tetap sadar diri," jawabnya.


"Kalau begitu, terimalah pernikahan ini dari hatimu. Berjalanlah di titian yang telah Allah bentangkan di hadapan kita saat ini dengan ikhlas. Lakukan, karena Allah bukan karena hal yang lain," kata Roma mencoba memberi pengertian pada Mikha.


"Entahlah, hanya saja Mikha ... masih sedikit takut," jawabnya.


"Terima dan jalani. Selanjutnya serahkan pada Allah. Semoga akan ada kebaikan juga yang menyertai kita," tutur Roma tetap dengan cara bicaranya yang lembut.


Pria ini yakin jika lambat laun hati serta pikiran Mikha pun akan terbuka untuk menerima takdirnya.


"Mikha. Aku gak mau berjanji akan selalu membahagiakan kamu. Karena tak ada satu manusia pun yang tau masa depannya nanti bagaimana. Akan tetapi aku akan berjanji untuk selalu berpegang teguh pada syariat Allah dalam membimbing mu di dunia."

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2