Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#37. Enak Sih, Makanya Lupa.


__ADS_3

"Ya Allah, maaf!" pekik Mikha yang langsung membenarkan posisinya. Gadis ini agak kebingungan karena Roma menutupi matanya dengan telapak tangan ambil menggelengkan kepalanya pelan.


Rambut Mikha itu panjang dan tebal jadi lumayan juga kalau kena sabetannya di bagian itu. Emang aja hari na'as bin apes buat Roma. Udahan nahan ngilu di tambah perih di mata.


"Maaf aku gak sengaja. Kan aku kaget," kata Mikha yang berusaha mendekati Roma untuk melihat apa yang terjadi terhadap suaminya itu.


"Aku mau ke kamar mandi nih, tapi mata aku gak bisa melek," kata Roma yang memang pada saat ini tengah memegangi sebelah matanya.


"Ya, terus a–aku harus gimana? Sini deh coba aku tiup," kata Mikha mulai merasa bersalah.


"Memangnya aku kelilipan debu harus di tiup. Duh, kalo mataku rusak gimana ini?" protes Roma sambil terus mengaduh. Kalau dari kacamata author nih, nampaknya Roma ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Bagaimanapun Roma juga ingin merasakan kehangatan dari istrinya ini.


"Lah terus, aku harus gimana dong!" Mikha mulai frustrasi dan semakin merasa bersalah. Roma pada saat ini ia dudukkan di sisi tempat tidur. Lalu perlahan direbahkan dengan bantal yang di tumpuk untuk menyangga bagian belakang kepala.


Roma masih asik mengaduh.


"Coba deh kamu intip ini bola mata aku luka apa enggak," pinta Roma.


"Masa iya sih luka kan cuma kena rambut aja," kata Mikha tak percaya.


"Ya kan kesabet Mikha. Mana rambut kamu itu tebel," keluh Roma dengan nada merengek.


"Oh, iya juga. Udah gitu aku kenceng kan ngibasnya tadi."


"Ya udah cepetan liat. Awas aja kalo sampe kenapa-napa, ganti tuh pake bola mata kamu yang belo," kecam Roma membuat Mikha langsung bergidik seketika.


"Ih, jangan sampe deh. Nih cowok nakutin gue aja," batin Mikha yang khawatir juga jika sampai mata Roma luka serius. Karena yang Mikha tau bahwa retina mata itu sangat tipis dan rentan terluka.


Itulah sedikiyhal yang Mikha pelajari saat di sekolah. Nyatanya nilai akademik Mikha itu tidak terlalu bagus kecuali bidang olahraga dan bahasa asing.


Karena Mikha memang lebih tertarik untuk mengolah keahlian tubuhnya ketimbang dengan otaknya.


"Ya udah, sini Mikha liat. Awas dulu tangan kamu," titahnya seraya memajukan wajah agar dapat melihat dengan jelas seraya menyingkirkan tangan Roma yang menutupi sebelah matanya itu.


"Buka dong matanya. Gimana Mikha mau liat kalo kamunya merem gitu."


"Ya kan perih Mikha. Aku gimana bisa melek coba," protes Roma.


"Ya udah iya, pelan-pelan aja coba di buka," kata Mikha lagi yang perlahan membuka kelopak mata Roma dengan jarinya.

__ADS_1


"Ya ampun, merah banget!" pekik Mikha kaget.


Tetapi, Roma justru tak berkedip saat memandang wajah yang berada sangat dekat dengannya ini. Apalagi, posisi Mikha sedikit menindih tubuhnya.


Terdengar bunyi dentuman keras yang berasal dari debaran dadanya.


Dengan posisi ini Roma rasanya gak tahan lagi, ia pun mengulurkan tangan untuk kembali melingkar di pinggang Mikha sehingga tubuh mereka semakin menempel erat.


"Eh!" Mikha pun kembali menjerit kaget karena kini tubuhnya dengan Roma justru menempel.


"Hei, kamu--"


Muah!


Entah dorongan darimana hingga Roma berani memajukan wajahnya untuk menyambar bibir merah alami milik Mikha.


Kecupan sekilas itu ternyata membuat Roma semakin penasaran. Lelaki berhidung mancung ini pun mencoba untuk melakukannya sekali lagi.


Cup!


Tak ada penolakan dari Mikha dimana gadis ini hanya bisa melotot saja. Maka, Roma pun mengubah kecupannya menjadi sesapan perlahan yang lambat laun menghipnotis keduanya.


