
Aksa tiba-tiba terbangun. Ada suara yang mengganggu tidurnya. Suara tangisan yang menyayat hati.
"Siapa yang menangis tengah malam begini?" tanyanya pada diri sendiri. Dia sedikit menyesal, karena siang tadi membiarkan Rani pulang ke rumah orang tuanya. Sehingga dia harus sendirian di rumah.
Suara tangisan itu terdengar lagi. Cukup jauh. Namun suaranya terdengar jelas. Karena sudah mengalami beberapa kali kejadian aneh, dia pun mengabaikannya dan berusaha tidur. Aksa tak mau lagi terjebak oleh permainan makhluk itu.
Gedubrak!
Baru saja dia bertekad untuk tak menghiraukan suara dari luar, Aksa justru mendengar suara dobrakan dari pintu depan. Aksa menjadi curiga, jika itu semua adalah ulah pencuri.
Rasa penasaran yang cukup kuat, membawanya keluar rumah. Aksa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada siapapun.
Suara tangis itu semakin terdengar samar, diikuti gemerisik dedaunan pohon sawo di samping halaman rumahnya. Aksa mencoba acuh. Dia berpendapat bahwa itu adalah suara musang yang menyerupai tangisan wanita. Maklum saat itu memang musim buah sawo.
Saat hendak masuk kembali, Aksa dikejutkan dengan adanya tetesan darah segar berbau anyir dari garasi rumahnya. Semakin penasaran, dia pun mendekat ke garasi. Rasa takut mulai menyergap. Tangannya gemetar ketika hendak membuka pintu garasi.
Suara tangisan itu kembali terdengar samar. Namun, aroma tak sedap semakin pekat. Ceplak! Kakinya yang tanpa alas memijak cairan yang kental. Aksa menoleh kebawah.
"Darah?" pekiknya terkejut. Bukan lagi tetesan darah, melainkan genangan darah berbau amis.
"Iya itu darahku. Hihihi..." Suara tangisan tadi, berubah menjadi tawa yang melengking.
Tubuh Aksa terhuyung. Makhluk berbaju putih kusam itu telah melayang di depan garasinya. Bibirnya menyeringai lebar, dan kepalanya teleng ke kiri dan ke kanan secara kaku.
Reflek kaki ini bergetar hebat. Tentu saja bukan hal yang mudah berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal. Itu bukan arwahnya. Melainkan Jin Qorin yang menyerupainya. Tetapi Aksa tak mau lagi kalah dengan makhluk itu.
"Ki-kinanti. Apa y-yang kau inginkan? Ke-kenapa kau datang?" tanya Aksa dengan terbata-bata.
Usaha Aksa berhasil. Makhluk itu mendekatinya. Meski wajahnya masih tampak hancur tak berbentuk, namun aroma tak sedap itu sudah tidak ada lagi.
"Tubuhku. Di mana kalian buang tubuhku?" ucap makhluk itu dengan tangisan yang melengking.
"A-aku nggak tahu."
__ADS_1
"Apa kau bilang?" Tangan dengan kuku panjang dan tajam itu terulur ke arah leher Aksa. Matanya yang hitam tampak membesar.
"Maaf. Aku memang pernah melakukan kesalahan padamu. Tapi apakah kau tak ingat? Dulu kita berteman baik, bahkan aku pernah menyukaimu," ungkap Aksa.
"Benarkah?" Kinanti menarik kembali tangannya. Dia urung mencekik pria itu.
"Iya. Tapi kamu menolakku, karena ingin fokus sekolah. Setelah itu kita pun berjanji untuk menjadi siswa di sekolah," kata Aksa lagi.
Raut wajah Kinanti menunjukkan ekspresi sedih. "Benarkah yang kamu bilang itu?" tanyanya. Wujudnya kini serupa, dengan Kinanti yang dilihat Aksa dua puluh tahun lalu. Masih dengan seragam SMA-nya yang menggemaskan, dengan wajah yang ayu.
Aksa mengangguk. Tanpa disadarinya, air matanya mengalir di pipi. "Ah, memalukan. Lelaki itu nggak pernah menangis gara-gara perempuan," gumamnya sambil mengucek matanya yang basah.
"Aksa, kalau kita berteman baik, lalu kenapa kamu membunuhku?"
Pertanyaan yang dilayangkan Kinanti, membuat Aksa tercekat. Dia tidak mampu menjawabnya. "Maafkan aku, Kinanti. Aku khilaf. Kamu mau memaafkanku, kan?" ucap Aksa dengan suara rendah.
