
"Ya elo lah, Mikha. Sapa lagi!" seru Ocha.
"Cemburu ke siapa!" Mikha mulai gusar.
"Udahlah, gak usah lagi pura-pura sama kita berdua!" tekan Ichi yang baru pertama kalinya ia berkata tegas seraya menatap Mikha dengan begitu tajam.
Sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya dan mengunyahnya dengan kasar.
"Mau sampai kapan Lo Mi, sembunyiin ini semua dari kita? Apa cuma sebatas ini Lo nganggap hubungan persahabatan kita yang mau jalan empat tahun!" tekan Ocha kemudian.
Mikha menelan ludahnya susah. Baru kali ini si kembar berani menuntutnya seperti ini.
"Apaan sih Lo berdua. Ngomong yang jelas jangan pake kode dan sindiran!" tukas Mikha yang sebenarnya tengah menyembunyikan tegang dalam hatinya.
"Gak mungkin kan, jika mereka tau pernikahan diam-diamku dengan Roma," batin Mikha yang mulai berpikiran aneh-aneh.
"Tauk ah, males kita kalo Lo udah gak mau terbuka gini. Lo anggap apaan sih kita ini Mikha? Masih sahabat bukan?" cecar Ocha yang nampak sekali tengah memendam gemasnya.
"Udah ah Ca makan dulu. Nanti keselek genjer baru tau rasa!" omel Ichi seraya menarik tangan kakak kembarnya itu agar mau makan dengan tenang.
Mikha benar-benar menunggu kedua kawannya selesai makan menghabiskan bekal yang di bawakan Umma Annisa untuknya. Ada sebersit kebahagiaan serta kepuasan dari Mikha saat melihat kedua sahabatnya ini makan dengan lahap.
Umma Annisa memang hebat, sebagainya saja ia bisa membanggakannya pada saat ini. Bahwa makanan yang membuat kedua gadis manis dihadapannya ini begitu berselera adalah masakan ibu mertuanya.
Aih, mertua.
Sebenarnya, secara tak langsung Mikha itu sudah mengakui statusnya yang sekarang. Ia mulai menerima keluarga barunya itu. Entah, hal apa lagi yang tengah di persiapkan oleh gadis itu.
"Tadi murung, muka di tekuk kayak kanebo. Sekarang dia senyum-senyum. Fix, kudu di rukiyah kayaknya," lontar Ocha sarkas.
Ichi hanya terkekeh menimpali ocehan saudarinya itu, sambil merapikan bekas makan mereka.
Gadis ini paham, Mikha jika tak mau makan maka akan tetap begitu sekalipun di paksa.
"Udah kenyang kan? Sekarang Lo berdua ngemeng deh, kenapa dari tadi nyindir gue terus!" ujar Mikha dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Ci, ngomong deh tuh!" titah Ocha.
"Dih, gak mau! Lu aja ah, Ca!" lemparnya pada sang kakak.
"Ya kan Lo yang ngegep," tolak Ocha.
"Dari kemaren siapa yang menggebu-gebu mau melabrak Mikha, hayo!" tekan Ichi yang nampak kesal karena sang kakak seperti melempar batu sembunyi tangan.
__ADS_1
Ichi mulai ciut juga nyalinya lihat tatapan Mikha yang mengintimidasi mereka berdua.
"Diam!" seru Mikha tegas.
Lantas si kembar manis terdiam seketika sambil saling sikut.
"Tadi sebelom makan semangat banget deh Lo berdua mojokin gue. Giliran udah kenyang pada maen suruh-suruhan!" hardik Mikha geram.
"Ngomong, Ichi!" dorong Ocha.
"Iya, Ocha!" seru Ichi balik dengan rahang yang beradu gemas.
"Cepet deh ngomong!" seru Mikha lagi.
"Iya sebentar! Kenapa jadi Lo yang galak sih? Kan kita yang mau interogasi, Lo," kata Ichi.
"Sebenarnya Lo sama pak dosen ganteng ada hubungan spesial kan? Ngaku deh Lo!" tebak Ocha dengan tatapan mata yang penuh selidik.
Sontak Mikha langsung terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri.
"Tuh kan bener kak, buktinya tersangka langsung keselek," ledek Ichi sambil tertawa penuh kemenangan.
Karena tadinya Ocha tidak percaya kata-katanya. Sebab, saudari kembarnya itu berniat ingin pedekate sama dosen mereka itu. Tetapi, keduluan Janet.
Gadis barbar yang tomboi ini berusaha mengelak tuduhan yang di lemparkan oleh kedua sahabatnya. Meskipun, dalam hati bingung setengah mati. Darimana mereka berdua bisa mencurigainya seperti itu.
Bukankah, selama ini Mikha dan Roma jika bertemu selalu saja diam-diam. Mereka berdua cukup rapih menyembunyikan hubungan selama ini dari publik.
"Udah deh, Mi. Ngaku aja."
"Iya, daripada nanti aku yang nanya langsung ke pak dosen," tentang Ocha dengan senyum miringnya.
