
"Nduk, makannya yang banyak, jangan malu-malu. Sayurnya juga ditambah," tegur Bu Kesha pada menantunya. -Genduk: Sebutan untuk anak perempuan.
"Nggeh, Bu." Laksmi hanya memandang mangkok putih berisi sayur bening daun kelor itu dengan nanar. Namun dia tak juga menyentuh makanan itu.
"Kenapa, Nduk? Kamu nggak suka sayur kelor?"
Laksmi hanya tersenyum tipis sambil meminta maaf. Dia tak berani mengambil resiko besar, karena mengkonsumsi sayuran yang bisa saja menghancurkan tubuhnya.
Mitosnya, daun kelor bisa menjadi penangkal makhluk halus, layaknya daun bidara. Meski hingga kini belum pernah terbukti, Laksmi tetap menghindarinya.
"Ndak apa-apa, Nduk. Kalau nggak suka jangan dipaksa. Besok kita bikin sayur lain aja," balas Bu Kesha dengan ramah.
"Hm, ikan gorengnya enak, Bu. Resep baru, ya," celetuk Ndaru memuji masakan ibundanya.
"Itu yang masak Mbak-mu," jawab Bu Kesha.
Satya yang sedang mengunyah sarapannya melirik ke arah Laksmi sambil tersenyum. Dia bersyukur karena memilih istri yang tepat.
"Tari harus belajar masak sama Mbak Laksmi, nih. Biar jago masak juga," ucap Ndaru lagi.
"Huuu ... Aku lagi, aku lagi. Gini-gini aku juga jago masak lho, Mas. Cuma Mas Ndaru aja yang gengsi mengakuinya," balas Tari pura-pura ngambek.
"Dah, ojo ribut. Abisin sarapannya," ucap Pak Darya yang hampir menyelesaikan sarapannya.
"Huh, kenapa keluarga ini hangat banget, sih? Nggak asik. Kalau nggak ada yang memiliki sifat jahat di sini, aku bisa mati kelaparan. Nggak ada energi yang bisa aku serap. Semaleman aku juga nggak bisa menyentuh Satya," batin Laksmi.
"Dek, nanti ikut Mas ke kantor desa, ya. Kita mau urus KK baru," ajak Satya memecah lamunan Laksmi.
"O-oh, iya," ucapnya, lalu melanjutkan makan.
"Nggak ada yang aneh dari Mbak Laksmi. Wajahnya biasa aja, cuma agak pucat. Sikapnya juga normal. Tapi kenapa tadi malam aku merasa ada sesuatu yang aneh, ya?" pikir Tari.
"Kenapa, Tari?" Mbak Laksmi tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap sang adik ipar lekat-lekat.
Trang! Tari menjatuhkan sendoknya karena terkejut. "Ndak apa-apa. Aku cuma nggak nyangka aku sekarang punya kakak perempuan," jawab Tari asal.
"Kenapa Mbak Laksmi selalu tahu, kalau aku sedang memperhatikannya?" imbuhnya dalam hati, sambil menundukkan badan untuk mengambil sendok.
"Astaghfirullah!" Ketika tanpa sengaja melihat ke bawah meja, Tari terkejut. Dia melihat sepasang kaki pucat dan agak membiru dari balik daster bunga-bunga yang dikenakan oleh Laksmi.
...***...
__ADS_1
"Cieee ... Pengantin baru. Sumringah banget wajahnya. Masih libur toh, Sat?" seorang pria dengan seragam cokelat muda datang menyapa Satya.
"Makasih, Mas. Eh, Pak Kades. Iya, aku masih libur tiga hari lagi, Pak" jawab Satya sambil menyalami orang nomor satu di desanya itu.
"Heleh, panggil 'Mas' aja. Gak usah Pak Kades segala," ujar pria itu lagi. "Enak banget ya, bisa dapat libur. Saya jadi pengen nikah lagi, biar dapat liburan juga. Pusing, tiap hari ngurusin masalah warga," imbuhnya sambil terkekeh.
Satya pun terkekeh mendengarnya. "Jangan dong, Mas. Itu sih dzalim sama perempuan namanya. Lagian Mas kan udah punya istri dan dua anak perempuan yang cantik-cantik."
"Canda, Satya. Lagian bisa dicopot jadi kades saya, kalau nikah lagi," balas pria yang umurnya udah melewati pertengahan kepala tiga itu "Terus ke sini mau ngurus surat-surat?" ujar Pak Kades.
"Iya. Mengurusnya sama siapa, ya? Berkasnya udah lengkap semua," tanya Satya.
"Biasa, sama Bu Salma di dalam. Tapi istrimu kok gak diajak sekalian? Kecapekan, ya?" tanya Pak Kades sambil mengedipkan matanya dengan jahil.
"Loh, ini istri saya, Mas."
Pak Kades bingung melihat Satya menunjuk ke arah ruang kosong di sebelah kirinya. Namun sesaat kemudian dia terkejut, ketika matanya bertatapan dengan seorang wanita di balik punggung Satya. Tubuh Pak Kades pun mendadak dingin, melihat wanita berwajah ayu dan pucat pasi, tetapi bibir mungilnya tersenyum.
