Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Tujuh Puluh Enam


__ADS_3

Mr. Wong melihat gue dan Angel seperti sedang menelanjangi kami. Gue masih menyembunyikan Angel dibelakang gue.


"Ouch... Aku tidak sabar mencicipi mereka." Mr. Wong menjilati ibu jari yang tadi dia gunakan untuk meraba bibir gue.


Fix, ini aki - aki ini sakit!


"Sabar Robert, kamu akan mendapatkan mereka. Keduanya sekaligus." Sarah terdengar seperti sedang menghibur Mr. Wong.


Sarah ternyata juga sakit jiwa.


Mereka berdua meninggalkan kamar sambil tertawa puas.


"Eomma, Angel takut." Lirih gadis kecil itu. "Angel takut seperti dulu lagi."


"Gak akan sayang. Eomma akan jagain Angel." Gue membawa Angel kembali masuk ke pelukan gue.


Otak gue berputar, gue cepat mencari jalan kuar dari sini. Kedua orang itu berbahaya dan sakit ajiwa ditambah lagi Bang Codet ikut mereka.


Sial kenapa mereka bisa jadi sahabat baik seperti ini?!


Perut gue kembali kram, sepertinya baby tahu Eomma nya sedang tegang.

__ADS_1


Sabar ya sayang. Kita harus kuat. Baby bantu eomma yah...


Sepertinya gue hanya bisa menunggu, menunggu mereka lenggah sehingga ada celah buat gue dan Angel melarikan diri. Sementara ini gue terpaksa hanya bisa diam dan melihat permainan meraka.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, seseorang membawakan kami makanan. Paling tidak monster - monster ini tidak membuat Angel dan baby kelaparan.


Gue membantu Angel makan. Walaupun hanya mi instan dan telor, ini lebih baik dari pada melihat Angel kelaparan. Surviving mode on.


Kadang kita perlu bertahan, mundur selangkah supaya bisa melompat lebih jauh.


Langit mulai memerah, entah sudah pukul berapa sekarang, gue juga tidak tahu. Tas gue di buang saat menculik gue diparkiran. Jam dan gue juga mereka ambil. Hanya tersisa cincin kawin yang menempel dijari manis gue.


Asuransi milik Angel susah dialihkan menjadi bentuk deposito oleh Richard, sepertinya Sarah belum tahu itu.


Gue menidurkan Angel lebih awal dari jadwal tidurnya. Mungkin dengan tidur ia dapat lebih tenang. Angel sudah tidak menangis seperti pagi tadi, tapi gue lihat dia ketakutan.


Angel kembali mengingat saat ia diculik dulu.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu kembali terbuka, kali ini yang datang adalah si tua Robert Wong. Menatapku sambil dengan senyuman entah bagaimana menggambarkannya, tapi ingin sekali aku merobek mulutnya.


Mr. Wong mendekati sofa dan duduk dengan santai disana. "Kau tahu, tiga puluh tahun yang lalu, ayahmu Rivera sialan itu menghancurkan bisnisku. Sebulan lalu suami dan Madin bangs*t itu bukan hanya menghancurkan bisnisku tapi juga menjebloskan ku kepenjaran." bicaranya datar dan sangat tenang membuat gue merinding.


"Jadi mari kita pikirkan bagaimana cara mereka membayar semua kerugianku?" Mr. Wong berdiri dan mendekati ranjang. Menatap gue dan Angel.


Mr. Wong semakin mendekat, menghilangkan beberapa senti jarak kami. Hidungnya dengan hidung gue bahkan mampir menempel.


"Sepertinya kau yang harus membayar kelakuan semua priamu Alana Pradipta Rivera." katanya dengan santai sambil tersenyum licik.


Percayalah gue pengen ambil pisau lipat gue dan merobek mulutnya.


"Persiapkan dirimu, Alana." sambungnya lagi sebelum kemudian pergi.


Gue memandang kepergian Mr. Wong. Wajah gue memanas bukan karena tersipu tapi karena marah.


Tentu saja gue akan bersiap. Bersiap menghajar aki - aki mesum itu.


Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏


***Like dan komen ya gaes. Mak makin semangat nulis abis baca komen - komen kalian.

__ADS_1


Kasihkan mawar merah buat Alana, yah***...


__ADS_2