"Eh, apa-apaan sih!" Mikha buru-buru maju untuk menghadang langkah dari Ocha.
"Kenapa Lo, Mi. Takut yeeee! Orang aku mau buang sampah dih," ledek Ocha yang mana membuat Ichi terpingkal-pingkal dan segera di susul oleh Ocha.
Puas sekali mereka berdua ini menertawakan Mikha.
"Udah ah, ngarang Lo berdua!" kilah Mikha lagi seraya melangkah untuk meninggalkan taman tersebut.
Belum juga Mikha jauh melangkah, seketika ponselnya berbunyi nyaring. Pada saat itu juga, Mikha mengeluarkan ponsel dan melihat siapa yang menelepon. Tak lama dering ponsel tersebut mati sepihak.
"Ternyata cuma Misscall," batin Mikha. Akan tetapi, pada saat yang sama ia menemukan beberapa pesan yang telah di kirim oleh Roma namun ia tak menyadarinya.
__ADS_1
"Temui aku di ruangan yang biasa. Ada Hanum di sini, cepatlah." Begitu bunyi pesan dari Roma.
Tanpa banyak berpikir lagi Mikha segera berbalik arah untuk menuju gedung sebelah. Akan tetapi tentu saja langkahnya itu di hentikan oleh kedua sahabatnya yang lagi kepo abis sama kebenaran hubungan serta status Mikha saat ini.
"Mikha, Lo mau kemana?"
"Jawab dulu pertanyaan kita, kok gitu banget sih gak mau jujur!" cecar Ichi yang terlihat sudah sangat gemas sekali.
"Lo berdua tenang dan jangan banyak berpikir macem-macem dulu tentang gue. Nanti semuanya bakalan gue ceritain ke elu berdua," kata Mikha seraya berlalu pergi dengan berlari.
"Eh Mikha!" panggil Ichi.
Mikha tetap berlari hingga ia hanya membutuhkan waktu selama lima menit untuk sampai di gedung sebelah. Roma berusaha tak banyak bicara untuk menanggapi setiap ocehan Hanum sebelum Mikha hadir.
Sementara gadis yang ia tunggu kedatangan sedang berusaha naik tangga ke lantai dua.
Percuma baginya menjelaskan tanpa bukti. Karena tak ada cincin melingkar seperti yang biasa orang lain kenakan. Karena memang Roma tidak menggunakan itu. Juga, dirinya tak mungkin bawa-bawa selebaran surat nikah kemana-mana.
Bahkan, Hanum meminta bukti foto pun Roma tak ada karena pada saat itu, mereka sama sekali tidak sampai kepikiran untuk mendokumentasikan pernikahan terpaksa serta mendadak itu.
Akan tetapi, Roma tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Hanum.
"Kak, please. Katakan hal yang real jika memang kamu ingin menolakku. Kakak tau gak kalo Hanum sudah mengorbankan segalanya untuk berada di sini sekarang. Tolong, jangan kecewakan aku," pinta Hanum setengah memaksa.
"Astagfirullah. Hanum, kenapa kamu harus menjatuhkan marwahmu sebagai wanita muslimah hanya karena perasaan yang berlandaskan napsu?" tanya Roma yang tak percaya dan habis pikir karena sifat Hanum berbeda dengan yang ia kenal sebelumnya.
"Bukannya Hanum mau merendahkan diri sebagai muslimah, Kak. Tetapi, Hanum hanya sedang meminta bukti konkrit dari ucapan Kakak. Apa tidak boleh Hanum memperjuangkan cinta dan juga mimpi? Lagipula, cara yang Hanum lakukan tidak keluar dari jalur agama," kilah Hanum terus menyangkal.
"Tidak melanggar bagiamana, jika anda datang keruangan pria yang bukan mahram sendirian! Jelas-jelas hal ini sudah melanggar kode etik akhlak dan juga tatakrama serta marwah wanita muslimah," tegas Mikha yang entah sudah berada di belakang Hanum.
Roma sontak berdiri pada saat melihat sosok yang ia tunggu ada di hadapannya saat ini. Senyumnya pun menguntai indah. Akan tetapi, hanya di balas tatapan sinis oleh Mikha.
"Dia kenapa ya? Kok balik judes lagi mukanya pas liat aku?" batin Roma bertanya-tanya.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Hanum. Perempuan muslimah yang mengenakan pakaian syar'i akan tetapi itu tetap tak mampu mencegahnya dari menjaga kehormatan diri dengan terus memaksakan kehendaknya pada laki-laki yang jelas bukan mahromnya.
Bahkan Roma sejak tadi sudah berusaha untuk berkali-kali mengusirnya secara halus. Akan tetapi Hanum tetap masih tetap bersikeras untuk berada di dalam ruangan tersebut.
Hanum bahkan berkata jika Roma bisa saja menjadi penghambat baginya dalam meraih cita-cita.
"Kak, siapa dia? Kenapa berani sekali mengatakan hal seperti ini pada Hanum?" cecar Hanum dengan tatapan tak suka mengarah pada Mikha yang berdiri sambil melipat tangan di depan dada.
...Bersambung ...
__ADS_1