Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

Dua orang wanita masuk ke kamar gue. Membawa paper bag yang entah apa isinya. "Nyonya, tuan. Wong meminta kami untuk membantu Anda bersiap untuk melayaninya."


Gue mengerti apa yang mereka maksud, dan gue berencana mengikuti permainan Mr. Wong. Semoga gue gak salah langkah.


"Bisa tolong katakan pada Tuan Wong untuk menyiapkan kamar lain buat anak saya?" salah satu dari mereka keluar. Seorang lagi menyiapkan air mandi buat gue.


"Angel, Angel pindah kamar dulu, ya?" gue berjongkok agar bisa menatap mata Angel.


Angel menggeleng. "Angel mau keluar dari sini?" Angel mengangguk. " Eomma mau hukum dulu orang jahatnya, jadi Angel sembunyi dulu, oke?"


"Tapi Angel takut, Eomma." Angel terisak.


"Eomma juga. Tapi kalau kita ikutin rasa takut kita, Angel dan Eomma gak akan pernah keluar dari sini. Angel kayak gitu?" Angel kembali menggeleng.


Gue menggengam tangan Angel, menggosok punggung tangannya, berharap bisa memberikan ketenangan padanya. "Angel kekuatan Eomma. Eomma pasti akan jemput Angel. Okey?" Dengan ragu - ragu dan air mata berlinang Angel akhirnya memberikan anggukan kepala.


Salah satu pelayan wanita tadi membawa Angel. Gue mengantarnya hingga pintu, menunggu hingga Angel menghilang dibalik pintu kamarnya.


Sekarang giliran gue yang beraksi dengan peran gue sendiri. Sejujurnya feeling gue gak enak, tapi gue gak bisa mundur lagi sekarang.


Gue membiarkan pelayanan membantu gue mandi, melakukan apa yang Mr. Wong perintahkan.


Salah seorang dari mereka mengeluarkan pakaian tidur super minim dari dari paper bag yang mereka bawa tadi.


Baju itu tidak menutupi apapun hanya sekedar memberi kesan gue memakai sesuatu diatas kulit gue.


Setelah ini gue akan cuci otaknya Wong pake bycle*n biar putih.


Pelayan suruhan Mr. Wong juga memoles wajah gue dengan sedikit make up dan menata rambut gue. Gue udah kayak pengantin baru aja yang mau malam pertama.


Tak lama setelah mereka undur diri, Mr. Wong masuk dengan seorang pria. Pria itu memasang tripod beserta ponselnya. Setelah selesai pria itu keluar.


Jangan bilang dia mau bikin live show? Ni aki bener - bener sakit jiwa.

__ADS_1


"Hari ini kita tidak akan main berdua, sayang." katanya dengan seringai licik dibibir.


Mr. Wong membalikan ponsel memunggungi gue, melakukan sesuatu pada ponselnya yang kemudian gue tahu dia sedang menelepon seseorang.


"Halo, Richard." Wajah Mr. Wong muncul di layar ponsel Richard.


Gue terkejut ketika Mr. Wong menyebut nama Richard. Gue gak mau Richard melihat keadaan gue yang kayak gini. Ini gak sesuai dengan rencana gue.


"Wong!" gue bisa dengar suara Richard.


"Malam ini aku berbaik hati akan memberikan hadiah padamu." Gue gak sabar ini merobek senyuman di bibir Wong tua ini.


"Kamu tahu apa yang paling menyenangkan di dunia ini?" Sambungnya lagi.


Gue yang sedang duduk di ranjang hanya bisa meremas tangan gue sendiri karena menahan amarah gue.


"Yang paling membahagiakan adalah mendapatkan gadis yang kita inginkan. Bukan begitu? Malam ini akan menjadi malam membahagian untukku, karena malam ini aku akan mendapatkan wanita yang sangat aku inginkan. Dan aku berbaik hati akan membaginya dengan mu. Ha... ha... ha... "Mr.


"Jangan berani kamu menyentuh istriku!" Gue denger suara Richard. Mata gue memanas seketika. Hati gue sakit membayangkan keadaan Richard saat ini.


Mr. Wong membalikan ponselnya sambil berjalan mendekati ranjang. Gue bisa melihat wajah marah Richard. Matanya berkaca - kata. Gue menunduk karena malu, malu Richard melihat keadaan gue sekarang.


"Sayang." Liriknya. "Lihat aku." gue mengangkat kepala. "Semua akan baik - baik saja. Okey?"


Gue hanya bisa tersenyum. Tapi harapan gue kembali timbul melihat Richard sedang berada di mobil.


Mr. Wong duduk disebelah gue. Jarinya menelusuri lengan terbuka gue. "Minum ini." perintahnya.


Gue menerima sebuah pil dan segelas air dari tangan bajingan ini. "Malam ini Richard akan melihat seberapa jalang istrinya. Ha... ha.. ha... " Tawa Mr. Wong terdengar sangat puas.


"WONG!" Raung Richard. "Bajingan tua! Bangs*t! Menjauh dari istriku!"


"Minum!" Wong mengambil kembali pil yang ada ditangan gue. Memaksa gue membuka mulut dan memasukan pil laknat itu.

__ADS_1


"Sayang..."


Lima menit, gue mulai merasakan obat sialan itu bekerja. Hawa panas mulai menjalar naik ditubuh gue. Gue tiba - tiba merasakan hasrat gue membuncah. Gue perlu belaian. Gue pengen disentuh.


"Sayang" suara Richard membawa kesadaran gue kembali.


Tangan Mr. Wong membelai rambut gue. Bak disengat listrik, tubuh gue bereaksi ini lebih. Jari Wong membelai punggung gue, membuat gairah gue semakin terbakar.


"Sayang lihat aku!" teriak Richard.


Gue harus melakukan sesuatu. Gue gak mau Wong bangsat ini mendapatkan apa yang ia inginkan. Gue gak mau Richard melihat gue menyerahkan diri gue sama orang tua ini.


Gue masih berusaha mempertahankan kesadaran gue. Gue mundur ketika Wong mendekat. Tangan gue masuk kebawah bantal.


Pisau!


Tanpa pikir panjang, gue menghunuskan pisau itu kearah Wong. "Mundur!"


Wong mengangkat kedua tangannya mundur perlahan. "Baby, jangan gegabah." dia tersenyum.


"Berhenti tersenyum atau gue robek mulut lu jadi selebar joker!"


Senyum Wong menghilang.


Srreeetttt!


"Aa arrrggghhh!!!" gue menggores paha gue dengan pisau. Gue gak mau obat itu mempengaruhi gue. Jadi biar rasa sakit ini membuat gue tetep sadar sampai Richard datang.


"Sayang! Apa yang kamu lakukan?!" Richard panik.


"Cepat Appa. Atau kamu mau aku jadi santapan pria tua ini." gue kembali menghunus kan pisau ke arah Wong.


"Kita lihat berapa lama kamu bertahan." jawabnya santai sambil duduk di kursi kecil yang ada dimeja rias.

__ADS_1


"Lebih baik gue mati dari pada harus ngerasain perkutut tua lu!"


Gue meremas seprai kasur, sungguh gairah gue masih memuncak, tapi untuk rasa sakit dan perih dipaha gue bikin tetep waras dan gak menerjang pria tua yang duduk dengan santai sambil memperhatikan gue.


__ADS_2