
"Jadi, kita bakalan tidur satu kamar?" bisik Mikha kepada Roma pada saat keduanya berada di dalam kamar untuk mengambil wudhu.
Maghrib sudah tiba, dan Choki mengajak anak, menantu serta istrinya itu untuk solat berjamaah.
"Ya, mau gimana lagi," jawab Roma yang memasang wajah tak bisa berbuat apa-apa padahal hatinya bersorak gembira.
"Duh, gawat deh!" celetuk Mikha.
"Gawat kenapa?" telisik Roma.
"Nanti malam kan Mikha mau balapan. Masa harus batal lagi. Bisa hancur nama raja malam," jawab Mikha jujur. Karena memang dirinya sudah mati-matian meyakinkan komunitas tersebut bahwa semalam dia tak hadir karena ada sesuatu hal yang tidak bisa di tinggal. Serta Mikha berjanji bahwa malam ini dirinya pasti datang.
Tetapi, jika kedua mertuanya menginap lantas bagaimana Mikha akan pergi sekalipun Roma mengijinkannya.
"Intinya aku sudah konsekuen dengan janjiku padamu. Soal ini, aku pun tak bisa memprediksinya. Aby dan Umma tiba-tiba datang begitu saja dan berniat menginap. Masih untung, mereka tidak mencurigai kamar sebelah," kata Roma.
Mikha hanya bisa menghela napasnya berat. Bagaimanapun caranya dia harus bisa keluar nanti malam dan pulang sebelum jam dua malam. Karena ia tau jika keluarga Roma ini hobi sekali solat dini hari.
Dimana semua orang sedang asik bergelung di bawah selimutnya yang hangat justru keluarga Roma akan menempelkan kening di atas sajadah dan setelahnya mereka pasti akan menengadahkan tangan untuk meminta apapun dari sang maha kaya itu.
"Roma, Mikha, ayo!" panggil Umma Annisa sambil mengetuk pintu kamar.
"Baik Umma!" jawab Roma.
"Yok kita keluar. Nanti lagi aja bahas lagi," kata Roma yang tidak mungkin menarik tangan Mikha karena mereka telah dalam keadaan suci berwudhu.
Choki memimpin solat berjamaah kali ini.
Seperti solat jamaah sebelumnya. Mikha kembali merasakan debaran yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Perasaan tenang dan damai yang seketika datang memeluk raganya.
Tak ada lagi rasa ketakutan seperti sebelumnya, yang ada hanya jiwa yang tenang dan khusuk. Apalagi Aby Choki membawakan setiap ayat suci tersebut dengan tartil yang begitu merdu.
__ADS_1
Hampir dua puluh tahun tiga a tahun sudah Choki mendalami agama serta menghafal Al Qur'an kepada salah satu guru yang memang ia datangkan dari salah satu pondok pesantren termasyur di kotanya.
Dan inilah hasilnya.
Choki dapat membawakan ayat suci Al Qur'an dengan pembawaan serta Tartil yang bagus dan merdu. Tak ada satupun orang yang mampu bertahan untuk tidak meneteskan air mata harunya kala mendengarkan lantunan ayat demi ayat Kalam ilahi tersebut.
Termasuk Mikha. Gadis yang terkenal berhati hati dan tak mudah tersentuh karena rasa empatinya telah terkikis rasa kecewa. Akan tetapi saat ini, ia menangis kala sang ayah mertua melantunkan suroh pendek setelah Al-fatihah.
Mikha menahan tangisnya agar jangan sampai mengeluarkan suara selain bacaan solat dari bibirnya. Karena nanti sholatnya bisa batal.
Pada saat mendengar Roma saja seluruh buku kuduknya mampu berdiri semua saking merinding terbawa suasana. Apalagi ketika yang membaca suroh Al Qur'an adalah sang Aby Choki. Mikha sungguh tak mampu lagi menolak kekuatan yang masuk ke dalam dadanya.
Satu hal lagi yang membuat Mikha menangis adalah. Betapa sempurna kedua orangtuanya ini serta betapa beruntungnya Roma dilahirkan di keluarga seperti ini.
Kenapa seluruh kebahagiaan Allah berikan kepada keluarga Roma. Kenapa tidak di bagi sedikit saja pada keluarganya?
Bermacam pertanyaan mulai bermunculan untuk merusak rasa syukurnya. Bisikan dari syaitan mulai terdengar lirih membakar kebencian yang hampir padam di hati gadis baik hati ini.
