Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#60. Wajah-wajah Bahagia.


__ADS_3

"Anakmu By. Ngapain mereka di bawah sana enggak sampai juga," kata Annisa yang sejak tadi menunggu menantunya.


"Biar ajalah sayang. Mereka itu kan pengantin baru. Mungkin menikmati setiap langkah dengan cara mereka masing-masing. Foto-foto bisa juga, ya wajarlah anak muda," kata Choki bijaksana.


"Umma takut mereka berdua nyasar. Sementara sinyal ponsel tidak ada di sini," rengek Annisa lagi kali ini nada bicaranya berubah khawatir.


"Ya enggak nyasar juga sayang. Putra kita kan bukan orang bodoh. Dia pasti bawa kompas dan tau kalau air terjun ini ada di sebelah Utara," jelas Choki lagi menenangkan kegundahan istrinya itu.


"Um, jadi begitu ya. Aku hanya terlalu khawatir saja. Ternyata itu semua berlebihan. Apa aku aneh, By?" tanya Annisa dengan raut wajah yang menggemaskan bagi Choki. Sekalipun hanya kedua mata indah Meksi tanpa riasan itu yang terlihat di antara niqob-nya.


"Kamu gak aneh sayang. Cuma aja terlalu kepo sama keromantisan mereka. Lebih baik, kita ciptakan keromantisan kita sendiri. Masa kalah tuh sama mommy dan daddy di sana!" tunjuk Choki, pada kedua sosok yang sedang bergandengan tangan di atas batu besar.


Annisa tersenyum manja lalu menggandeng pinggang suaminya dan menghampiri kedua mertuanya yang semakin lengket di usia senja mereka.


Annisa dan Choki saling pandang dengan tatapan penuh syukur karena kedua orang tua mereka ini nampak sehat dan bahagia. Bahkan bisa melihat putra mereka menikah dan berhasil menjadi dosen.


Mereka berlima duduk di bebatuan besar sambil bermain air.


"Bagaimana dengan rencana resepsi pernikahan kedua cucuku? Jangan lama-lama, karena sesungguhnya sesuatu yang di sembunyikan akan mengundang fitnah," kata Alberto, seraya menatap kearah putranya dengan intens.

__ADS_1


"Tenang saja Dad. Setelah pulang dari sini, kami akan membicarakannya dengan Rudy. Kita juga kan harus menyesuaikan dengan jadwal kegiatan mereka berdua," jelas Choki Zakaria pelan dan lembut.


"Jangan pikirkan biayanya. Buat pesta besar-besaran," kata Alberto lagi.


"Kita juga akan tanyakan ini kepada mereka, Dad. Karena tak mungkin menentukan hal tanpa berunding dengan kedua mempelai bukan?" kata Choki lagi memberi pemahaman melalui kalimat yang halus.


Karena berbicara dengan orangtua harus sabar dan penuh tatakrama. Sekalipun, pandangan mereka terhadang kurang tepat dan tidak sesuai dengan kita. Alangkah baiknya hal itu di sampaikan dengan lembut dan penuh sopan santun.


"Itu benar, tapi pastikan hal yang terbaik untuk kedua cucuku. Ciptakan pengalaman yang takkan mereka lupakan seumur hidup. Untuk cucuku kalian tak boleh menolak!" kata Alberto lagi.


Karena pada saat ia ingin membuat resepsi pernikahan sang putra tetapi, Annisa dan Choki menolak dengan tegas. Karena mereka pada saat itu tidak memiliki tabungan sendiri. Dan pemikiran Choki pada saat itu takkan menggunakan kekayaan sang Daddy untuk keperluannya.


Sehingga, hadiah dari Alberto yang berupa mas batangan seberat hampir tiga kilogram itu Choki gunakan sebagai modal dari usaha basreng istrinya.


Maka itu, untuk resepsi sang putra, Choki akan musyawarah lebih dulu. Apakah mau di buat tasyakuran saja atau pesta meriah dengan mengundang banyak tamu.


"Baiklah, kalau begitu berikan saja hadiah yang sama untuk cucumu pria tua. Seperti yang dulu kau berikan pada Choki," kata Eliana memberi saran untuk menengahi.


"Ide yang bagus, Dad," timpal Annisa dengan kedipan mata dan tawa renyahnya pada pria yang duduk di sebelahnya tentu saja.

__ADS_1


"Wanita cerdas," puji Choki seraya mengusap pucuk kepala Annisa.


"Kalian ini, memang benar-benar mata duitan." Setelah mengatakan hal itu Alberto tergelak kencang.


"Ih, Daddy kan ngasihnya emas bukan duit!" kilah Annisa yang memang berani menggoda ayah mertuanya itu.


"Oh iya, kamu benar." Alberto pun tergelak lagi.


Tak lama kemudian Mikha dan Roma sampai. Pemandangan yang pertama kali mereka lihat pada saat di puncak, selain air terjun adalah tawa ceria dari keluarganya.


"Mereka girang banget. Kita gabung yuk!" ajak Roma yang diangguki oleh Mikha. Pada saat ini sang istri sudah turun dari gendongannya dan beralih di gandeng olehnya.


Sementara mereka bahagia, terdapat Janet yang sedang merencanakan aksinya.


Beberapa foto kebersamaan Mikha dengan Roma telah di upload melalui grup chat room kelas.


"Mampus kamu Mikha. Setelah heboh di kampus pasti nenek akan mau mendengar ucapanku!" batin Janet geram setengah mati karena iri dan dengki menguasai hatinya.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2