
Sesampainya di bandara betapa senangnya Roma pada saat bertemu dengan Oma dan juga Opanya. Tuan Alberto dan Nyonya Eliana menyambut cucu tampannya itu dengan pelukan hangat.
"Kau ini sok sibuk ya, sampai lupa mengunjungi Opa dan Oma," protes Alberto seraya menepuk pelan bahu lebar Roma.
"Maafkan Roma, Opa, Oma. Aku kan baru saja diangkat menjadi dosen. Banyak hal yang mengenai pengajaran yang harus di susun. Makanya demi pertemuan kita, aku minta cuti tiga jari sekalian meliburkan para mahasiswa dan mahasiswi ku," lapor Roma yang merasa tak enak karena memang dirinya jarang sekali berkunjung.
Karena semenjak kuliah Roma juga sering membantu ketua dekan serta beberapa dosen untuk memberikan bimbingan pada setiap mahasiswa baru.
"Sehat-sehat itu yang terpenting, dan terhadap doamu selalu terkirim untuk Opa dan Oma. Karena kami berdua pun seperti itu. Selalu mendoakan agar anak dan cucu kami selalu dalam perlindungan Allah dan di limpahkan Rohmat serta kesejahteraan dalam hidupnya," kata Alberto lagi. Usianya yang hampir menginjak tujuh puluh tahun tak menjadikan fisiknya renta dan ringkih. Justru ia masih terlihat bugar.
"Insyaallah Opa, selalu dan terimakasih. Roma senang melihat kalian berdua sehat dan bugar seperti ini," kata Roma yang mana langsung membuat Eli menarik wajah cucunya itu untuk menciuminya. Roma menurut saja, ia tak pernah menolak apapun yang ingin dan akan di lakukan oleh neneknya ini.
Karena Roma pantang membuat tersinggung mereka. Tak ada alasan baginya untuk menolak bukan? Inilah wujud pelimpahan kasih sayang kepadanya. Bahkan, jika Umma Annisa yang melakukannya pun roma takkan menolak.
"Mikha, sini sayang," panggil Oma Eli.
"Iya Oma. Apa kabar?" sapa Mikha berlaku sopan.
"Alhamdulillah,Oma baik sayang," jawab Eli.
"Oma terlihat makin cantik sejak awal kita bertemu beberapa bulan lalu. Apa sih rahasianya?" tanya Mikha dengan pujiannya yang jujur dari hati. Karena, Oma Eli memang terlihat cantik meksipun hanya terlihat matanya saja.
Sebab, Oma Eli berdandan seperti Umma Annisa. Mengenakan jilbab syar'i berikut dengan niqob–
-nya. Begitu juga dengan Adiba. Gadis remaja itu terlihat seperti princess dengan jilbab yang lebar menjulur hingga ke bawah melewati perut.
Bagian bawah gaun gamisnya juga lebar sehingga melambai-lambai ketika ia berjalan.
Mereka bertiga, Oma Eli, Umma Annisa dan Adiba, terlihat begitu anggun dengan pakaian tertutup mereka. Sungguh, Mikha terbersit rasa ingin menyerupai seperti itu.
"Mikha, ayo ajak suamimu juga sekalian. Kita sarapan di restoran sana," ajak Annisa yang seketika membuyarkan lamunan Mikha.
"Ah, iya Umma," jawabnya sedikit terbata karena kaget. Kelakuannya tentu saja mencipta senyum di balik niqob Annisa.
"Umma yakin, suatu saat kamu akan menyadarinya untuk menutup aurat secara sempurna," batin Annisa.
Mikha langsung menghampiri Roma dan menyampaikan apa yang umma Annisa sampaikan tadi.
__ADS_1
Mereka bertujuh pun masuk kedalam restoran dan bersiap menikmati sarapan nasi uduk ayam bakar kalasan.
Tak lama waktu keberangkatan tiba.
Mikha menghempaskan rasa sungkan dan malunya untuk meminta ijin memegang telapak tangan Roma, suaminya.
Mengindari rasa takut ketika pesawat mulai landing.
Kedua mata Mikha terpejam erat dengan cengkeraman tangannya yang semakin kuat.
Roma hanya tersenyum mendapati kelakuan istrinya yang baru pertama kali naik pesawat ini.
Setelah pesawat tersebut stabil di atas sana. Perlahan Mikha pun mulai merenggangkan cengkeraman pada lengan Roma yang mana ternyata meninggalkan bekas luka dari tancapan kuku di sana.
