Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Delapan Puluh Tiga


__ADS_3

Gue berhasil memaksa dokter untuk mengijinkan gue turun dari ranjang.Marlin bilang Angel tidak seperti biasa, dia lebih banyak diam. Perasaan gue gak enak, jadi gue mau nemuin Angel dan bicara sama dia.


Richard membantu gue untuk naik keatas ranjang Angel.Setelah gue merasa nyaman dengan posisi gue, gue minta Richard dan Marlin untuk meninggalkan kami.


Gue membawa Angel masuk kepelukan gue. Benar kata Marlin, ada yang aneh pada Angel. Tidak ada wajah senang dan ceria saat ketemu gue.Pandangannya kosong dan lurus kedepan. "Sayang..."


Angel diam, tidak memberikan reaksi apapun. Gue mengusap rambut anak sambung gue. Berusaha memberikan kenyamanan dan keamanan padanya.


"Kamu gak kangen sama Eomma?" Angel masih diam.


"Apa eomma ada salah sama Angel?" tidak ada reaksi. "Kalau Eomma ada salah sama Angel, Eomma minta maaf. Angel boleh hukum Eomma. Tapi jangan diamkan Eomma kayak gini. Eomma khawatir."


"Apa Angel takut?" ini tebakan terakhir gue mengingat apa yang baru saja Angel alami tidak menutup kemungkinan dia syok dan merasa takut hingga menjadi seperti ini.


Gue kembali membelai rambutnya. Mencium pucuk kepalanya. "Eomma juga takut. Tapi Appa sudah menjemput kita kan? Sudah ada Appa yang menjaga kita sekarang. Ada Kakek dan Uwak juga Jadi kita gak perlu takut lagi."


Angel mengeratkan pelukannya. Gue mulai mendengar suara isak tangis. Gue biarkan sampai Angel merasa tenang."Sakit, Eomma." lirihnya.


Pandangan gue menyapu seluruh tubuh Angel. Kata Marlin Angel tidak mengalami luka serius, hanya memar didahinya. Angel harus dirawat karena dehidrasi dan membuatnya merasa tenang.

__ADS_1


"Mana yang sakit, hum?"


*****


"Sayang, kamu mau kemana?" Richard khawatir karena melihat gue melepas infus hingga darah keluar dari tangan gue. Tapi gue diam, darah gue terlalu mendidih saat ini dan perlu pelampiasan.


"Lu mau kemana?" Uwak masuk ke kamar gue.


"Rich, hape." gue mengambil baju ganti, mengambil ponsel dari tangan Richard dengan kasar dan meninggal Uwak dan Richard dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


"Kunci mobil." gue tidak memperdulikan wajah khawair Uwak dan Richard.


"RICH! Kunci mobil!"


"Aku antar." Dia tidak akan membiarkan aku pergi sendirian. Jadi aku biarkan saja.


Uwak menangkap tangan gue sebelum gue keluar kamar. "Lu mau kemana?" tanyanya dengan tatapan tidak ingin dibantah.


"Markas. Jangan cegah abi." Gue membalas tatapan Uwak Madin. Dia tahu gue sedang marah saat ini.

__ADS_1


"Kita kemana Sayang?" Richard sedang mengemudi mengikuti arahan dari gue. "Apa bahu mu baik - baik saja? seharusnya kamu belum boleh bergerak sayang" Gue gak menjawab pertanyaan Richard, tapi tetap memberikan arahan padanya.


"Tempat apa ini?" Setelah satu jam berkendara, akhirnya mobil berhenti disebuah rumah besar.


"Markas." Gue meringis, nyeri mulai terasa dipundak gue. Harusnya tadi gue minta penghilang rasa sakit sebelum pergi.


"Kita bisa kesini setelah kamu sembuh, Sayang." Richard masih belum mengerti alasan gue. "Wong dan Sarah bisa menunggu. Kita tunggu sampai kamu sembuh dulu, oke?"


Gue menyerahkan ponsel Richard. Sengaja menyiapkan sesuatu yang harus ia lihat. "Apa ini, Sayang?"


BRAGH!! Richard memukul setir mobil saat menonton video yang Ecco kirimkan. Yah saat dikamar mandi tadi gue minta Ecco untuk mengecek CCTV dikamar Angel sebelum Angel diselamatkan.


Kini Richard pun sama emosinya dengan gue. Wajahnya memerah, rahang Richard mengeras. Ada air mata disudut matanya. Berkali - kali ia memukul setir mobil melampiaskan kemarahannya.


"Ayo, Appa."


Aku merinding nulis bab ini. 😭


Satu bab lagi agak siang ya gaes.

__ADS_1


__ADS_2