"Tentu saja... Tidak. Hihihihi... Kamu harus menemukan jasadku. Aku tidak mau mempercayaimu seperti dulu lagi. Bawa aku pulang, Aksa. Hihihihi..."
Makhluk di depan Aksa itu terkikik dengan rupa yang membuat bulu kuduk bergidik. Kepalanya miring. Hampir berpisah dengan tubuhnya. Seragam sekolahnya dipenuhi serangga, lalu merah bersimbah darah.
"Kenapa dia terus menghantuiku? Apa dia benar-benar ingin membalas perbuatanku dulu?" Ingatan Aksa pun melayang kembali ke dua dekade lalu, saat dia berada di akhir semester kelas dua SMA.
...***...
"Lihat tuh, Aksa dan Kinanti. Mereka serasi banget, ya. Sama-sama pintar, sama-sama ramah pula."
"Iya. Satunya cantik, yang satunya lagi ganteng. Kalau jadian pasti cantik banget."
"Hush, jangan ngomong gitu. Aku dengar Aksa baru aja ditolak Kinan. Dia pasti kesal kalo kita jodoh-jodohin lagi. Mending untukku aja."
"Dih, sembarangan. Mana mau Aksa sama keset rumah kayak kamu. Tapi masa Aksa ditolak, sih? Cakep gitu?"
"Katanya sih gitu. Ada yang bilang, Aksa nembak Kinanti pakai novel. Hahaha, kuno banget, ya? Pantesan aja ditolak sama Kinan."
__ADS_1
"Masa cuma gara-gara itu si Aksa ditolak, sih? Dia mau cari cowok kayak apa lagi? Aksa kan cowok paling sempurna di sekolah kita."
"Tauk, tuh. Sombong banget ya si Kinanti? Miskin aja belagu. Padahal kalau boleh bawa makeup di sekolah, pasti lebih cantikan aku daripada dia."
"Udah sih, biarin aja. Kalau Aksa gak pacaran, berarti kan masih ada kesempatanku untuk mengejarnya."
"Heh, jangan mimpi. Aku kan juga mau jadi pacar Aksa."
"Ngapain kalian berebut jadi pacar cowok culun itu? Menaklukkan Kinanti yang miskin aja dia gak bisa."
"Ck, cewek-cewek rumpi itu berisik banget, sih? Dari mana mereka tahu aku habis ditolak Kinanti? Memalukan."
Aksa yang baru saja berpisah dari Kinanti, kini kembali mencari dara manis itu. Dadanya bergemuruh, hendak menumpahkan semua kekesalannya. Ketika berbelok di taman antara kelas IPA dan IPS, dia pun melihat Kinanti sedang bercengkerama bersama teman-temannya.
"Kinan, ikut aku. Ada yang mau aku tanyain," pinta Aksa dengan wajah beringas.
"Hah? Apa lagi? Bukannya semua persiapan untuk lomba cerdas cermat udah selesai semua?" Kinanti membuntuti Aksa ke belakang sekolah.
"Kamu yang bilang kalau habis menolakku? Iya, kan?" tuduh lelaki itu.
"Hah? Nggak ada. Malah aku nggak cerita sama siapa pun, kalau abis ditembak kamu," bantah Kinanti.
"Jangan bohong, kamu. Terus dari mana semua orang tahu, kalau kamu habis menolakku?" desak Aksa.
"Ya mungkin aja waktu itu ada yang nguping pembicaraan kita. Yang jelas aku nggak ada ngomong sama siapa pun, Aksa. Itu privasi kita."
"Huh! Aku nggak percaya. Jangan-jangan kamu sengaja menolakku untuk jadi bahan bercandaan sama teman-temanmu, kan?" tuduh Aksa lagi.
"Astaghfirullah. Aku nggak kayak gitu. Terserah kalau kamu nggak percaya, tetapi berita itu nggak keluar dari mulut aku," tegas Kinanti.
Aksa berbalik badan dan meninggalkan Kinanti tanpa sepatah kata pun. Bahunya terlihat naik turun, tanda emosinya belum mereda. Langkah kakinya begitu tegas menghentak bumi.
"Lihat aja nanti, aku akan membalas perbuatanmu, Kinan. Aku nggak akan membiarkan siapa pun yang mempermalukanku. Kamu pasti akan menyesal seumur hidupmu."
__ADS_1
(Bersambung)