
Mikha menoleh kebelakang, menatap punggung tegap Roma kembali melenggang ke dapur. Lagi-lagi ia termangu heran seraya bertanya dalam hati. " Dia itu kenapa? Sikapnya sangat manis sejak semalam."
Mikha bang, dalam hatinya ingin sekali memerahi Roma karena perbuatannya semalam yang di sengaja telah membuat citra sang raja malam jadi turun rate.
Karena selama ini, Mikha tak pernah sekalipun mangkir dari janjinya.
Untung saja para penantang ini benar-benar penasaran dengan kehebatan Mikha di arena sirkuit.
Roma kembali mengolah makanan yang akan dia bawa ke kampus sebagai bekal untuk makan siang nanti. Ruangannya yang tersembunyi cukup menutupi hubungannya dengan Mikha dari khalayak ramai.
Beberapa jam kemudian, Mikha dan Roma sudah siap berangkat ke lokasi yang sama. Meskipun nanti tempat turun keduanya berbeda. Setidaknya Roma tetap melaksanakan tugasnya sebagai suami dengan memberi keamanan serta perlindungan kepada istrinya.
"Mikha, ini bekal kamu. Makanlah di taman nanti, jangan ke kantin," pesan Roma seraya meletakkan tas berisi bekal makan serta air minum.
"Kayak anak paud aja deh si kasih bekal segala!" protes Mikha.
Akan tetapi Roma tetap tenang dan tersenyum menanggapinya protes dari istri kecilnya ini. "Kamu tau gak Mikha yang manis. Kalau di negara Jepang itu, bahkan setiap rumah akan membuatkan bekal untuk anak dan suami mereka," kata Roma, tetap mempertahankan senyumnya meskipun ia nampak lelah.
Roma memang terbiasa memasak sejak kecil. Karena ia memang suka membantu sang Umma di dapur pada saat mereka menyiapkan makan malam maupun sarapan.
Sementara sang adik yang bernama Adiba, lebih suka membuat camilan ringan. Gadis kecil berusia empat belas tahun itu kini sedang menempuh pendidikannya di salah satu pesantren terbesar milik ulama besar juga.
Adiba yang suka berkuda pun, memiliki potensial dalam mengikuti perlombaan antar santri. Adiba bahkan juga mulai diikut sertakan pada olimpiade yang di adakan oleh pemerintah daerah karena.
Sang adik harus pandai mengatur antara menuntut ilmu dan latihan untuk turnamen agar tidak bentrok maupun mempengaruhi waktu belajarnya di pesantren.
Santri memang bukan di cetak untuk menjadi atlit, meskipun banyak dari mereka yang memiliki potensi besar dan di tarik untuk mengikuti beberapa turnamen.
__ADS_1
Seperti berkuda, memanah dan juga pencak silat. Adalah contoh dari tiga macam kegiatan ekstra kurikuler yang sering kita temui di pondok pesantren.
Kembali ke sosok gadis cantik berbibir sensual, Mikha.
Mau tak mau Mikha pun mengambil tas bekal yang telah Roma persiapkan untuknya. Lalu memasukkannya ke dalam tas gendongnya yang cukup besar.
"Ini kunci mobilnya. Kamu turun duluan dan tunggulah sebentar di sana," titah Roma lagi.
Meskipun Mikha menerima tugas itu dengan berdecak namun tetap dilaksanakan itulah intinya.
"Kenapa gue bisa nurut terus sih apa yang cowok itu bilang?" batin Mikha heran.
Tak ayal kakinya pun melangkah keluar apartemen lalu masuk kedalam lift untuk turun ke lantai dasar alias base man.
Setelah dekat dengan kendaraan roda empat milik Roma, ia pun langsung menekan tombol pada kuncinya.
Mikha membuka pintu depan mobil sambil menunggu Roma turun. Sementara lelaki itu di atas sana sedang mempersiapkan seorang asisten rumah tangga paruh waktu yang akan membersihkan apartemen serta mengurus pakaian kotor mereka.
"Lyra Pak."
"Oh, ya Lyra. Pesan saya, sebelum jam tiga kamu harus sudah selesai ya," kata Roma sopan. Meskipun pekerja ini masih muda ia tetap harus menghargainya.
"Insyaallah, Pak. Kerja saya cepat kok," jawab Lyra yang memang baru saja lulus SMU dan langsung bekerja freelance seperti ini.
"Mikha harus melihatmu agar dirinya lebih bersyukur," batin Roma.
Setelah pamit Roma pun dapat meninggalkan apartemennya yang cukup berantakan ini dengan tenang.
__ADS_1
"Iya Umma. Asisten rumah tangga yang di pesan dari yayasan itu sudah datang dan langsung Roma pekerjakan hari ini juga. Syukron ya Umma sayang," ucap Roma dari balik sambungan telepon.
Sementara itu di kediaman Annisa, wanita itu terlihat mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya bertautan.
"Kenapa habis menelepon anak kok mukanya malah berkerut?" ledek Choki, suaminya.
"Iniloh BI, kok suara putra kita seperti lelah banget deh padahal ini kan masih pagi," jawab Annisa.
"Habis olahraga mungkin sayang," jawab Choki asal. Seketika otaknya langsung travelling. enak sekali putranya pagi-pagi sudah refreshing. pikirnya.
"kita main ke sana yuk nengokin pengantin baru," ajak Anisa kepada Choki suaminya.
"Boleh sayang. Tapi kita main dulu yuk! Masa kalah sih sama Roma," pinta Choki seraya membujuk dengan tampilan wajah puppy eyes miliknya.
"Aih, suamiku. Kenapa kau tiba-tiba iri dengan putera kita. Mereka kan pengantin baru sayang," kata Annisa seraya menyembunyikan tawanya.
"Kita juga pengantin baru!" celetuk Choki yang mana ucapannya itu membuat kening Annisa mengernyit.
"Buktinya aku selalu ingin belah nangka sayang, sama kamu," jujur Choki yang memang selama ini ia masih menganggap terus hubungannya dengan Annisa adalah malam pengantin yang syahdu.
"Modus!" ledek Annisa dan wanita berpakaian syar'i pun berlalu ke dalam kamar sambil tertawa kecil.
"Dasar bapaknya anak-anak," gumam Annisa.
____________
Pelajaran hari ini sudah selesai.
__ADS_1
Mikha heran karena Roma pandai sekali bermuka dua.
...Bersambung...