Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 70. Bukan Manusia


__ADS_3

"Ke mana aja sih, Jang? Ini udah jam delapan! Kamu mau lihat anakku kejang-kejang dulu baru bergerak cepat?" Rani membentak pria bertubuh kurus yang baru saja datang itu.


"Maaf, Bu. Kami harus lewat jalan memutar. Karena jalan yang biasa macet panjang, ada perbaikan jalan," kata Ujang sambil mengusap dada. Dia sudah biasa dimarahi oleh majikannya seperti itu.


"Ck! Alasan aja! Ya sudah, jadi bawa ustadz, nggak?" ucap Rani dengan ketus.


"Jadi, Bu. Ini ustadznya," kata Ujang sambil menunjuk ke seorang pria yang tampak sepuh.


"Saya Pak Soleh, Bu. Siapa yang mau di rukyah?" kata lelaki itu.


"Anak bungsu saya, Pak. Sejak kemarin tingkahnya aneh," kata Rani sambil mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.


"Oh, baiklah. Mana anaknya, Bu? Namanya siapa?" tanya Pak Soleh setelah mengucap salam.


Lelaki itu melihat seorang gadis cilik yang bersembunyi di balik sofa, sambil memegang boneka kelinci. Wajahnya tampak ketakutan.


"Ini anaknya, Pak. Namanya Nada Sakuntala," ujar Aksa yang muncul dari pintu kamar. "Ayo keluar, Nak. Salam sama Pak Ustadz," kata Aksa dengan lembut.


Sesaat kemudian, muncul seorang gadis cilik bergaun merah. Rambut panjangnya dikepang dua, dengan pita yang senada dengan warna bajunya.


"Astgahfirullah!" seru Pak Soleh.


"Kenapa, Pak?" tanya Rani dan Aksa bersamaan.


"Dia bukan anak kalian!" kata Pak Soleh sambil menatap tajam ke arah Nada. Ucapan Pak Soleh sama persis dengan ucapan nenek tadi pagi.


"Apa maksudnya bukan anak kami?" tanya Aksa panik. Dia melirik sekilas ke arah Nada, yang tersenyum polos seperti biasanya.


"Dia bukan manusia! Makhluk itu hanya menyerupai anak kalian!" jelas Pak Soleh.


"Ugh! Aku nggak salah lihat, kan? Makhluk itu sekilas mirip dengan foto perempuan yang ditunjukkan Satya minggu lalu. Tapi keduanya tak sama persis. Apa ini sosok istri Satya yang sudah meninggal itu?" pikir Pak Soleh dalam hati.


Aksa dan Rani merinding mendengar ucapan ustadz tersebut, "Pak! Saya ibunya! Saya tahu kalau dia ya anak saya. Jangan mengarang cerita," bantah Rani.


"Dek, udahlah jangan membantah. Sudah dua orang yang berbicara seperti itu," kata Aksa menegur sikap istrinya. "Kalau memang benar dia bukan Nada, terus di mana anak kami?" tanya Aksa pada Pak Soleh.


"Anak kalian kemarin pergi ke mana saja? Sejak kapan dia terlihat aneh? Kita harus mencarinya lagi di tempat yang dia kunjungi," kata Pak Soleh beberapa saat kemudian.


"Kemarin anak kami hilang di hutan depan dan...".


"Cepat cari anak kalian di dalam hutan sekarang juga. Panggil Tim SAR dan polisi," pinta Pak Soleh, sampai memotong ucapan Aksa.

__ADS_1


"Kemarin kami sudah meminta bantuan Tim SAR juga. Dan mereka menemukan Nada. Sudah semalaman Nada bersama kami. Dia bisa disentuh dan mendengarkan ayat Alquran. Nggak mungkin dia bukan anak kami," ujar Rani bersikukuh.


"Rani! Sudahlah! Kamu mau anak kita kembali normal, kan? Ikuti saja perintah Pak Ustadz." Aksa membentak istrinya yang keras kepala.


"Astaghfirullah! Ya Allah!"


Mendadak terdengar suara teriakan dari depan rumah. Aksa, Rani, Pak Soleh serta Ujang segera berhamburan ke luar rumah. Ternyata di sana telah ramai. Najla pun ikut berlari keluar bersama boneka kelincinya.


"Pak! Bapak yang sabar, ya," ucap salah seorang tetangga yang kemarin turut membantu pencarian Nada.


"Sabar kenapa?" Perasaan Aksa mulai tak enak.


"Anak Bapak... dia ditemukan di bawah pohon besar," kata lelaki itu lagi.


"Anak saya udah ketemu? Di mana?"


Rani tersenyum senang. Sementara Aksa diam membeku di tempatnya. Raut wajah orang-orang itu tak menunjukkan ekspresi bahagia. Tak lama kemudian seorang pemuda berseragam kuning menggendong bocah cilik dengan gaun pink yang bermandikan lumpur.


"Tadi salah seorang warga menemukannya terapung di dalam rawa bawah pohon besar," jelas orang-orang di sana.


"Nada!" Aksa menerima putri bungsunya yang telah membiru. Seluruh tubuhnya kaku dan dingin. Kelopak matanya tertutup rapat. Gadis cilik itu tak bisa berceloteh riang lagi seperti dulu.


