
"Kikikikikik..." Nada menatap Rani dengan matanya yang cokelat, lalu tertawa mengerikan.
"Maass!" teriak Rani. Dia reflek melompat ke atas tempat tidur. Baru kali ini dia takut melihat anaknya sendiri.
"Astaghfirullah, Rani. Ada apa?" tanya Aksa yang masih setengah sadar, berlari dari kamar sebelah.
"Nada, Mas. Tadi Nada ketawanya aneh. Jangan-jangan dia kesurupan pas di hutan," bisik Rani sambil bergidik ngeri.
"Nada?" Aksa menoleh ke bawah. Dia mendapati putrinya sedang asyik menggambar. "Kamu ngapain, Nak? Kok belum tidur? Ini masih tengah malam, lho."
"Papa, ayo gambar. Hehehe," ucap Nada, tertawa polos seperti biasanya. Tidak terdengar suara tawa aneh, seperti yang dibilang Rani tadi.
"Kamu menggambar apa? Lanjutkan besok aja, ya," kata Aksa sambil mengusap kepala putri kecilnya. Dia membaca ayat-ayat Alquran untuk merukyah anaknya.
"Nggak ngantuk. Tidurnya besok aja. Nada lagi gambar kakak cantik yang berdiri di belakang mama," jawab Nada lalu kembali mewarnai gambarnya. Dia sama sekali tidak berpengaruh pada doa yang diucapkan Aksa tadi.
"Hah?"
Rani dan Aksa terperanjat mendengar ucapan Nada. Bulu kuduk mereka pun merinding. Aksa lalu memandang ke belakang Rani. Tidak ada apa-apa di sana, selain lemari dan jendela.
"Nggak ada kakak cantik di belakang Mama. Pasti kamu salah lihat. Kamu tidur aja, ya," bujuk Aksa lagi.
"Ada, Pa. Kakak rambutnya panjang, pakai gaun merah. Berdiri di belakang Mama. Hehe..."
"Astaga!"
Aksa mengusap tengkuknya yang meremang. Dia kembali teringat pada Najla siang tadi, yang ketakutan melihat adiknya. Lelaki. "Apa mungkin yang dilihat Najla siang tadi juga makhluk itu?" pikirnya.
"Mas, gimana ini?" tanya Rani dengan tubuh bergetar.
"Bawa sholat dan mengaji saja. Besok pagi kita cari ustadz, untuk merukyah Nada," usul Aksa. Rani pun mengangguk.
...***...
Srrrr!
Angin berembus pelan melalui jendela kamar. Kain gorden bergerak perlahan. Sekilas, Satya melihat sehelai kain putih melayang di atas kepalanya. Seketika udara menjadi sangat dingin. Entah karena hembusan udara subuh ini, atau karena hal lain.
"Dek? Kamu ada di sini, kan?"
Satya menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, untuk menemukan istri gaibnya itu. Sepanjang malam dia tidak melihat wanita itu. Entah ke mana perginya.
__ADS_1
"Dek?" ucap Satya lagi.
Samar-samar, Satya mencium aroma bunga. Hatinya masih ciut jika melihat wujud asli makhluk itu. Tetapi Satya percaya, mereka sama-sama makhluk Allah, jadi tak ada yang harus ditakuti.
"Mas..."
Gumaman bersuara alto itu membuat tubuh Satya merinding. Dia lalu menengadahkan kepalanya, untuk melihat helaian kain itu.
"Uh!" Mata Satya langsung terpejam, saat melihat sepasang kaki pucat berlumuran darah.
"Kamu takut denganku, Mas?" ucap sosok itu lagi.
"Ng-nggak, kok. Cuma agak kaget aja," kata Satya. Perlahan dia kembali membuka kelopak matanya. Ah, ternyata wujud makhluk itu masih sama. Penuh luka dan darah segar.
"Kenapa wujudmu seperti ini? Kamu dari mana?" Satya merasa gila, karena berbicara dengan makhluk gaib ini.
"Aku nggak bisa menampakkan diriku di depan bapak ibu, Mas. Aku... Kehabisan energi," ujar perempuan berwajah pucat itu. Matanya yang hitam legam tak bisa ditebak, dia sedang memandang ke arah mana.
"Ya sudah. Nanti Mas cari alasan, biar kamu nggak perlu menemui bapak dan ibu," ujar Satya dengan lembut. "Tapi Laksmi, aku punya pertanyaan," ucap Satya mendadak.
