
Dua mahasiswi itu mencekal lengan Mikha dengan kuat dan terus menyeretnya naik ke roof top dari bangunan kampus.
Bukan Mikha tak mau melawan. Akan tetapi, gadis ini sengaja ingin melihat siapa lagi musuhnya di kampus ini Entah kenapa banyak sekali orang yang tak suka kepadanya.
Padahal selama ini Mikha tak pernah bersinggungan dengan orang lain. Tetap saja ada beberapa orang yang ingin menghancurkannya.
Setibanya di atas, dua perempuan tadi langsung melepaskan Mikha. Mereka berlalu dan Mikha tak mau tau kemana keduanya pergi.
Mikha langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok yang menginginkannya berada di tempat ini.
Tak berapa lama, tiga orang pria langsung mendatangi Mikha yang hanya seorang diri ini. Di ingatannya pemuda itu adalah pria yang pernah mengganggunya ketika makan siang dan sempat beberapa kali Mikha memergoki pria tersebut asik menggoda anak baru di belakang bangunan kampus.
"Heh, nongol juga dia!" tegur, Ferdi salah satu satu kawan Roy Joyden yang tempo hari juga menyaksikan aksi keduanya.
Roy langsung menatap tajam dengan menyeringai sinis ke arah Mikha.
"Jadi ini kerjaan Lo?" kesal Mikha seraya menudingkan jadi telunjuknya ke depan wajah pemuda tampan dengan gaya brandal ini.
"Seharusnya, Lo udah gak muka untuk nunjukin diri di kampus ini, Roy!" seru Mikha tegas. Wajah gadis itu sangat dingin tanpa ekspresi. Mikha ingat jika Roy adalah salah satu penantang di arena semalam.
Ucapan Mikha barusan membuat Ferdi dan Wandi, dua teman Roy yang berdiri di sampingnya bergidik dengan aura yang dikeluarkan oleh Mikha. Baru kali ini, ia melihat sosok wanita yang mampu mengintimidasi laki-laki hanya dengan tatapannya saja.
Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Roy. Pemuda itu, justru semakin penasaran dan maju mendekat. "Lu berdua bawa dia ke depan gue!" titah Roy pada kedua anak buahnya ini. Roy terlihat sangat penasaran sekaligus keki pada Mikha padahal pemuda ini tak tau jika gadis di hadapannya ini adalah si raja malam.
Roy telah menyiapkan rencana ini hanya untuk menjebak Mikha agar gadis itu tak lagi besar kepala dan tau diri. Sebab, selama ini belum ada satu orang pun yang berani melawannya.
"Nih cewek, udah dikerubuti masih bisa masang ekspresi sesantai itu." Roy semakin geram melihat keberanian Mikha.
"Gue udah duga, kalo Lo cuma anak mami yang pengecut! Mau ngelawan gue aja bawa pake bawa pasukan segala. Gak tau malu!" sarkas Mikha. Gadis itu menatap satu persatu sosok yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
Makin mendidih saja amarah dalam darah seorang Roy. Sudah semalam dia kalah telak di depan banyak orang. Kini, gadis cantik dihadapannya justru dengan sombong mengatainya sebagai anak mami.
Ingin rasanya bibir ketus Mikha saat ini ia ***** sampai habis. Karena makan lama gadis itu semakin seenaknya saja bersikap padanya.
"Heh." Roy menyeringai sinis melihat aksi Mikha yang begitu percaya diri dan sok berani menurutnya.
"Eh Lo. Denger ya! Kalo cuma buat ngeladenin Lo siang si, gue kagak membutuhkan bantuan mereka. Dengar, lo itu cuma seorang wanita. Apa yang lo bisa? Baru punya wajah cantik saja sudah bisa bikin Lo ounyav besar kepala seperti ini!" sindir Roy dengan senyum sinis.
Mikha ingin sekali tergelak namun ia hanya tersenyum miring menanggapi omongan pria yang selalu memandang rendah wanita ini. Lihat saja apa yang bisa Mikha lakukan padanya.
