Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#38. Ibu Mertua Yang Baik.


__ADS_3

Karena kejadian barusan mau tak mau Roma mandi hadas pagi-pagi buta. Lelaki itu telah terbiasa bangun dini hari untuk melaksanakan solat tahajjud meskipun hari ini harus kesiangan karena Roma menjalankannya sudah mau jam empat pagi.


Tak lama kemudian Mikha menyusulnya untuk mandi karena tadi Umma Annisa mengajak mereka berdua untuk solat subuh berjamaah.


Mikha yang biasanya tidak pernah bangun gelap-gelap, kini perlahan gadis itu mulai terbiasa. Bahkan, Mikha jadi sering menghirup udara sejuk di pagi hari meskipun hanya dari balkon.


Setalah solat subuh, Annisa mengajak Mikha ke dapur untuk membuatkan sarapan bagi para suami mereka.


Mikha yang belum pernah sekalipun masuk ataupun berperang di dapur pun selain untuk masak mie mendadak kikuk. Apalagi saat Annisa terus berceloteh menceritakan apa saja masakan yang menjadi kesukaan dari Roma juga Aby Zakaria.


Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil memasang senyum. Berharap Annisa tidak mengeluarkan pertanyaan setelah ini.


Annisa menoleh ke arah menantunya yang tak banyak bicara apalagi menimpali ucapannya. Pada saat itulah wanita berpakaian syar'i ini tau bahwa Mikha sama sekali tidak bisa memasak dan belum pernah memasak untuk Roma.


Sekali lagi Annisa memasang senyum di wajahnya yang cantik dan putih alami.


Annisa mengangkat serta menggelung rambutnya yang di kepang itu kebelakang. Karena di dalam rumah ini hanya ada anak serta suaminya maka wanita ini tidak mengenakan Khimar lebar yang biasa ia kenakan.


Sesaat Mikha terpana dengan kecantikan serta keanggunan dari ibu mertuanya ini. Betapa Annisa nampak cantik dan segar di usianya yang tak lagi muda serta kulitnya yang begitu bersih dan sehat meskipun tanpa make up.


Rambut kedua wanita ini sama-sama hitam legam meksipun panjangnya berbeda.


"Mikha, apa selama ini kamu pernah masak di dapur ini?" tanya Annisa dengan ramah dan senyum yang selalu tercetak di wajahnya.


"Jujur, Mikha hanya bisa masak mie instan, Umma. Jadi, selama ini Kak Roma yang masak untuk makanan kita sehari-hari," jawab Mikha jujur. Karena baginya percuma jika ia bohong, siapapun pasti bisa melihat jika dirinya ini bukan seperti perempuan pada umumnya.


Mikha siap jika ibu mertuanya ini akan memarahinya ataupun protes. Sebab, selama ini justru Roma yang melayani dirinya bukan malah sebaliknya.


Di luar dugaan, Annisa justru tertawa renyah.

__ADS_1


"Biasa aja dong, gak usah tegang gitu mukanya," celetuk Annisa yang nampak gemas dengan ekspresi menantunya ini.


"Umma itu, gak menuntut kamu untuk bisa masak Mikha. Satu hal yang terpenting kamu itu bisa membahagiakan putra Umma. Selama Roma bahagia, maka, Umma tidak akan mempermasalahkan hal itu. Toh kalian yang menjalani rumah tangga," jelas Annisa yang mana ucapannya tersebut mampu meregangkan kecemasan dari menantunya itu.


"Mikha juga gak pernah nyuci baju. Karena Kak Roma membawa pakaian kotor kami ke laundry. Aku juga gak pernah berbenah rumah karena Kak Roma menyediakan jasa asisten rumah tangga part time," jelas Mikha yang mana ia pikir Annisa tidak mengetahuinya. Padahal, tanpa sepengetahuan Mikha justru Annisa lah yang sengaja memesan tenaga dari jasa asisten tersebut.


"Bagus dong. Jadi kamu bisa fokus dengan tugas kuliah dan menyenangkan suami aja. Juga Roma jadi bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya sebagai pendidik. Umma hanya minta satu hal kepada kamu, belajar yang sungguh-sungguh karena seorang wanita itu juga harus pintar. Karena kelak kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu akan menjadi pendidik pertama bagi anak-anak kalian kelak," kata Annisa tegas, dengan nasihatnya yang merasuk hingga ke kalbu.