Sosok itu mengangkat kepalanya, membuat Satya semakin ciut. "Soal apa?" tanya makhluk dengan suara paraunya.
"Apa Mas Aksa juga bagian dari mereka?" tanya Satya.
"Ah..." Satya bergidik ngeri. Tak terbayangkan olehnya, bagaimana dulu Kinanti disakiti dan dilukai oleh para pelaku hingga kehilangan nyawanya.
"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya sosok itu lagi.
"Aku hanya penasaran," jawab Satya sambil mengingat kecelakaan aneh yang menimpa Kepala Desa Muda itu.
Kuntilanak itu melayang mendekati Satya, lalu mengulurkan tangannya. "Mau ngapain kamu?" ujarnya dengan ekspresi marah.
"Aku nggak akan mencampuri urusanmu. Cuma ingin tahu aja siapa yang telah menjahatimu," kata Satya dengan hati-hati. "Tapi, kamu nggak akan membunuh mereka semua, kan?" imbuhnya.
"Bangsa kami tak bisa membunuh. Jika mereka terluka dan kehilangan nyawa, itu sudah takdir mereka. Kami hanya mampu mengganggu dan menyesatkan mereka," jawab Laksmi.
Tok! Tok! Tok!
"Satya, kamu udah pulang dari masjid? Kok kamarmu bau kembang?" Bu Kesha mengetuk pintu kamar putra sulungnya. Mendengar suara itu, Laksmi melayang pergi dengan cepat.
"Iya, Bu. Aku udah pulang. Tadi aku pakai parfum makanya bau kembang."
__ADS_1
Duh, Satya terpaksa membohongi ibunya, demi keamanan mereka berdua. Tapi sampai kapan begini terus?
"Dek, apa Mas boleh jujur tentang keadaanmu? Mas nggak tega membohongi orang tua kita terus," bisik Satya meski Laksmi tak terlihat lagi wujudnya.
Seuntai rambut panjang terlihat di sisi kanan Satya, diikuti dengan helaian kain putih dengan bercak merah. Satya terkejut karena sosok itu menghilang dan muncul tiba-tiba dengan wujud yang mengerikan.
"Lakukanlah," ujar sosok itu.
...***...
"Mas, jadi ustadz mana yang mau membantu kita?" tanya Rani ketika sudah pagi. Dia sudah tak sabar untuk segera mengusir makhluk mengerikan itu dari sekitar mereka.
"Nanti dia datang ke sini bersama Ujang. Semoga Nada nggak kenapa-kenapa," kata Aksa.
Tangannya sibuk membuka perban yang melilit di kakinya. Sesekali dia meringis kesakitan, karena luka jahitannya yang belum kering. Seharusnya pasca operasi dia masih harus istirahat di rumah, bukan keluyuran begini.
"Anak-anak mana? Mereka di dalam rumah, kan?" tanya Aksa celingukan mencari kedua buah hatinya. Dia takut kejadian kemarin terulang lagi.
"Mereka lagi di kamar, Mas. Baru siap mandi," jawab Rani.
"Mama... Aku takut. Nada serem." Tiba-tiba Najla berlari keluar kamar, masih menggunakan handuk.
"Iya, nanti kita panggil ustadz untuk merukyah Nada. Setelah itu kita pulang ke rumah," kata Rani sambil mengemas barang-barangnya ke dalam koper.
"Pulang? Terus sekolahku gimana? Aku baru dapat teman, Ma," protes Najla. Matanya berair hendak menangis.
"Ya besok kamu sekolah di sana. Di sekolah yang lebih bagus dan teman-teman baru," jawab Rani ketus.
"Tapi, Ma. Aku udah betah dengan teman-teman di sini," kata Najla.
"Kamu itu baru dua hari di sini. Masih belum terlambat untuk cari teman baru. Udahlah, nggak usah banyak protes," balas Rani dengan suara agak tinggi. "Ayo cepat ganti bajunya!" perintah Rani.
"Tapi aku takut sama Nada, Ma. Dia makan cicak sama kecoak!"
Prang!
Rani menjatuhkan botol parfum yang dipegangnya, "Kenapa baru bilang sekarang?" Perempuan itu lalu berlari menuju ke kamar putrinya.
"Mama, lihat!" Nada dengan bangganya menunjukkan dua buah kecoak di tangannya, sambil tersenyum lebar.
"Maaassss!" jerit Rani hingga terdengar ke seluruh bagian rumah.
__ADS_1
(Bersambung)