Apalagi Mikha bukankah tipikal wanita yang sabar. Ia selalu menggunakan otot dan kekerasan demi melumpuhkan lawannya.
Sekalipun dirinya wanita, yang mana dituntut untuk berlaku lemah lembut. Tetapi, tidak dengan kaum pria yang sombong dah kurang ajar seperti Roy.
Bahkan Mikha pada saat ini sudah mengepalkan kedua telapak tangannya. Urat-uratnya sudah tegang menahan kesal. Akan tetapi ia menunggu waktu yang tepat. Untuk membuat pria itu malu termakan omongannya sendiri.
Menganggap enteng lawan di hadapannya hanya karena dia berjenis kelamin wanita yang terlihat manis bak gulali di matanya. Bahkan dengan percaya diri membuat sebuah permainan dengan Mikha sebagai taruhannya.
"Hati-hati, Roy. Tidak semua yang nampak indah itu baik untukmu. Bahkan, mawar saja memiliki duri di sekujur tubuhnya," ucap Mikha memperingati. Gadis dengan bibir yang seksi bak buah plum itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya kemudian mengenakan itu di kedua telapak tangan.
Sontak saja hal itu membuat Roy menatap heran, kenapa Mikha harus mengenakan sarung tangan berwarna hitam itu.
Tanpa sepengetahuan Mikha, kedua mahasiswi yang tadi menyeretnya kesini dan beberapa mahasiswi lainnya, kini telah berada di belakang sebuah dinding menyaksikan kejadian ini sambil bersembunyi.
"Halah, gak usah sok pintar di depan gua. Mending lu nurut dan gua jamin lu bakal hepi selama kuliah di sini!" Roy maju dengan cepat dan hendak meraih tangan Mikha.
Akan tetapi, dengan cepat pula Mikha mencengkeram tangan Roy yang hendak menyentuhnya lalu memutar lengan itu cepat. Seketika, tubuh tinggi atletis Roy pun ikut berputar membelakanginya.
Ough!
__ADS_1
Terdengar lengkingan dari mulut Roy Joyden. Ketika, Mikha memutar dan menekuk lengannya di punggung.
Pemuda itu seketika merasakan nyeri dan panas dipergelangan tangannya. Seakan Mikha hendak mematahkan tulangnya saat ini.
Ketika tubuh Roy, membelakanginya, maka Mikha langsung segera menendang kaki pemuda tersebut hingga kemudian jatuh berlutut.
Roy pun tersungkur sambil merintih kesakitan. Hingga, Ferdi dan beberapa kawan lainnya maju menolong.
"Dia bisa bela diri. Lu semua kudu balas dia demi gua cepat!" teriak Roy memberi titah pada kawannya untuk menyerang Mikha. Roy kembali tersenyum smirk ketika membayangkan bahwa Mikha takkan bisa berkutik dan sombong lagi setalah ini.
Tapi apa yang terjadi?
Ferdi yang lebih dulu maju kemudian di susul oleh Wandi, nyatanya kedua pemuda ini juga dapat menyentuh Mikha.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, dengan cepat berkelit lincah dari serangan lemah kedua pemuda payah di hadapannya.
Mereka berdua dengan ilmu berkelahi yang tak seberapa tentu saja, dengan mudah dapat di patahkan serangannya oleh Mikha.
Tak tak.
Bugh!
Mikha yang memiliki beberapa keahlian beladiri mampu menangkis tendangan yang di arahkan Ferdi dengan gerakan lincah dan kuat pada kaki kanannya.
Outfit yang Mikha kenakan memang memudahkannya untuk bergerak menyerang dengan bebas. Karena, dia mengenakan celana Jogger berbahan tebal yang tidak memperlihatkan bentuk kakinya.
Ferdi dan Wandi mengusap tulang keringnya yang panas sambil meringis karena beradu kaki dengan Mikha rasanya sakit bukan main.
...Bersambung...
__ADS_1