Mikha sama sekali tak menyangka jika ibu mertuanya ini tidak menuntutnya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti apa yang selama ini kawan-kawannya ceritakan. Karena, Mikha juga memiliki teman yang sudah menikah. Terkadang mereka curhat masalah rumah tangga di grup alumni sekolahnya itu.


Gambaran tersebut di tambah traumanya membuat dirinya takut dan menghindari sebuah hubungan yang bernama pernikahan.


Tetapi, apa yang ia rasakan nyatanya jauh dari apa yang di takutkan selama ini.


Roma adalah sosok laki-laki yang baik serta pengertian. Mau menerima trauma serta ketakutannya dengan sabar. Juga Annisa, ibu mertua yang begitu lembut serta perhatian.


Bukankah ini satuan keluarga yang Mikha inginkan sebenarnya.


Keluarga yang tanpa cekcok, pertengkaran serta caci maki. Keluarga yang begitu sejuk karena saling menghargai perasaan satu sama lain.


Bahkan ketika berbicara atau mengobrol pun semuanya selalu mengeluarkan suara yang rendah sehingga keadaan menjadi hangat dan begitu harmonis.


Berada dalam keluarga Roma membuat Mikha yakin bahwa tidak semuanya manusia yang berjenis laki-laki itu menyebalkan serta menakutkan.


"Tapi, Mikha juga mau sih belajar masak. Malu juga kadang sama Kak Roma," ucap Mikha jujur.


Sekali lagi Annisa terlihat tertawa sambil terus mengiris bumbu yang akan di gunakan untuk meracik masakan pagi ini.


"Belajarlah selama itu tidak menganggu tugasmu yang utama Mikha. Jangan sampai pada saat Roma membutuhkan keberadaan istrinya, justru kamu malah bau bawang," kelakar Annisa.

__ADS_1


Suatu saat ... akan ada masanya dimana kamu hanya akan sibuk di rumah, untuk mengurus keluarga nantinya. Sebelum area jajahanmu sebatas dapur, sumur dan kasur saja ... nikmatilah kebebasanmu. Lakukan apa yang ingin kamu kerjakan dan kejar ilmu sampai dapat banyak kemudian simpan di dalam sini," tegas Annisa lagi sambil menunjuk kepalanya.


"Umma bijaksana banget. Seandainya ibu maupun nenek seperti beliau. Mungkin aku akan menjalani masa remajaku dengan bahagia. Pantas saja Roma selalu bisa bertutur lembut serta sabar dalam menghadapi kenakalanku," batin Mikha dengan tatapan kagum pada sosok wanita di hadapannya.


"Mikha. Apakah kamu bahagia dengan pernikahan kalian ini?" tanya Annisa yang mana langsung membuat Mikha tersedak.


Uhuk uhukkk!


"Mikha. Kamu tuh ya, keselek melulu deh," sindir Annisa seraya mengambilkan minum untuk menantunya ini.


"Nih, air hangat biar tenggorokan kamu lega," kata Annisa lagi seraya menyodorkan gelas ke depan mulut Mikha.


Mikha meminum air tersebut hingga tandas. Pertanyaan Annisa seketika membuat tenggorokannya terasa kering. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaannya ibu mertuanya ini? Jujur atau bohong? Mikha pun seketika bingung.


"Sudah ku duga. Pasti Mikha belum menerima Roma sebagai suaminya. Apa jangan-jangan mereka belum melakukan itu? Ah, masa iya Roma sekuat itu? Mikha cantik bin bahenol begini," batin Annisa menduga-duga.


"Umma, ini daun bawangnya mau di apain?" tanya Mikha, berusaha mengalihkan pembicaraan.


Annisa pun tersenyum lembut tanpa mau menelisik lebih dalam lagi mengenai rumah tangga serta perasaan Mikha terhadap putranya. Annisa yakin bahwa kekuatan doa seorang ibu akan sampai dan Allah kabulkan pada waktu yang tepat.


"Sini, biar Umma aja yang iris. Kamu bawa pisang kukus ini aja dulu ke depan sama teh ya," titah Annisa.


"Yaudah, nanti setelah Mikha anterin ini ke depan, daun bawangnya Mikha yang iris ya."


"Gak usah, Umma gak mau tangan kamu bau nanti. Kamu itu kan pengantin baru harus selalu wangi," tolak Annisa, dengan senyum serta kedipan mata.


Mikha hanya bisa tersenyum malu sebelum berlalu. Kenapa mertuanya bisa sebaik itu.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2