Ya, sebelumnya Mikha adalah sosok gadis manis yang baik hati Entah apa dan siap yang merubah sifat serta sikapnya itu.
"Tidak boleh. Mikha tidak boleh mengingat semua hal yang baik tentang Rudi. Cucuku itu harus membenci ayahnya sendiri," gumam wanita yang berusia sekitar enam puluh tahun lebih itu. Namanya Sumarni. Keenam cucunya memanggil Nek Sumsum padanya.
Berikut dengan sirih yang tak lepas ia kunyah sepanjang hari. Meskipun, tampilannya sudah modern tapi nenek enam cucu ini tetap menjalani tradisi lama dengan mengunyah sirih agar gigi mereka awet tidak rusak apalagi ompong. Walaupun warnanya telah berubah menjadi semerah darah.
Hayo siapa di sini yang punya nenek masih nyirih?
Ibu dari Sonia, mantan istri Rudy ini memang selalu mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Bahkan rumah tangga anak pertamanya juga tak kalah tragis. Karena harus di tinggal mati sang suami lantaran bunuh diri.
Ayah dari Janet, nyatanya tak sanggup jika terus menerus di setir oleh Sumarni sebagai ibu mertuanya. Sampai pada akhirnya pria itu terjerat pinjaman online Hingg puluhan juta.
Akan tetapi, lagi-lagi Nek Sumsum memutar balikan fakta kisah sebenarnya kepada cucu-cucunya itu. Sehingga tanpa sadar wanita tua ini menggiring opini agar semua membenci satu orang akan tetapi ia tak sadar bahwa itu perlahan menghancurkan hidup cucu yang katanya ia sayang.
__ADS_1
Sumarni sama sekali tak tau imbas yang terjadi akibat sifat benci dan dengkinya yang tanpa alasan ini.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar wanita tua ini di ketuk kencang beberapa kali.
"Kurang ajar. Itu pasti ulah Janet. Cucuku yang satu itu selalu menganggap jika telingaku ini sudah tuli," batin Sumarni kesal.
Sejak cucunya itu kecil Sumarni sudah terlihat tak suka karena Janet mengambil paras dari ayahnya bukan dari sang ibu yang putih kebulean sama seperti Sonia.
Tak lama pintu terbuka setelah Sumarni memutar anak kunci. "Ada apa? Jangan mengajak Nek Sum solat lagi aku tidak mau," kata Sumarni.
"Siapa yang mau ngajakin Nek Sum solat. Aku aja kesini mau ngumpet!" ketus Janet dengan cara bicara menekan.
"Emang dasar Janet kurang ajar. Dia selalu bicara padaku dengan nada yang tidak sopan. Ingat kau itu masih tinggal menumpang di atas tanahku," batin Sumarni tak suka. Apalagi wajah Janet yang hitam manis dengan kulit eksotis ini benar-benar menuruni genetik sang ayah. Menantu miskin yang tak berguna bagi Sumarni.
"Ya udah sana. Jangan berantakin kasur nenek!" pekik Sumarni pada saat Janet mulai berguling-guling di atas tempat tidurnya.
"Pelit dah kalo sama aku. Coba kalau Mikha yang main. Pasti gak akan dimarahin kayak gini. Gak bisa apa sayangnya adil sama aku?" batin Janet yang seketika merasa panas membakar hatinya.
"Awas aja Lo Mikha. Mending gak usah balik aja lagi Lo kerumah ini," batin Janet lagi.
Nyatanya tak ada yang tau jika Mikha sudah menikah kecuali sang ayah Rudi.
Karena Mikha sendiri pun tak mau sampai saudara serta neneknya tau masalah yang menimpanya malam itu.
Kembali ke apartemen, khususnya kamar utama yang di tempati Roma.
Hari semakin larut tapi Mikha sama sekali tak ada keinginan untuk memejamkan kedua matanya.
"Lebih baik aku pergi ke sirkuit daripada harus tidur sama cowok ini," batin Mikha.
Roma yang tidur membelakangi Mikha, pura-pura telah memejamkan kedua matanya. Tetapi, pada saat istrinya itu melangkah keluar dari kamarnya diam-diam. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba ada sebuah suara yang mengagetkannya.
__ADS_1
"Mau kemana? Udah jam sebelas malam?" tegur sosok yang tinggi tegap dan berkharisma itu.
...Bersambung ...