
Pagi ini Mikha nampak sibuk berkemas di dalam kamarnya. Setelah koper ukuran sedang berwarna abu-abu pekat tersebut telah terisi semua perlengkapannya, Mikha langsung menyeretnya perlahan keluar dari kamar.
Setelah itu, Mikha mengetuk pintu kamar suaminya.
"Suami? Tapi kok tidurnya masih misah?" Mikha membatin seraya tertawa tanpa suara. Lucu juga kalau di pikir. Sampai kapan akan begini ia pun tak tau. Rasanya masih malu untuk sekedar berdekatan dengan Roma.
Pria itu sangat paham jika Mikha masih belum siap sehingga Roma pun menjaga jaraknya dari sang istri. Bahkan, Roma memperbolehkan Mikha tidur beda kamar agar gadis itu dapat tidur dengan pulas.
Meskipun nyatanya Mikha merasa bersalah setengah mati semalaman penuh.
Batinnya terus merutuki dirinya sebagai istri yang tidak tau diri. Keterlaluan dan tak punya hati. Kurang baik apalagi seorang Roma bagi dirinya. Sampai kapanpun takkan memiliki lagi kesempatan yang sama, mendapatkan pria super baik dan hampir sempurna macam Roma.
Bahkan pria itu mampu menjaga hati serta kesucian pernikahan dengan menolak mentah-mentah perempuan muslimah cantik dan pintar yang meminta cintanya. Bahkan dengan bangga pria itu mengakui dirinya sebagai seorang istri.
Padahal Mikha sadar bahwa dirinya sangat jauh dari sosok perempuan yang di tolak oleh Roma saat itu.
Mikha masih menggantung kepalan tangannya yang hendak mengetuk pintu. Justru air matanya seketika terjatuh kala memikirkan perbuatannya serta sikapnya kepada Roma.
Sejak semalam hatinya terus berperang. Sisi dewasa dan remajanya terus saja berdebat tak karuan. Bagian dewasanya meminta agar Mikha menerima semua takdir dan memerintahkan dirinya untuk mulai menjalani tugasnya sebagai istri. Akan tetapi, bagian sudut egois dalam hatinya mengajarkan hal yang bertolak belakang.
Mikha menarik napasnya demi menenangkan hati dan juga kepalanya. Sudah cukup lelah ia mendengar perdebatan kedua sisi hatinya sejak semalam.
Hari ini ia harus bersenang-senang dan memulai hubungan agar lebih dekat dengan Roma dan juga keluarganya.
Toktok!
Mikha mengetuk pintu dua kali, tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang nampak sangat menawan di kedua mata Mikha.
"Ya Allah, kenapa dia cakep banget sih pagi ini?"batin Mikha terkesima.
"Kamu sudah siap? Mana kopernya?" tanya Roma mengabaikan tatapan terpsona dari istrinya ini.
Mikha yang terkesiap menunjuk sekenanya.
__ADS_1
"Mana?" tanya Roma lagi heran. Karena Mikha menunjuk tempat kosong.
"I–tu ..," ucap Mikha menggantung sambil menunjuk arah yang salah.
"Eh si sana ternyata," kata Mikha selanjutnya kembali menunjuk ke arah dimana kopernya ia letakkan.
"Kalau sudah siap, ayo kita berangkat sekarang," ajak Roma.
"Loh, Kakak sudah selesai berkemas juga?" tanya Mikha heran padahal ini masih cukup pagi. Dan ia berniat yang mengemas segala keperluan suaminya untuk di sana.
"Sudah, kamu gak usah pikirin aku. Semelem tidurnya nyenyak kan? Karena kamu harus fit hari ini," kata Roma lagi.
"Iya dong, aku bobo nyenyak kok," jawab Mikha berbohong. Masa iya dia mau jujur bilang kalau semalaman berguling-guling tak jelas sampe dini hari.
Sisi egois wanita tentu saja melarang untuk berkata yang sebenarnya. Ingat image kita, harga diri.
"Maaf, Kak. Seharusnya Mikha membantu untuk berkemas. Tetapi, aku malah sibuk sendiri," ucap Mikha sesal.
