Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

Insting pertahanan diri gue entah kenapa mengatakan ada bahaya yang akan datang. Gue melajukan mobil dengan pelan, dibawah kecepatan gue yang biasa. Gue waspada. Pandangan gue gak lepas dari sekeliling. Memperhatikan dan menilai setiap yang melewati gue. Mobil, motor, pesepeda pejalan kaki semua. Bahkan tukang asong pun gue waspadai.


Gue bisa bernapas lega setelah gue sampai di sekolah Angel. Gue merasa satu bahaya sudah berhasil gue lewati.


Tapi saat keluar mobil, gue merasa auranya berubah. Gue udah kayak Peter Parker yang punya sense tanda bahaya. Tapi gue tepis itu. Dalam hati gue merapal "Semua baik - baik saja."


Menarik napas panjang dan membuang dengan kasar, gue melangkah menuju gerbang sekolah Angel yang hari ini terasa sangat jauh dari parkiran.


"Jangan bergerak!" Entah dari mana datangnya, seseorang tiba-tiba sudah ada dibelakang gue, memegang kencang tangan gue sambil menempelkan beda tajam dipinggang belakang gue.


"Jangan teriak! Atau pisau ini nebus diperut lu!" pria ini menarik gue dengan kasar. "Ikut!" perintahnya.


Gue menurut. Gue gak mau terjadi apa - apa sama calon anak gue.


Gue sempat melirik, ingin melihat siapa pria yang mengancam gue. Sayangnya pria ini pakai masker dan topi, gue gak bisa lihat wajahnya dengan jelas. Tapi gue rasa, suaranya gak asing.


Dia menuntun gue kesebuah mini bus hitam. "Masuk!" perintahnya begitu pintu mobil terbuka dari dalam. Pria itu sedikit mereka dorong gue agar gue cepat masuk.


Pemandangan pertama yang gue liat setelah masuk ke mobil adalah Angel. Sepertinya dia pingsan karena obat bius. Gue duduk didekat Angel, memindahkan kepala Angel ke pangkuan gue.

__ADS_1


"Buang tasnya." Kata pria lain yang ada dibagian kemudi. Dua pria yang duduk belakang, menarik paksa tas gue dan membuangnya ke luar mobil. Mobil pun mejalu meninggalkan sekolah.


Gue menepuk - nepuk pelan pipi Angel, berusaha menyadarkan peri kecil gue. "Angel, sayang bangun."


Beberapa detik kemudian Angel terlihat bergerak, melenguh panjang. Angel mengerjakan matanya berusaha menyesuaikan sinar matahari. "Eomma, apa kita sudah sampai rumah?" gue membantu Angel duduk.


Membawa Angel masuk kepelukan gue, "Belum, sayang."


"Siapa mereka, Eomma? Kita mau kemana?" Angel sadar bahwa kita tidak sendiri dan tidak sedang berada dimobil gue.


"Angel jangan takut, ada eomma disini." gue membelai rambutnya.


Sialan! Ternyata kerjaannya Oma Sarah! Gue gak tahu harus jawab apa. Gue binggung gimana harus menjelaskan ke Angel situasi yang sedang kita hadapi sekarang.


"Diam!" bentak salah satu pria yang ada di depan kami.


"Eomma, Angel takut."


Gue melepas pelukan kami, memandang mata Angel. Mata kami terkunci, "Angel percaya sama Eomma?" Dia mengangguk. Saat ini gue perlu meyakinkan Angel kalau semua akan baik - baik saja.

__ADS_1


"Gak akan ada yang terjadi sama Angel. Eomma akan jagain Angel." Angel kembali memeluk gue. Dalam hati gue berharap Richard segera menyadari kalau gue dan Angel hilang atau semoga ada yang melihat saat gue dipaksa masuk ke mobil tadi.


Gue takut situasinya buruk dan gue gak bisa mengatasinya sendiri.


Ke empat pria yang satu mobil dengan kami seperti tidak terganggu dengan keberadaan gue dan Angel. Mereka tidak bicara sama sekali menoleh kebelakang pun tidak.


Gue memperhatikan punggung pria yang tadi mengancam gue. Gue yakin gue pernah denger suaranya. Tapi dimana?


Dikepala gue sedang membayangkan setiap pria yang gue kenal dan gue pasangkan dengan suara tadi.


Richard? Bukan


Uwak? Bukan


Blue? Bukan


Ujang, Anto, Adnan? Jimmy? Bukan


Garong, Semar, Ecco? Bukan

__ADS_1


Ah.. Sialan!! Dia bebas dari penjara. Gue mengumpat dalam hati. Baby jangan dengerin Eomma dulu ya. Baby tidur dulu.


__ADS_2