Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Delapan Puluh Dua


__ADS_3

Bau obat - obatan sangat menganggu penciuman gue. Dengan susah payah gue mencoba mengumpulkan nyawa gue. Gue mengerjabkan mata, menyesuaikan dengan sinar yang berusaha menembus masuk.


"Ugh." nyeri begitu terasa dipundak kiri gue. Sekilas gue mulai mengingat apa yang terjadi.


"Sayang kamu sudah bangun?" lega nya gue karena ada Richard. Kembali gue mengingat Richard yang sedang menangis.


"Apa aku sudah disurga?"


"Maaf sayang, sepertinya kamu terjebak di neraka bersamaku." Richard membalas candaan gue.


Gue bisa melihat wajah Richard yang berantakan. Bulu-bulu halus mulai tumbuh di wajahnya, padahal dia selalu menjaga agar wajahnya selalu mulus tanpa jenggot dan kumis.


Bajunya masih sama seperti yang terakhir gue lihat bahkan masih ada noda darah. "Appa kamu terlihat mengerikan."


"Aku bahkan bahkan berpikir untuk menyusulmu sayang. Aku akan panggil dokter." Richard menekan tombol hijau yang ada disebelah ranjang.


"Dimana Angel?" gue tidak melihat Angel di kamar rawat gue.


"Dia bersama Marlin, Sayang. Jangan khawatir."


Dokter datang bersama dua perawat. Mereka memeriksa keadaan gue secara teliti. Dokter juga memeriksa perut gue yang membuat gue teringat kandungan gue.


"Appa, apa baby baik-baik saja?" Entah kenapa gue merasa ada yang aneh dengan perih gue.


Richard yang duduk di tepi brangkat kini berpindah berbaring disebelah gue. Memeluk pundak gue dan memberikan ciuman di kening gue. Ciuman panjang, perasaan gue makin gak enak.


"Sayang, maafkan aku. Dokter tidak bisa menyelamatkan baby kita." lirihnya.


Gue mendengar jelas apa yang Richard katakan tapi entah kenapa otak gue begitu lambat mencernanya.

__ADS_1


"Gimana apa? Aku gak ngerti."


"Dokter bilang, kamu kehilangan banyak darah." Richard menjeda omongannya, memeluk gue lebih erat. Merasa gue lebih nyaman dan tenang setelah menyandarkan kepala di pundaknya, "Baby kekurangan oksigen, sayang Jadi Baby sudah tidak ada saat kita tiba di rumah sakit."


Tidak ada yang keluar dari mulut gue hanya air mata yang mulai membasahi pipi. "Maafkan aku, sayang. Andai aku tidak menembakmu." gue tahu Richard menyesal.


Gue menggeleng, ini bukan salahnya. Gue tahu dia hanya ingin menyelamatkan gue.


Kami saling berpelukan dalam diam. Hanya suara isakan tangis gue yang mengisi kamar rawat.


"Maafkan aku, sayang. Andai kata aku tidak menembak mu." Suara Richard bergetar menahan tangisnya. p


"Jangan salahkan dirimu, Appa. Baby belum jadi rejeki kita. Jika Tuhan memang percaya kita bisa menjadi orang tua yang baik, akan ada lagi baby yang Dia titipkan pada kita nanti."


"Mari menangis hari ini. Besok kita harus lebih kuat untuk Angel dan calon anak kita yang lain." gue mengeratkan pelukan gue. Membahasi baju Richard dengan air mata.


Memeluk lengannya yang kokoh, membuat gue merasa nyaman. "Appa, aku tidak pernah melihat mu memegang senjata sebelumnya."


"Memang sudah lama aku tidak menembak."


"Aku juga tidak pernah melihatmu berkelahi sebelumnya."


"Apa yang ingin kamu tanya Sayang? Hum?" Richard bisa menebak pikiran gue dengan baik.


"Aku pikir kamu hanya pengusaha bisa, tapi sepertinya bukan. Dari caramu menembak aku yakin kamu sudah terlatih. Jadi Appa, siapa kamu sebenarnya?" kali ini pertanyaannya gak pake muter-muter langsung to the point.


Richard membuang napasnya ke udara, sepertinya dia tidak mau menceritakan bagian kehidupannya yang ini ke siapapun. Tapi gue gak perduli. Gue diam dan menunggu jawaban Richard.


"Aku salah satu anak buah Paulo Rivera saat masih di Italia." katanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Anak buah papa?"


"Paulo membawaku dari panti asuhan di Busan. Anak - anak dipanti itu sangat kekurangan karena tidak memiliki donatur." Ada senyum kecil dibibir Richard saat menceritakannya


"Lalu?"


"Saat itu aku berumur sepuluh tahun, yang tertua di panti itu. Tentu kami senang, Sayang. Kami bisa pergi ke Italia. Disana kami di sekolahkan dengan baik, dilatih bela diri dan menembak."


"Jadi kamu kenal Uwak?"


"Tentu. Siapa yang tidak kenal Madin Anthonio Gustav?" aku langsung memukul lengan Richard.


"Kenapa tidak pernah cerita sebelumnya? Ish dunia ini sempit sekali." gue melepaskan tangan Richard, ganti menyilangkan tangan di depan dada gue.


"Sayang, aku sudah berjanji tidak akan memegang senjata lagi. Paulo ingin kami semua hidup normal seperti yang lain nya setelah aku bertemu Rosaline. Dia tidak ingin anaknya punya hidup yang keras seperti dirinya, Nyonya Alessia dan mama mu."


"Hidup dilingkaran dunia hitam tidak mudah. Tapi ternyata anaknya ini sudah masuk kedalamnya." Richard memencet hidung gue.


"Salahkan uwak yang menyeretku masuk." gue cemberut gak Terima.


"Dia hanya ingin melindungimu. Dia ingin kamu bisa menjaga dirimu dengan baik, sayang. Madin melakukan banyak hal baik disini. Berbeda dengan saat di Italia."


"Ya kamu benar, Appa." gue kembali memeluk lengannya dan menyandarkan kepala di pundak lebarnya. "Appa, aku kangen Angel."


"Aku akan melihatnya. Jika bisa aku akan memindahkan kamarnya kesini." gue mengangguk setuju.


" Saranghae Alana. Jangan lagi mengatakan kalau kamu akan meninggalkan ku." Richard jadi melow. "Aku tidak akan sanggup bertahan." Richard menyandarkan kepalanya diatas kepala gue.


"I love you too, Appa."

__ADS_1


__ADS_2