Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Delapan Puluh Tujuh


__ADS_3

Enam bulan berlalu dengan cepat sejak penculikan gue dan Angel.


Selama enam bulan Angel mengikuti sesi terapi untuk memulihkan kesehatan mentalnya. Sejak kejadian itu Angel lebih banyak diam. Gue mau peri kecil gue kembali seperti dulu, ceria dan cerewet. Gue mau Angel punya masa kecil seperti biasanya.


Richard memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan fokus untuk kesembuhan Angel. Kami berdua memang ini menghabiskan waktu lebih banyak bersama Angel. Mendukungnya agar Angel tahu dia tidak sendiri.


Hari ini gue dan Richard mengadakan makan malam perpisahan. Besok kami bertiga akan ke Seoul.


Setelah Angel dinyatakan membalik, Richard memutuskan untuk kembali dan memboyong kami semua ke Seoul.


Selain karena ini memberikan suasana baru untuk Angel. Berharap trauma Angel bisa terobati bila jauh dari tempat dimana dia mengalami banyak hal buruk.


"Mana Uwak?" Gue tidak melihat Uwak bersama rombongan Marlin dan Blue.


"Di markas. Udah tiga hari tidur di markas. Lu samperin, gih... Kayaknya ayah mikirin lu." gue mengangguk.


****"


"Dimana Alfa?" gue melewati seorang penjaga di markas.


"Dikandang." Aish... Uwak masih saja dengan kebiasaannya suka bermain bersama Betty dan Bunny. Betty dan Bunny adalah dua serigala kesayangan Uwak.


Bagi Uwak serigala adalah istimewa. Walaupun terlihat tidak menyeramkan, serigala adalah salah satu hewan yang paling berbahaya. Yang membuat Serigala spesial untuk uwak adalah serigala sangat patuh pada hiraki kepemimpinannya. Artinya serigala selalu patuh dan setia pada sang alfa dan serigala hanya setia pada satu betina.


"Wak." gue berdiri disebelah Uwak yang sedang memperhatikan Bunny dan Betty bermesraan.



"Kenapa kesini?"


"Lah... yang ditungguin ngambek, ya abi samperin." gue memeluk lengan kokoh Uwak.


"Lu sudah punya alfa baru sekarang. Ikuti semua kata-mata Richard selama itu baik. Tinggalin dunia yang uwak kenali ke lu, hiduplah dengan baik disana."

__ADS_1


"Lu nanti disana harus bahagia. Jadi istri dan ibu yang baik buat keluarga lu." Uwak gak mau noleh ke arah gue.


"Iya wak." Gue ikut melow. "Seoul-Jakarta gak jauh, wak. Abi pasti sering-sering pulang. Kalau abi gak bisa Uwak sama Marlin harus tenggokin abi."


Hening.


"Papa mama lu sudah bahagia sekarang. Gue yakin Lani dan Paulo tenang ngeliat lu sama Richard."


"Makasi, ya Uwak." Gue memeluk uwak. "Makasi udah besarin dan ngerawat abi. Makasi udah jadi ayah ter the best buat abi."


"Lu memang anak gue."


"Abi tau. Ayo orang-orang udah nungguin di rumah." Gue gandeng tangan Uwak dan menariknya keluar dari Markas.



Makan malam berlangsung meriah. Angel terlihat nyaman bersama orang-orang yang ia kenal. Angel masih takut bbertemu dengan orang asing. Makanya gue dan Richard buat makan malam kali khusus keluarga.


Angel sudah tidur dikamarnya sedang kami para orang dewasa sedang menikmati red wine di teras.


Gue memeluk pinggang gue, menunjukan ke posesifannya. "Siang." Dia memutar-mutar gelas Wine nya.


"Apartemen lu gimana?" Bang Blue terlihat salah tingkah melihat kemesraan kami, sedang wajah Marlin bersemu merah.


"Dijaga Mang Karso." Richard tidak segan memberi kecupan di pundak gue bahkan mengigitnya. Ni orang gak liat situasi.


"Auw! Appa!" Gue mencubit perutnya.


"Sayang jangan mengodaku. Masih banyak tamu disini." Lah gue yang fitnah. Jelas - jelas dia yang mepet - mepetin gue.


"Ke kamar sana ke kamar!" Tuan rumah nya diusir. Jelas aja, Richard yang gak punya akhlak. Jelas - jelas yang dateng jomblo semua.


"Baiklah, kami tidak akan sungkan. Beri kami waktu dua jam." Richard menggedong gue ala pengantin baru. Tanpa malu meninggalkan tamu kami dan masuk ke kamar.

__ADS_1


*****


Gue memeluk Uwak dan Marlin. Mata gue mulai panas. Ini pertama kalinya kami berpisah. Gue dan Marlin selalu bersama, tapi kini harus berpisah jauh.


"Sering telepon gue." Pesan Marlin.


"Ngapain? Roaming tahu. Gue kirim post card aja." gue berusaha tetap bercanda dan tersenyum walaupun saat ini gue sedang sedih.


"Pelit amat."


"Sering-sering nengokin abi, Wak." gue memeluk uwak.


Uwak mengusap punggung gue, "Jaga diri lu baik-baik. Kalau ada apa-apa kabarin Uwak." gue mengangguk.


Richard memeluk pundak gue, sudah waktunya kami masuk. Satu jam lagi pesawat lepas landas.


Dengan berat hati gue mengikuti langkah Richard dan Angel masuk kedalam untuk check-in.


Bye-bye Jakarta.


Entah kapan gue akan kembali lagi ke kota ini.


Kami akan membangun keluarga kecil di Seoul. Semoga kami bisa hidup tenang dan bahagia disana.


-TAMAT-



*Tungguin Extra Partnya yah...


Tanggal 25, Catet!! tanggal 25 emak mulai up cerita Angel. Mampir okeh?? Emak maksa nih*...


emak istirahat dulu sehari, ya....

__ADS_1



__ADS_2