
"Kenapa gue mesti kesel?" tukas Mikha seraya memasukkan buku-bukunya kedalam tas dan langsung menggendongnya ke belakang punggung dengan kasar. Body language Mikha sudah jelas sekali kenyataan bahwa dirinya nampak gusar dan tak suka dengan apa yang terlihat di depan matanya.
"Ya itu, karena Janet genit banget sama Pak Dosen kita yang gantengnya masyaallah," kata Ocha gemas.
"Itu kan emang udah gayanya dari dulu. Semua guru laki-laki pasti digenitin sama dia. Lalu, urusannya sama aku apa?" kilah Mikha yang berusaha menyembunyikan perasaan dari kedua kawannya ini.
"Yakin nih, kalo ini gak ada urusannya sama Lo?" tandas Ichi dengan tatapan penuh selidik.
"Maksud Lo apa dah Chi?" heran Mikha. Merasa seakan kedua kawannya ini tengah mencurigainya tapi apa? Tak mungkin kan mereka tau? Pikir Mikha.
"Masih aja pura-pura dia Cha," kata Ichi geram.
Mikha yang tidak paham apa maksud dari kedua kawannya ini mencoba melangkah pergi untuk keluar dari kelas. Meski sekilas tatapannya mengarah kembali pada Roma yang sekilas meladeni ucapan Janet.
"Tuh kan, tua anak main pergi aja!" keluh Ocha. Ia dan saudari kembarnya itu langsung mengejar Mikha.
"Mikha! Tunggu kenapa sih!" panggil si kembar Ichi dan Ocha yang selalu saja ketinggalan karena kalah cepat dalam melangkah.
Sementara langkah kaki Mikha itu selalu panjang.
"Kenapa lu berdua ngikutin gue? Bukannya ke kantin sana!" usir Mikha karena seperti biasa dia akan makan siang di taman.
Terkadang Roma akan menghubunginya dan memanggilnya ke dalam ruangan kerja agar mereka bisa makan bersama. Itupun harus di lihat dulu situasi dan kondisinya.
__ADS_1
"Kita ma makan bareng kamu, Mi," jawab Ichi yang enggan di usir.
"Iya, kita juga bawa bekal demi bisa makan siang bareng sama kamu," timpal Ocha.
Secara mendadak langkah Mikha pun terhenti.
"Apa? Tapi aku--" Mikha dapat meneruskan ucapannya karena seketika dipotong oleh si kembar Ichi dan Ocha.
"Udah deh, ayok!" Si kembar manis dengan pasmina yang selalu berwarna senada ini mendorong Mikha untuk kembali meneruskan langkahnya.
Mau tak mau, Mikha mengikuti kemauan dari kedua sahabatnya ini seraya berharap jika Roma takkan menghubunginya untuk mengajak makan bersama.
Tapi, setelah lelaki itu mau menerima obrolan dari Janet, akankah Roma masih akan menghubunginya? Mampukah suaminya itu menolak pesona seorang Janet?
Tiba-tiba, ada perasaan aneh yang kini tengah menyelimuti hati sehingga membuat perasaan Mikha seakan di naungi awan yang kelabu.
"Tempatnya memang enak ya. Pantes aja kamu betah Mikha," celetuk Ichi.
Mikha diam saja sama sekali karena pikirannya saat ini terdampar pada sosok Roma.Biasanua Mikha tak pernah nyaman dan selalu terpaksa apabila suaminya itu memanggilnya ke kantor untuk makan siang bersama.
Akan tapi pada saat ini dirinya justru berharap kalau Roma mengajaknya makan siang.
Mereka bertiga pun langsung mengeluarkan kotak bekal. Tatapan dari kedua mata si kembar langsung tertuju pada kotak bekal yang dibawa oleh Mikha.
__ADS_1
Tentu saja karena aroma yang menguap setelah Mikha membuka kotak bekal tersebut.
"Hei, kamu bawa menu apa sih, Mi? Wanginya kayak enak banget," tanya Ichi penasaran.
"Cuma tumis genjer sambel Pete dan cumi," jawab Mikha.
Sontak kedua kawannya itu langsung menelan ludah.
"Bagiii!" teriak keduanya.
"Nih, ambil aja. Aku lagi gak berselera," kata Mikha seraya mendorong kotak bekal yang harganya mahal itu. Kalau tidak salah namanya Teparware.
"Wehh, makasih banyak Mi!" pekik Ocha yang kegirangan tanpa memikirkan apakah Mikha lapar atau tidak.
Dasar mata makanan.
"Lo serius, Mi? Terus nanti kalo Lo laper gimana?" tanya Ichi memastikan.
"Udah makan aja, gak usah mikirin gue!" tukas Mikha.
"Udahlah, Chi, makan aja! Ini enak banget tauk. Ayam geprek Richesee mah kalah dah sama sambel cumi campur Pete," kata Ocha.
"Lo bener juga, Cha. Lagian kalo orang lagi cemburu emang gak bakalan napsu makan. Ah, daripada mubazir mendingan kita hajar," sahut Ichi.
__ADS_1
"Siapa maksud Lo yang cemburu!" kesal Mikha yang merasa di sindir.
...Bersambung...