"Kenapa jadi dia terus sih yang minta maaf. Kan akunya jadi makin gak enak," batin Mikha yang hanya bisa tersenyum saja menanggapi bantahan suaminya.
"Ya udah. Nanti kita sarapannya di bandara aja. Gapapa kan," kata Roma lagi.
"Iya Kak. Lebih baik datang awal ketimbang telat kan," jawab Mikha yang mengerti. Karena itulah kakinya langsung melangkah ke dapur dan mendekati lemari pendingin. Pada saat ini Mikha mengambil beberapa roti manis dan biskuit untuk mengganjal perutnya nanti selama perjalanan yang mungkin akan memakan waktu selama satu jam di dalam mobil.
"Jangan lupa bawa air mineral ya, Mikha. Dua botol sedang saya cukup," titah Roma dari depan pintu. Lalu pria itu keluar dengan menarik dua koper tang berukuran sedang di tangan kanan serta kirinya.
"Kak, sini biar Mikha bawa sendiri," pinta Mikha yang tak tega melihat Roma kerepotan sementara dirinya lenggang.
"Maaf, sebenarnya pakaian kita bisa satu koper saja. Tapi tak apa, aku mengerti," ucap Roma seraya menyerahkan koper tersebut ke tangan Mikha.
"Sini kantong bekalnya?" pinta Roma yang melihat Mikha juga membawa camilan di dalam tas kain.
"Perhatiannya ini yang bikin aku tuh ya ampun, lama-lama gak kuat juga deh ini," batin Mikha.
__ADS_1
Segala perhatian Roma yang kecil dan sederhana namun sangat mengena di hati kecil Mikha. Justru hal itu adalah nilai tambah dari segala kebaikannya yang lain.
Mikha mencoba mengikuti kata hatinya bukan menentang dengan segala macam pembenaran di satu sisi namun menyalahi di bagian yang lainnya.
Mereka berdua keluar dari apartemen dengan kendaraan mobil mewah yang di bawa oleh Roma.
Di perjalanan, yang belum terkena macet ini Mikha mengeluarkan roti manis isi keju. Ia berniat mengisi perutnya agar tidak masuk angin.
"Nah, gitu. Isi perutnya biar gak kosong. Pinter kamu. Aku malah lupa buat ngingetin," kata Roma yang senang karena Mikha sama sekali tak malu makan dengan cuek.
"Oh iya, Kakak kan belum sarapan juga. Mau? Nih?" Mikha menyodorkan satu roti yang utuh dan masih di bungkus. Sontak Roma pun tertawa sambil menggeleng.
"Gak perlu, Mikha. Aku kan lagi nyetir. Biar aku tahan aja lapar ini sampe ke bandara nanti," sahut Roma.
"Oh iya ya, dia lagi nyetir. Itu artinya aku harus ...?"
"Ya udah, sini buka mulutnya!" titah mikha seraya menyodorkan potongan roti dengan jari tangannya.
Roma tersenyum bahagia sebelum ia membuka mulutnya dan melahap potongan roti yang ada di dalam suapan Istrinya itu.
Sepanjang perjalanan mereka sarapan ala kadarnya saja. Cukup dengan roti dan air mineral.
Mikha menyuapi suaminya hingga menghabiskan sepotong roti dengan ukuran sedang. "Kakak, tolong pelankan laju mobilnya, dan minumlah dulu," kata Mikha seraya menyodorkan ujung bibir botol air mineral botol dengan sedotan siku di atasnya.
Betapa senangnya hati Roma pada saat mendapatkan perhatian serta pelayanan seperti ini dari gadis barbar yang tadinya cuek setengah mati pada dirinya. Akan kehadirannya bahkan segala perbuatannya.
Tetapi, kini ia perlahan dapat melihat perubahan dalam diri Mikha dan mensyukuri itu semua sebagai tanda kasih sayang Allah padanya.
"Makasih ya, Mikha yang manis. Sekarang perut aku udah terisi. Insyaallah kuat nyetir sampai Bandara," kata Roma masih dengan nada lembut yang dapat membuat caping hidung Mikha kembang kempis karena tersipu.
Eh, harusnya kan aku merona pipinya?
...Bersambung...
__ADS_1