Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#46. Kompromi.


__ADS_3

Sepulang ke apartment. Mikha merasakan ada yang aneh. Kedua mata bulatnya yang indah itu mengedar ke segala penjuru. Hal yang di lakukannya tentu saja membuat Roma tersenyum.


"Mikha pasti kehilangan karena Umma sama Abi sudah pulang," gumamnya.


"Mikha, koper kamu masih ada di kamar kamu kalo kamu lupa," kata Roma.


"Ah, iya Mikha ambil dulu ya," kata gadis itu. Rumah kembali sepi.


Umma yang perhatian padanya sudah tak ada di sini.


"Gak usah, kamu mandi aja di kamar aku sana. Aku mau ke dapur dulu," titah Roma.


"Iya, baiklah," jawab Mikha singkat dan langsung membuka pintu kamar tersebut untuk melangkah masuk. Akan tetapi, baru selangkah ia seakan menyadari sesuatu.


"Ke dapur? Ngapain? Ah itu!" Mikha yang baru sadar pun kembali keluar dan berlari ke arah dapur guna menyusul suaminya.


"Biar Mikha aja Kak!" pekik gadis bermata besar ini. Menghentikan gerakan Roma seketika yang baru saja mau mengeluarkan makanan dingin di dalam kulkas.


"Loh, kok kamu gak jadi mandi? Udah sana, biar ini semua aku yang urus," kata Roma mengusir istrinya agar mandi.


"Eh, enggak mau. Kakak tinggalin dulu pekerjaan ini biar mikha aja yang kerjain nanti,"


ucap Mikha lagi cukup tegas kali ini.


"Mikha yang manis. Mending kamu mandi duluan sana terus solat asar. Biar lauknya aku yang hangatkan. Nanti kamu yang menata meja dan buatkan minuman pada saat aku mandi nanti," terang Roma menjelaskan cara mereka berbagi tugas.


Mikha pun mengangguk tanda mengerti. Setidaknya ia memiliki andil untuk melayani suami. Entah darimana kesadarannya kini, semuanya itu timbul begitu saja dari dalam dirinya.


Mungkin, karena semua ketulusan yang telah di berikan oleh keluarga Roma. Terutama kesabaran laki-laki itu terhadap dirinya.


Kasih sayang dari kedua mertuanya yang tak pernah menuntutnya untuk sempurna. Karena itu mungkin kenapa Mikha merasa aman dan nyaman di tengah-tengah keluarga ini.


Gadis cantik dengan mata indahnya yang besar serta bibir tebalnya yang terbentuk seksi ini, merasakan hubungan yang tulus dari mertua dan juga pria yang menikahinya ini.


Pria yang tak sengaja tidur satu ranjang dengannya di malam penjebakan Janet yang gagal. Tetapi, na'as dirinya pada saat itu entah bagaimana bisa ada di dalam kamar bersama sosok lelaki asing dalam keadaan berantakan.

__ADS_1


Mikha, saat ini tentu saja harus bersyukur karena setidaknya kehormatan dari kegadisannya masih utuh terjaga. Tidak seperti di kisah-kisah dalam novel yang terkadang ia baca atau dengar dari kawan-kawannya. Bahwa bisanya sang tokoh sudah tentu kehilangan mahkota yang paling berharga kebanggaan dari seorang perempuan.


Mikha beruntung meskipun ia tak sengaja telah ceroboh hingga tak sadar jika di buat mabuk oleh temannya Janet. Masih untung dia gak melakukan hal yang di luar dugaan. Setidaknya, sang ayah tidak malu dan Mikha masih memiliki muka di hadapan ayahnya.


Benar saja, selesai mandi Mikha mulai merapikan meja. Gadis ini sengaja membiarkan rambut basahnya tergerai.


Lauk yang telah di hangatkan tadi oleh Roma, kini saatnya Mikha tempatkan di beberapa piring yang datar.


Beberapa saat kemudian semua berhasil Mikha kerjakan dengan baik dan benar. Hingga gadis ini tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya.


Tinggal gilirannya mengupas serta memotong buah. Mikha teringat ajaran dari Umma Annisa darimana arah memotong mangga agar dirinya tidak terkena pisau yang tajam itu.


Sehari semalam mertuanya itu ada di sini nyatanya sangat membekas bagi dirinya. Meskipun, wanita itu tidak menuntut agar Mikha bisa melayani suami dan melakukan ini-itu. Tetapi, sang Umma secara tak langsung mengajarinya sesuatu.


