Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 10. Malam Pertama


__ADS_3

"Alhamdulillah udah sampai di rumah."


Satya menarik beberapa koper berisi perlengkapan milik Laksmi, lalu menyimpannya di sudut ruangan. Meski lelah, wajah pria itu tampak sumringah.


Setelah penantian selama hampir satu bulan, akhirnya Satya mempersunting Laksmi Kinasih menjadi istrinya. Acara pernikahan mereka dilakukan secara sederhana, hanya menyebar sekitar lima puluh undangan, mengingat kondisi fisik Laksmi yang tak boleh terlalu lelah.


"Untuk sementara kita tinggal di sini dulu ya, sayang. Sampai tabungan Mas cukup untuk beli rumah," ucap Satya sembari mengecup kening sang istri.


"Nggak apa-apa kok, Mas. Aku siap dibawa Mas ke mana aja," balas Laksmi sambil tersenyum manis. Suaranya yang lembut menebus sanubari Satya.


Tapi tunggu! Kelihatannya ada yang aneh. "Kenapa wajahnya sangat pucat dan matanya menghitam? Suhu tubuhnya juga sangat dingin. Apa dia sakit?" pikir Satya cemas. Padahal wanita itu masih belum menghapus makeupnya.


"Kenapa memandangku kayak gitu, Mas?" tanya Laksmi.


"Apa kamu sakit? Wajahmu pucat banget," tanya Satya.


"Nggak, kok. Ini karena kecapekan dan kurang tidur aja. Tadi malam aku nggak bisa tidur nyenyak," sahut istri dari Satya tersebut.


Pria itu tersenyum tipis. Ya, masuk akal kalau Laksmi begitu. Semua calon pengantin pasti merasa tegang menunggu hari pernikahannya, kan?


"Kalau gitu mau mandi sama?" Satya menggoda istrinya dengan tatapan nakal.


"Ih, malu ah," jawab Laksmi dengan cepat.


"Loh, kenapa malu? Kita kan udah sah," balas Satya nggak mau kalah.


"Mandi masing-masing aja, deh. Lagian bukannya Mas harus cepat siap-siap ke masjid? Sebentar lagi isya, lho," ucap Laksmi menolak halus permintaan sang suami.


Satya melirik jam di layar HP-nya. "Duh, iya juga. Kalau gitu aku mandi duluan, ya," ujarnya.


Satya pun melepas baju pengantin yang masih melekat di tubuhnya satu per satu. Dia lalu mengambil sebuah handuk untuk menutupi bagian pentingnya.


"Dek, jangan lihatin Mas kayak gitu. Sabar dulu sampai siap isya. Tapi kalau penasaran, mandi bareng aja sekalian," ucap Satya tanpa menoleh ke belakang. Bahunya sedikit terguncang, karena terkekeh.


"Hah? Aku nggak ada lihat Mas, kok."


Laksmi sontak memutar wajahnya ke arah lain. Andai saja dia seorang manusia, pasti jantungnya saat ini berdebar kencang.


"Kok dia bisa tahu, kalau aku sedang memperhatikannya?" pikir Laksmi. Satya tak sadar, jika ada sebuah cermin memantulkan bayangannya.


"Terus kenapa tubuhnya begitu sempurna? Seakan belum pernah dijamah wanita sama sekali."


Laksmi tadi melihat dengan jelas punggung dan bahu Satya, yang polos tanpa sehelai kain pun. Bagi para makhluk halus, tubuh seorang p*raw*n atau p*rj*ka itu berbeda, dengan manusia yang telah melakukan hubungan di luar pernikahan. Manusia yang masih suci akan terlihat sangat menarik dan sempurna, dibandingkan manusia yang telah melakukan dosa.

__ADS_1


Setelah Satya selesai mandi dan pergi ke masjid, Laksmi sibuk berkemas. Hanya dalam beberapa detik, semua barang di kopernya telah pindah ke dalam lemari. Dia pun telah mengganti baju pengantinnya dengan baju tidur.


Wanita itu mematut dirinya di depan cermin. Tak ada bayangan wanita cantik nan lugu di sana. Cermin berukuran setengah badan itu melukiskan sosok baju putih yang berlumuran darah.


Bibirnya menyeringai lebar, menunjukkan barisan gigi yang runcing dan tajam. Wajah pucat tanpa mata, dengan rambut kusut dan panjang.


Sring! Lehernya berputar seratus delapan puluh derajat sambil melayang pergi.


...***...


"Udah tidur, Dek?"


Satya yang baru saja pulang dari masjid, mengusap punggung sang istri yang tengah berbaring di kasur.


"Belum. Mas udah pulang rupanya?"


Laksmi membalikkan badannya. Posisi tubuhnya kini telentang. Netra Satya fokus pada deretan kancing di bagian depan baju. Warna kainnya yang putih, membuatnya sedikit menerawang. Hormon oksitosinnya meningkat dengan tajam.


Satya membungkukkan badannya, dan mengecup kening Laksmi yang sedingin es dengan lembut, lalu turun ke pipi. Sementara tangan kanannya bergerak perlahan, hendak menyentuh deretan kancing di baju tidur Laksmi tersebut.