Pada saat itu dia mata Mikha terbuka sempurna maka kagetlah dirinya.
"Astagfirullah, ya Allah!" Mikha merasa bersalah dan ia buru-buru membuka tas untuk mencari plester perban.
"Maaf ya Kak. Mikha gak sengaja dan bermaksud untuk melukai kamu," katanya takut-takut.
Setidaknya Mikha secara perlahan telah mengerti sebagaimana posisi Roma sebagai suaminya yang notabene harus ia hormati demi mendapatkan ridho Allah.
"Lo keterlaluan banget sih Mikha jadi istri. Masa tangan suami sendiri di tancepin kuku," batinnya mengomel.
Melihat Mikha tertunduk sedih, Roma mengulurkan tangannya untuk meraih dagu istrinya itu agar menghadap kepadanya.
"Aku gak marah, Mikha. Kamu gak usah sedih gitu. Lagian juga udah kamu obatin. Jadi kamu gak dosa karena kan emang gak di sengaja," kata Roma lagi yang tau apa yang saat ini sedang Mikha pikirkan.
"Mikha tetap merasa bersalah. Rasanya gak enak di sini," kata Mikha sambil menunjuk dadanya.
"Perasaan apa itu? Katakan padaku agar lebih baik," pinta Roma.
Mikha menoleh dan menatap mata suaminya dengan lekat. "Mikha merasa selama ini telah berbuat dosa terus sama kamu. Belum bisa jadi istri yang baik, meninggalkan suami tidur sendirian melukai fisik. Aku ini, sangat buruk kan?" tutur Mikha dengan penyesalan yang kentara dari kedua matanya.
"Aku mengerti Mikha. Aku paham dan ikhlas menerima semuanya. Karena aku tau kamu itu belum siap. Kamu gak dosa selama aku ridho," jelas Roma pelan agar Mikha paham.
"Terimakasih Kak. Kamu adalah laki-laki yang baik," kata Mikha lagi yang kini tak ragu lagi untuk memasang senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Udah, ah. Kita harus bersenang-senang nanti. Sebentar lagi juga pesawat ini akan mendarat," kata Roma.
"Hah, apakah akan sama menakutkannya seperti akan terbang?" panik Mikha.
"Enggak kok, kamu tenang aja kan ada aku," kata Roma menenangkan dengan menepuk punggung tangan istrinya itu.
Benar saja, tak lama kemudian pesawat tersebut mendarat dengan sempurna dan selamat.
Mikha tak lagi merasa takut karena Roma terus menggenggam tangannya.
Kini sampailah mereka di tempat tujuan sebuah kota yang indah dengan panoramanya yang memanjakan mata.
Kedatangan mereka ke kota itu di sambut oleh satu mobil mewah yang berbentuk panjang alias Limosin.
"Siapa yang menyiapkan ini semua?" tanya Mikha pelan si samping telinga Roma.
"Siapa lagi kalau bukan Opa Alberto," jawab Roma dengan berbisik.
Mikha nampak terkesiap kaget karena mendapati wajah Roma yang nampak dekat sekali dengannya. Sesaat Mikha terlihat menghentikan napasnya.
Roma hanya tersenyum simpul melihat di wajah istri kecilnya itu.
"Dia semakin lucu aja kalo malu-malu gitu. Kapan sih Mikha, aku bebas melakukan apapun sama kamu. Sampai kapan kamu menguji aku dengan berbagai ekspresi yang menggemaskan itu," batin Roma.
Sejujurnya pria ini sangat berharap bahwa liburan ini akan membawa makna bagi keduanya. Terutama hubungan pernikahannya dengan Mikha.
Mereka di sambut oleh seorang sopir dan satu bodyguard.
"Selamat datang, Tuan Alberto dan keluarga! Silakan masuk," kata sopir dan pengawal itu serempak seraya menundukkan kepala mereka.
"Terimakasih!" jawab Alberto dengan suara tegasnya.
"Masyaallah. Belum pernah aku naik mobil semewah ini," batin Mikha bahagia.
Bersama keluarga Roma ada saja kejutannya. Niatnya semakin mantap untuk menerima takdir di masa mudanya ini.
Karena posisi serta keberuntungannya ini mungkin saja sangat diimpikan oleh orang lain.
__ADS_1
Bukannya mungkin, Mikha ... tapi sudah pasti.
...Bersambung ...