Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

Entah sudah berapa lama mobil ini melaju. Sepertinya sudah lebih dari satu jam, dan yah... gue sadar ini sudah di luar Jakarta. Angel tidur dipangkun gue setelah tadi sempat menangis karena takut. Dia juga sadar ini bukan arah pulang ke rumah.


Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah besar. Rumah dua lantai bergaya Eropa dengan gerbang besar berwarna hitam.


Banyak penjaga, rumah ini dijaga dengan ketat. Hal pertama yang gue lakukan adalah memperhatikan keadaan rumah dan bangunannya, untuk mencari cara keluar dari rumah ini. Setelah itu yang gue perhatikan adalah kamera CCTV.


Dua CCTV di gerbang depan. Gue juga lihat ada beberapa CCTV yang terpasang di sepanjang jalan masuk.


Rumah ini benar - benar dijaga ketat. Rupanya Sarah sudah merencanakan ini dengan matang. Dia benar - benar rakus akan harta.


"Turun!" perintah pria yang menjaga gue dan Angel di belakang tadi.


Angel yang sudah bangun, memeluk gue dengan erat karena takut. Wajahnya pucat, tanganya dingin. "Eomma gendong, ya... " gue berusaha setenang mungkin. Gue gak boleh panik dan bikin Angel tambah takut.


Angel menangguk. Dia memeluk leher gue, menyembunyikan wajahnya di leher gue.


"Cepat!" gue di dorong agar berjalan lebih cepat.


"Akhirnya kalian tiba juga." Sarah menyambut kami di ruang utamautama dengan seringai liciknya. "Kalian sudah periksa dia?!" Anak buahnya menggeleng. "Bodoh! Geledah dia!!" Suara Sarah meninggi.

__ADS_1


Seseorang mengambil Angel dari gendongan gue. "Eomma... hiks hiks hiks" Angel mulai menangis.


Untungnya orang itu tidak membawa Angel pergi, hanya menurunkan Angel dari gendongan gue. Sekarang gue berharap, si bodoh ini tidak menemukan pisau lipat gue.


Gue berusaha menyembunyikan wajah kelegaan gue saat pria ini tidak menemukan pisau lipat gue. "Ikat dia!" perintah Sarah.


Anak buahnya mengikat tangan gue dengan kabel tip begitu juga tangan Angel. Air mata Angel sudah membanjiri pipinya, ia memeluk pinggang gue dengan erat.


Gue menekuk lutut mensejajarkan tinggi gue dengan Angel, "Sayang, liat eomma. Jangan takut, oke?" Angel mengangguk. "Ada Eomma. Eomma akan jagain Angel. Appa dan kakek pasti datang buat nolongin kita." gue meyakinkan peri kecil gue walaupun gue sendiri gak yakin itu.


"Hanya karena uang anda sampe bertindak krimin seperti ini?" gue kembali berdiri dan menatap Sarah dengan tajam.


"Dasar lintah! Lu belum puas setelah menghisap habis ayah gue, hah?!"


Plak! Sarah menampae gue.


"Jaga mulut mu! Aku yang berkuasa disini." Ejeknya. "Aku berhak atas harta Paulo, aku istrinya."


"Mantan istri!" gue mengkoreksi dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Lu dapat kompensasi besar setelah bercerai dari ayah, tapi lu belum puas! Lu keruk habis harta ayah dan tega misahin ayah dari istri dan anaknya. Apa sebutan yang pantas buat lu selain lintah?!"


"Sekarang lu mau celakai Angel? Gue penasaran cara licik apa yang akan lu pake buat dapetin asuransi itu."


"Sepertinya kamu belum sadar situasi yang sedang kamu hadapi nona Rivera. Aku bisa melakukan apapun padamu dan Angel jika kesabaranku sudah habis." katanya geram.


"Sama seperti saat aku menghabisi ibumu yang tidak berdaya itu. Ayahmu yang sialan itu belum menyerah juga, ia terus berusaha membantu ibumu. Pria lemah itu terus menantang ku, hingga akhirnya aku benar - benar menghabisi ibumu."


Sekarang gue mendidih. Amarah gue sudah sampe ubun - ubun dan siap meledak. "Ibumu bahkan tidak bisa memohon ampun padaku. Ha ha ha. Jalang itu terbaring lemah di ranjang saat aku mematikan semua alat bantu hidupnya. Dia mati tanpa per..."


Gue maju dengan cepat, mengalungkan tangan gue yang terikat leher Sarah, BUGH! gue benturkan kepala kami dengan keras.


"Bang**t! " raungnya sambil mendorong gue. Beberapa orang menarik gue mereka jauh dari Sarah.


"Lu liat Sarah! Pada akhirnya lu akan berakhir ditangan GUE!"


"BAWA MEREKA!" anak buah Sarah membawa gue dan Angel masuk ke sebuah kamar.


Gue berusaha menetralkan emosi gue. Inhale exhale. Angel... Angel... gue terus menyebut dan melihat wajah Angel sambil menurunkan amarah gue.

__ADS_1


"Angel..." Gue memajukan tangan gue yang terikat, Angel masuk kedalamnya. Gue peluk Angel dengan erat sambil terisak. "Maafin eomma. Eomma gak bisa jaga Angel."


__ADS_2