Seperti membuat teh yang enak serta kopi yang nikmat.


Melihat berbagai macam buah si dalam kulkas, Mikha jadi ingin membuat salad.


Gadis ini pun mulai memotong buah naga, apel, pir serta alpukat menjadi potongan dadu. Setelah itu ia mencampurnya di pinggan berukuran sedang.


Mikha sesekali melihat tutorial di salah satu aplikasi merah.


"Aaa ... aku bisa juga bikin salad buah yang cantik begini!" pekik Mikha kegirangan akan hasil karyanya sendiri.



Salad yang di dominasi warna merah karena lebih banyak buah naga di sana. Buah yang Mikha ingat adalah kesukaan dari Roma. Sementara, buah alpukat adalah kesukaan dirinya.


Klek!


Bunyi pintu kamar di buka dan kemudian langsung di tutup lagi. Tak lama muncullah satu sosok tinggi putih yang telah bersih dan wangi.


Roma menyunggingkan senyumnya pada saat melihat Mikha nampak begitu sibuk di area dapur.


Pria ini tak peduli akan penampakan lantai dapurnya yang lengket dan meja yang berantakan bertabur keju serta kulit buah dimana-mana.

__ADS_1


Bagi Roma hal itu bukan masalah besar baginya. Satu yang terpenting adalah Mikha mulai menyadari kewajibannya serta mulai kembali pada kodratnya.


"Duh, sibuk banget kayaknya. Maaf, ya aku kelamaan tadi di kamar soalnya Aby nelpon," kata Roma yang seketika membuat Mikha menoleh ke belakang.


"Ah, Kak. Maaf kalau dapurnya kayak abis kena serangan alien ya. Setelah ini Mikha janji akan membersihkannya," ucap gadis yang mengenakan piyama satin berwarna marun itu dengan senyumnya yang merasa bersalah.


Roma lega karena kali ini Mikha mengenakan kacamata bukit kembarnya. Sekalipun, memang size-nya itu cukup terlihat menggoda di balik pakaian tersebut.


Ataukah, memang otak Roma saja yang telah terkontaminasi beberapa kejadian yang menimpa keduanya dalam satu hari ini.


Baru mengingatnya saja sudah membuat sekujur tubuh Roma mendadak gerah.


Wajar kan jika gelora kelelakiannya mudah bangkit akhir-akhir ini.


Apalagi penampakan Mikha yang alami benar-benar bak bunga teratai yang baru mekar. Segar dan indah tentunya.


"Tak apa, nanti aku bantu bersihkan, kata Roma yang telah kembali dari dunia halusinasinya.


Mikha membawa salad tersebut ke meja makan. Dan segera kembali ke dapur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Sini, Kak. Biar Mikha saja yang mengepel," ucap Mikha seraya mengambil alih apa yang tengah Roma kerjakan.


"Tak apa, biar aku saja. Kamu istirahat sana. Nanti kakinya pegal lo karena terlalu lama berdiri dan mondar-mandir," kata Roma begitu mengerti kalau Mikha sudah kelelahan sebenarnya. Hanya saja ia ingin menjadi sosok istri yang berguna.


Acieee ... udah ngaku jadi istri. 🤭


"Tapi kan mengepel lantai adalah tugasnya Mikha, yang tak lain adalah perempuan dan istri dari kamu," tolak Mikha yang bersikeras ingin membuat dirinya berguna.


"Mikha yang manis," mau tak mau gadis itupun pun mendapat panggilan lembut yang menenangkan telinganya beberapa pekan belakangan ini.


Hingga, cara bicara Mikha pun perlahan mulai berubah dan terstruktur rapi serta sopan.


Mikha menoleh dan menatap lekat pada sosok yang ingin memberi nasihat ini.


"Sejatinya pekerjaan rumah itu adalah tanggung jawab bersama. Entah itu bagi laki-laki maupun perempuan. Alangkah baiknya harus dilakukan oleh kedua pasangan suami dan istri," tegas Roma yang tetap meneruskan pekerjaannya hingga lantai benar-benar kinclong.

__ADS_1


"Pantas saja dia bisa menjadi suami yang menjaga kehormatan serta menyenangkan perasaan istrinya terus. Sampai aku tuh gak kebagian buat kerja merapikan rumah. Kalau ternyata, Aby Zakaria saja semanis dan begitu nampak bertanggung jawab penuh. Hal itu pun di turunkan dengan baik kepada putranya," batin Mikha penuh decak kagum.


...Bersambung ...


__ADS_2