Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#33. Bersin Tanda Apa?


__ADS_3

"Astaga!" pekik Mikha lantaran kaget, sehingga gadis ini langsung berbalik.


"Kamu, bikin aku jantungan aja tau gak!" kesal Mikha, yang merasa jantungnya telah berdegup tak karuan.


"Sini kamu!" panggil Roma seraya menarik lengan Mikha agar masuk kembali ke dalam kamar.


Mikha sebenarnya meronta tetapi cekalannya Roma tentu saja lebih kuat.


"Lepasin ih, aku mau ke sirkuit!" pekik Mikha yang mana hal itu membuat Roma kembali membekap mulutnya. Bahkan Roma menggerakkan kakinya untuk menutup daun pintu yang belum tertutup sempurna.


"Kamu nih, mau bikin geger ya. Atau sengaja biar Umma sama Aby tau pernikahan kita yang gak normal?" tekan Roma.


"Ya gak gitu," jawab Mikha sambil manyun.


"Atau kamu udah berubah pikiran dan mau kita bagi suami istri beneran?" cecar Roma dengan tatapan mata yang mengintimidasi gadis di hadapannya ini.


"I–itu juga bukan," sahut Mikha lagi yang mana kini mulai menciut acap kali Roma memberinya tatapan tajam.


"Kalau kamu masih ingin bertahan dengan semua kepura-puraan itu, maka akting yang bagus. Perankan tugas istri dengan baik agar kedua orang tua kita tidak curiga," tekan Roma lagi, yang mana ucapannya itu hanya di jawab dengan anggukan oleh Mikha.


"Iya, tapi kan aku--"


"Tunda saja balapannya. Toh kamu gak butuh banget uang itu kan. Segala kebutuhanmu telah ku penuhi. Hutangmu juga sudah ku bayar. Lalu atas dasar apa kamu sangat memaksa untuk mendapatkan uang tersebut?" titah Roma kali ini benar-benar serius.


"Bukan hanya uang yang kupikirkan tapi--"

__ADS_1


"Apa! Pencitraan, nama baik, atau pamor?" cecar Roma yang sangat tepat menghujam akar permasalahan yang sebenarnya.


"Kamu gakkan ngerti!" bentak Mikha seraya menepis cekalan tangan Roma.


Roma memejamkan mata seraya menarik napasnya dalam.


Pria ini tak mau kedua orangtuanya kecewa karena pernikahannya ini tidak berjalan dengan semestinya.


Akan tetapi melihat sikap keras kepala dari Mikha maka Roma pun akhirnya memutuskan untuk pasrah saja.


"Pergilah. Jika kamu memang tega membuat orangtuaku dan juga ayahmu kecewa. Silakan pergi dan jadilah anak durhaka setelah itu. Buatlah dosa besar sekalian jangan setengah-setengah. Biar kamu panen dosanya juga full!" sarkas Roma.


Pria ini tak tau lagi bagaimana cara menghentikan keinginan dari Mikha, gadis yang sudah sah menjadi istrinya. Akan tetapi, sangat sulit bagi Roma untuk mendidiknya.


"Aby!" panggil Annisa seraya menarik kepala suaminya agar kembali masuk kedalam kamar.


"Apa sih sayang. Aby lagi ngintip tauk," protes Choki, yang mana sebenarnya sedang mengakuratkan dugaannya.


"Ih, gak boleh ngintip. Dosa!" Annisa terus menarik suaminya hingga ke tempat tidur mereka.


"Kenapa sih sayang. Aby kan cuma mau tau aja sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah seperti apa yang ada dalam dugaan Aby atau tidak," kilah pria yang semakin berkharisma di masa tuanya ini.


Bahkan wajah Choki masih tampak sama seperti dua puluh tahun lalu. Tak ada keriput sama sekali di kulitnya yang kuning langsat itu.


Annisa pun sama, sekaan penuaan tak menyentuh keduanya. Mereka berdua hanya terlihat lebih dewasa saja.

__ADS_1


"By, setiap rumah tangga itu kan pasti ada aja masalahnya. Tak di pungkiri di pernikahan yang meski baru seumur jagung. Sebagai orangtua di sinilah peran dan kedewasaan kita di uji. Apapun itu kita sama sekali tak ada hak untuk ikut campur kecuali, anak kita sendiri yang meminta nasihat dan bantuan. Bahkan dalam agama Islam itu sendiri telah menetapkan hukum tersebut Aby. Jadi, sebaiknya kita pura-pura gak tau aja," tutur Annisa panjang lebar.


"Kamu bener sayang. Aku terbawa emosi dan gregetan rasanya. Kok bisa mereka itu berpura-pura di belakang kita. Apa sebenarnya kejadian itu benar-benar sebuah jebakan saja?" timpal Choki.


"Sejak kapan Aby mencurigai mereka?" tanya Annisa memastikan.


"Lha, kamu juga ternyata tau. Sejak kapan?" Choki pun balik bertanya.


"Aku ini kan seorang ibu, tentu saja perasaan itu lebih peka. Hal sekecil apapun takkan bisa di sembunyikan dari seorang wanita apalagi seorang ibu. Dan, Annisa sangat salut karena ternyata Aby juga menyadarinya," kata Annisa dengan senyumnya yang menenangkan.


"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka, sayang?" tanya Choki serius.


"Kita ajak mereka gantian menginap gimana?"


"Aku setuju," jawab Choki dengan senyum jahilnya.


Kembali ke kamar Roma dimana pasangan pasutri ini sedang lomba bersin.


"Hatchiii ...!"


"Hatchiiww ...!"


"Kenapa tiba-tiba kita bersin bareng begini?"


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2