Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Delapan Puluh Satu


__ADS_3

Pov Author


Richard menerobos masuk sambil menggendong Alana yang sudah tidak sadarkan diri. Mencari bongkar kosong sambil berteriak-teriak memanggil dokter seperti orang kesurupan.


Tidak, dia tidak akan bisa bila harus kehilangan lagi. Begitu sulit ia bangkit dari keterpukuran saat kehilangan Rosaline. Bila ia juga harus kehilangan Alana, mungkin Richard akan memilih untuk menyusul istrinya.


Dua dokter dan dua perawat mendatangi bangkar Alana. Salah satu sudah meminta perawat untuk menyiapkan ruang operasi. Dokter yang lain bersiap melakukan beberapa tes pada Alana sebelum masuk ke kamar operasi.


Satu tangan Richard mengenggsm tangan Alana sedang tangan yang lain menggosok punggung tangan Alana mencoba menghangatkan tubuh Alana.


"Dok, istri saya kedinginan. Tolong istri saya, dok." Richard memohon.


"Pak, tolong tunggu diluar." Suster berusaha mendorong tubuh Richard. Richard tidak tinggal diam, ia terus mencari celah untuk mendekati Alana.


"Pak, anda justru menganggu kami. Mohon tunggu di luar." Madin yang berada dibelakang Richard memegang pundak Richard untuk menguatkan pria itu.


Tiraidi sekitar bangkar susah ditutup. Sebagian para medis sibuk memasang alat pada tubuh Alana, sebagai lagi memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan perdarahan.


"Anda keluarga pasien?" seorang perawat mendatangi Richard.

__ADS_1


"Iya, saya suaminya."


"Mari ikut saya mengurus persetujuan operasi."


Suster itu berjalan mendahului Richard sambil terus bicara.


"Bagaimana keadaannya?"


"Nanti dokter akan menjelaskan." suster itu berhenti dimeja perawat. Mengeluarkan beberapa formulir yang harus Richard tanda tangani.


Tanpa pikir panjang Richard menyetujui operasi Alana. Keselamatannya adalah yang utama.


"Oh Sus, istri saya sedang hamil. 16 minggu." terang Richard sebelum suster tadi menghilang.


Richard bersandar pada kursinya. Tubuhnya tidak bertenaga, seakan tulangnya melunak. Ia butuh penopang nya. Ia butuh Alana-nya.


Ya Tuhan, bila boleh aku meminta, selamatkanlah istri dan anakku. Dulu Engkau sudah mengambil Rosaline dari hidup kami, sekarang jangan Kau ambil Alana.


Sebelum masuk ke ruang operasi, dokter sempat menjelaskan keadaan Alana pada Richard. Alana kehilangan banyak darah karena luka di kakinya cukup dalam dan peluru dipundaknya mengenai pembulu darah.

__ADS_1


Madin duduk dikursi kosong disebelah Richard. "Maafkan aku." Richard tertunduk lemas. Air matanya menganak sungai di pipinya. Ia nampak berbeda dari beberapa jam yang lu saat menghabisi musuhnya.


"Alana wanita yang kuat. Percayalah." hibur Madin walaupun ia sendiri tidak yakin.


Ini adalah satu jam terlama dalam hidup Richard. Jarum jam terasa bergerak sangat lambat. Menunggu lampu kamar operasi padam membuatnya sangat resah dan takut.


Richard dan Madin berhamburan mendekati dokter yang keluar kamar operasi. "Bagaimana keadaan istri saya?"


"Operasinya berjalan lancar. Kami berhasil mengeluarkan pelurunya. Tapi karena tadi nyonya sempat kehilangan banyak darah, membuat pasokan oksigen ke janinnya ikut berkurang." dokter memberi jeda sambil membuang napasnya ke udara.


"Jadi?"


"Janin nyonya Alana tidak bisa kami selamatkan." Richard mundur beberapa langkah. Memegangi dadanya karena jantungnya terasa melompat keluar. Dia kehilangan calon anaknya.


"Tapi istri saya baik-baik saja kan?" tanyanya lemah.


"Nyonya sudah melewati masa krisis nya. Setengah jam lagi kami akan memindahkan nyonya ke ruang rawat."


"Terima kasih dokter." Madin menjabat tangan dokter yang baru saja mengoperasi Alana.

__ADS_1


Tubuh Richard melorot ke lantai. Rasanya ingin berteriak.


Bagaimana ia harus menjelaskan ini pada istrinya? Alana sangat menginginkan kehamilan ini.


__ADS_2