Ciuman pertama keduanya yang biasa saja dan malu-malu ini pun semakin lama menjadi serius. Mikha yang mulai terbawa suasana pun ikut mengimbangi permainan suaminya.


Roma semakin membawa Mikha kedalam pelukannya. Tubuh mereka menempel erat hingga tak ada celah sedikitpun bagi angin untuk lewat.


Semenit dia menit pun berlalu hingga ciuman itu menghabiskan waktu lima menit lebih. Udara disekitar kamar mereka yang dingin kini berubah memanas.


Napas keduanya terdengar menderu serta decapan yang berasal dari gerakan bibir yang beradu semakin nyaring terdengar.


Roma dan Mikha nyatanya terlarut dalam keasyikan mereka. Hingga masing-masing terlupa akan penolakannya semula.


Roma yang semakin terbawa suasana apalagi Mikha perlahan bergerak di atas tubuhnya dengan suara desah halus mengalun merdu dari bibirnya.


Roma pun hampir mengeluarkan suara yang sama saling menikmati apa yang baru ia rasakan juga seumur hidupnya ini.


Telapak tangan Roma yang berada di pinggang Mikha pun kini mulai bergerak perlahan untuk mengusap kulit dari balik piyama istrinya itu. Ya, Roma telah menyusupkan tangannya hingga kulit tangannya merasakan betapa halus dan lembut kulit punggung Mikha.


Semakin kencang lah desah serta lenguhan yang mengalun dari bibir Mikha ini. Maka semakin bersemangat pula Roma bergerilya dengan kedua tangannya.


"Emh!"

__ADS_1


Tanpa sadar Roma telah membalik posisi hingga kini Mikha lah yang berada di bawah kendali dirinya.


Ciuman keduanya belum terlepas sama sekali karena Mikha pun nampaknya menikmati tanpa adanya penolakan. Gadis itu justru mengalungkan kedua lengannya pada leher kekar Roma.


Kedua tangan Roma yang sudah tak bisa diam itu mulai menjelajah sesuai dengan nalurinya. Hingga, telapak tangannya itu menemukan sesuatu yang empuk dan pas dengan genggaman tangan yang besar. Roma pun memberi remasan lembut pada bagian itu hingga Mikha melenguh dan tersadar.


Gadis itu pun melepaskan ciuman keduanya dengan cepat, kemudian mendorong tubuh Roma yang menindihnya.


Roma berguling ke samping dan kembali terduduk. Mikha pun melakukan hal yang sama sambil menguasai deru napasnya yang masih tersengal-sengal.


"Sial! Hampir aja gue kecolongan," batin Mikha.


Sementara, suara isi hati Roma adalah ...


"Ya Allah, dikit lagi padahal. Kenapa dia udah keburu sadar. Terus, gimana ini nasib si Joni?"


Duh, kalian ini.


Bikin gemas deh.


Author jadi pengen nabok 🤣


Mereka berdua tak ada yang saling bicara. Bahkan sama-sama mengalihkan pandangan karena malu akibat kelakuan tanpa sadar yang mereka lakukan barusan.


Padahal sudah sah secara agama, apapun yang terjadi dari apa yang keduanya lakukan justru akan mendapatkan pahala.


Akan tetapi, keduanya yang memang belum saling mengenal satu sama lain sebelumnya serta perjanjian secara lisan yang Mikha ucapkan membuat Roma sedikit merasa bersalah.


"Maaf." Akhirnya ucapan itu keluar juga dari mulutnya yang mana langsung membuat Mikha menolehkan wajahnya.


"Em, kamu gak salah. Aku aja yang belom siap. Maaf, udah dorong kamu. Please jangan beri aku label istri durkaha," kata Mikha. Ternyata lambat laun pikirannya mulai menelaah setiap nasihat yang di lontarkan oleh Roma belakangan ini.


"Durhaka kali maksud kamu," sahut Roma sambil menahan tawanya karena Mikha sempat salah ucap.


"Eh, iya itu maksudnya," ucap Mikha yang semakin merasa malu saja.


Apalagi jika teringat kalau tadi dirinya sempat mengeluarkan suara saking menikmati sentuhan dan perlakuan Roma pada dirinya.


"Uh, kenapa bisa kebawa suasana sih Mikha!" geramnya dalam hati sambil terus menunduk hingga rambutnya tergerai ke depan.


Enak sih, neng. Makanya lupa 🤣

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2