"Jangan malam ini, Mas. Aku ... Lagi halangan," bisik Laksmi.


"O-oh, ya. Nggak apa-apa, sayang," ujar Satya memamerkan senyumnya yang hangat. "Duh, nggak pengertian banget sih aku ini. Padahal Laksmi kan udah kecapekan hari ini. Aku malah mikirin hal lain," pikirnya menyesal.


"Nggaklah. Kesehatan kamu lebih penting. Lagian Mas juga capek, kok. Kita tidur aja malam ini," ajak Satya.


Tap! Lampu kamar pun padam.


Dua puluh menit berlalu, Satya telah berada dalam gelombang tetha yang menenangkan. Dia benar-benar terlelap.


"Hihihihihi ..."


Wanita berambut panjang yang berada di sebelah Satya bangkit dari tidurnya. Tidak, sebenarnya dia hanya pura-pura tidur, menunggu sampai sang suami tertidur.


Baju tidur putihnya, berubah menjadi gaun panjang penuh bercak darah. Ujung helaian rambutnya, menyapu wajah Satya yang tertidur nyenyak.


"Kenapa pria ini sulit sekali ku sentuh? Auranya sangat tajam dan kuat, terutama setelah dia pulang dari masjid. Untung saja aku membuat alasan datang bulan."


Makhluk itu melayang di atas Satya. Ia menyeringai lebar penuh kemarahan. Wajahnya tak lagi pucat, melainkan hancur tak berbentuk dipenuhi belatung yang berjatuhan ke atas seprai. Rambut panjangnya kini mengambang bebas di udara.


"Apa jangan-jangan dia sudah bertaubat atas perbuatannya dulu? Tapi tetap saja aneh. Seseorang yang telah pernah melakukan dosa besar lalu betaubat, tidak ada yang sebersih ini tubuhnya."


...***...

__ADS_1


Tes! Tes!


"Apa ini? Kok basah. Mana baunya anyir lagi?"


Tari yang hendak mengambil minum di dapur terkena tetesan air yang entah dari mana. Kepalanya mendongak ke atas. Tak ada sesuatu di atas sana. Tak ada pula hujan di luar. Tapi punggungnya benar-benar basah dan mengeluarkan bau tak sedap.


Tari benar-benar heran. Kendati demikian, dia tak bisa berpikir lebih lama. Rasa kantuk yang teramat berat, membuatnya harus cepat mengambil minum dan kembali ke kamar.


Sementara itu Satya di kamar merasa kebingungan. Ekor matanya melirik jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar. Waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi dia tak mendapati sang istri di sebelahnya.


"Nggak mungkin Laksmi jam segini sudah bangun, kan?"


Satya mencarinya di kamar mandi dalam ruangan itu. Dia tidak mendapati Laksmi di sana. Saat dia memeriksa ruang tengah, telinganya menangkap sebuah suara di dapur.


"Loh, Tari? Kamu ngapain di dapur jam segini?" tanya Satya melihat adik bungsunya duduk di meja makan.


"Haus, Mas," jawab Tari. "Mas sendiri ngapain?"


"Emm, kamu lihat Mbak-mu nggak? Dia nggak ada di kamar," ucap Satya.


"Mas mencariku? Maaf, aku tadi ke kamar mandi." Seorang wanita keluar dari kamar mandi di dekat dapur.


Tari melongo melihatnya, "Loh, kapan Mbak Laksmi masuk kamar mandi? Kan tadi waktu aku ke dapur nggak ada siapa-siapa di kamar mandi," pikir Tari bingung.


"Kamu ngapain pakai kamar mandi sini, Dek? Di dalam kamar kita 'kan ada kamar mandi juga," ucap Satya.


"Aku lupa, Mas. Kebiasaan di rumah Bapak," ujarnya sambil menyengir malu.


"Ya sudah, kalau gitu kita balik kamar lagi. Tari, kamu juga tidur lagi sana. Masih jam dua malam, lho," ujarnya.


"Iya, Mas," jawab Tari dengan patuh.


Laksmi telah lebih dulu berjalan menuju ke kamar. Sementara Satya dan Tari berjalan beriringan ke arah yang berbeda.


"Tari, tunggu! Punggungmu kok berdarah?" Dia baru memperhatikan bagian punggung adiknya yang bercak kemerahan.


"Hah? Berdarah?" Tari pun turut kebingungan.


Dia berusaha melihat ke punggungnya. Tentu saja nggak berhasil. Tetapi tangannya bisa menjangkau tetesan darah di baju tidurnya tersebut.


"Jadi yang netes-netes di punggung tadi darah? Pantesan baunya anyir. Tapi darah dari mana?" imbuh remaja itu sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Sayangnya dia tak menemukan apa pun yang mencurigakan di atas sana.


"Aneh, kenapa aku merasa de javu, ya? Waktu itu punggungku juga tiba-tiba kena tetesan darah, kan?" gumam Satya.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2