"Nada! Anakku! Ayo bangun, Nak. Kita pulang ke rumah hari ini!" jerit Rani sambil menggenggam tangan mungil yang sudah bengkak dan membiru itu. Pasti dia sudah semalaman tenggelam di dalam air.


"Innalillahi wa innailaihinrojiun," ucap Pak Soleh yang telah menitikkan air mata.


"Nggak! Anakku belum mati! Ini pasti salah! Dia bukan anakku! Nada ada di dalam rumah!"


Rani berteriak histeris sambil berlari memasuki rumah. Dia melihat Nada masih berdiri di depan pintu seperti tadi. Tapi raut wajah bocah itu tampak mengerikan. Nada tersenyum lebar dengan barisan gigi yang runcing dan berdarah. Bola matanya hitam legam, juga mengucurman air mata darah.


"Ka-kamu siapa? Di mana Nada?" jerit Rani.


"Gimana rasanya kehilangan anakmu? Hihihihi..."


Perlahan wujud gadis cilik itu berubah menjadi kepulan asap putih. Setelah itu muncul sosok makhluk berseragam SMA, dengan wajah berlumuran darah dan barisan gigi yang runcing. Baju putih abu-abunya berlumur lumpur dan darah.


"K-ki... Ki... Kinanti. Berani-beraninya kamu mengambil anakku!"


Rani membeku di tempatnya berdiri. Dadanya sesak dan bergemuruh. Teman SMA-nya terlihat mengerikan dengan leher hampir putus dan mengeluarkan banyak darah. Seragam SMA yang dipakainya telah berubah warna menjadi merah.


"Hihihihi... Itu balasan untukmu, telah mengambil nyawaku!"

__ADS_1


"Aku tak pernah melakukan itu! Kenapa kau mengambil anakku? Kenapa?" Rani semakin histeris.


"Tunggu saja, Rani. Giliranmu akan segera datang. Hihihihi..."


"Astaghfirullah, Bu. Biar saya urus makhluk ini," ujar Pak Soleh menerobos masuk ke dalam rumah bersama Ujang.


Tak lama kemudian muncul seorang perempuan menarik tangan Rani untuk keluar rumah. Dia adalah teman Rani pemilik rumah ini.


...***...


Dua puluh tahun yang lalu.


"Aruna, kamu membuat tabungan di koperasi, ya?" tanya Rani saat jam istirahat pertama.


"Iya. Memangnya apa urusanmu?" jawab Aruna ketus. Dia tak terlalu dekat dengan Rani, karena perempuan itu merupakan sahabat karibnya Kinanti yang sangat dibencinya.


"Kamu nggak perlu menabung lagi. Aku akan memberikan ini gratis untukmu," bisik Rani sambil memberikan sebuah kotak berisi benda elektronik.


"HP? Terus kamu mau menjualku ke mana? Vietnam? Taiwan? Atau hongkong?" Aruna tak mau mengambil benda itu.


"Heh, aku bukan mau menjualmu. Tapi ini kuberikan gratis, asal kamu mau membawa Aruna ke Danau Cemani," pinta Rani.


"Dia ulang tahun? Kamu urus aja sendiri. Aku tuh nggak berteman sama dia." Aruna masih belum paham maksud dari Rani.


"Ck! Ternyata kamu tuh lebih bego daripada aku, ya?" Rani berdecak kesal. "Kamu harus bawa dia ke bagian utara danau. Terus..." Rani pun membisikkan rencananya.


"Hah?" Aruna terkejut saat Rani menyuruhnya mendorong Kinanti ke dalam danau. Danau bagian utara kan sangat dalam dan berbatu-batu tajam? Bukan tempat yang biasa dikunjungi, bahkan sangat dihindari. "Bukannya kamu sahabat Kinanti?" tanya Aruna curiga.


"Iya, sebelum dia berkhianat pada Aksa. Katanya Aksa ditolak. Padahal mereka udah jadian dan melakukan 'itu'. Kinanti juga udah pernah melakukannya pada Arga," bisik Rani.


"Astaga! Itulah makanya aku nggak suka sama dia dari dulu. Keganjenan! Sok cantik!" umpat Aruna. Diam-diam dia menyukai Arga dan Rani mengetahuinya.


"Gimana? Deal?" Rani kembali menyodorkan HP itu pada Aruna.


"Tapi gimana kalau nanti ketahuan? Aku bisa dipenjara," tanya Aruna.


"Tenang aja. Kamu nggak akan sendirian. Nanti bakal ada anak-anak cowok yang menikmati tubuhnya, sebelum kita membuangnya. Mereka pasti tak mau bertanggung jawab jika nanti Kinanti hamil."


Rani berbisik sambil tersenyum penuh arti, pada Arga dan Genta yang duduk di bawah pohon, sekitar lima puluh meter dari mereka. Genta dan Arga pun membalasnya.


"Genta, Arga, pastikan nyawanya hilang, sebelum kalian membuangnya nanti. Kalau tidak, kalian sendiri yang tanggung akibatnya di penjara," batin Rani, sambil tersenyum licik.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2