Meski agak aneh, kepala desa itu terus memandangnya lekat-lekat. Perempuan itu menggunakan dress panjang berwarna gelap. Tubuhnya yang mungil dan ramping, mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama sekali tidak dilihatnya.
"Kalau gitu saya ke dalam dulu ya, Mas," kata Satya sambil memutar badannya menuju ke pintu.
"Tunggu aku nanti malam, Mas."
Suara samar itu membuat jantung Pak Kades berdegup kencang. Sudah jelas wanita itu yang berbicara. Bibirnya yang berwarna pink pucat bergerak sesuai artikulasi kata yang diucapkannya. Tapi kenapa dia bilang seperti itu?
"Dia bukan bicara denganku, kan?" pikir pria tampan itu bingung.
...***...
Auuuummmm ... Beberapa anjing liar mengaum bersamaan, di depan rumah paling mewah desa itu. Hewan karnivora itu lalu berlari menjauh seperti ketakutan.
"Ummhhh!"
Lelaki di dalam rumah mewah itu pun terbangun dari tidurnya karena mendengar auman binatang liar tersebut. Sekelilingnya tampak remang-remang. Bola matanya hampir melompat keluar, melihat sosok yang berdiri kaku di sisi lemari.
Temaram lampu kamarnya, tak menutupi wajah tampannya yang hampir sempurna. Untuk ukuran pria dengan dua anak, tubuhnya masih cukup atletis.
"Rani?" Dia menyebutkan sebuah nama.
Sosok wanita itu tak menoleh, tak juga menyahut. Rambut lurus dan panjang menutupi kanan kiri pipinya. Dress hitam sepanjang betis, menutupi tubuhnya yang sintal.
__ADS_1
"Rani? Ngapain di situ?" ucapnya lagi.
Sedetik kemudian pria itu mendadak dingin di sekujur tubuhnya. Dia baru sadar, bahwa sekarang masih hari rabu. Artinya dia sendirian di rumah ini. Istri dan anaknya tinggal di kota. Hanya sabtu dan minggu berada di desa.
Rasa takut pun mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Badannya membatu bagai patung. Dia lantas berusaha mengendalikan dirinya, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Berharap wanita itu hilang dan ini hanyalah mimpi.
Selang beberapa detik, lelaki bertubuh perkasa itu mengintip dari balik selimut. Sosok itu masih ada di sana. Tertunduk dengan rambut terurai.
"Si-siapa kamu?" ucapnya dengan suara parau.
Wanita itu menoleh perlahan. Parasnya cantik. Wajahnya juga tidak pucat, seperti yang dibayangkan Pak Kades sebelumnya.
"Mau aku temani? Istrimu lagi di kota, kan?" Wanita itu melangkah kian mendekat.
"Ja-jangan. Kita nggak kenal. Kamu siapa? Dari mana?" Pak Kades beringsut ke belakang, hingga punggungnya bersentuhan dengan dinding kamar.
"Ssstt! Jangan berisik. Nanti tetangga bisa dengar."
Tangan wanita misterius itu menarik selimut yang menutupi tubuh pria itu. Sentuhannya yang halus, membuat napas pimpinan desa itu mulai sesak. Saat kesadarannya kembali, lelaki itu menengadahkan kedua tangannya, untuk mengusir sang wanita.
"Nikmati saja," bisik sang wanita dengan lembut.
Entah berapa lama itu terjadi. Pria usia tiga puluh tujuh tahun itu terbuai dalam suasana. Beberapa lama kemudian, sang lelaki yang kelelahan mengubah posisinya menjadi miring. Lengan kirinya menumpu tubuh kekarnya. Punggungnya yang bebas dari helaian benang terekspos sempurna.
"Tunggu! Luka cakar di punggung itu sepertinya nggak asing." Wanita misterius itu menatap punggung sang pria lekat-lekat, memperhatikan luka sayatan panjang, bagai cakaran harimau atau semacamnya.
Beberapa jam kemudian, lamat-lamat terdengar suara adzan. Para penduduk desa mulai beraktivitas. Wanita itu lantas kembali menutup tubuh sang pria dengan selimut, lalu pergi tanpa sepatah kata.
Drrrttt! Drrtttt! Dering smartphone di atas nakas, memaksa lelaki itu membuka matanya. Rupanya itu adalah alarm jam lima. Dia memang selalu memasang alarm, karena senantiasa sendirian di rumah ini.
"Hah? Cuma mimpi rupanya." Hati Pak Kades sedikit lega, karena kejadian itu nggak nyata. Tapi hati kecilnya sedikit kecewa, entah apa sebabnya.
Pria itu lalu ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengambil wudhu. Namun dia menyadari sesuatu yang aneh.
"Lho, celanaku basah?" ucapnya bingung. Tentunya dia tak bisa langsung sholat subuh, sebelum mandi.
"Hah? Ini kan?" Dia semakin bingung dan terkejut, saat melihat sebuah dress hitam tergantung di dalam kamar mandi.
"Jadi ini semua mimpi atau nyata? Dan siapa wanita itu? Kenapa wajahnya tidak asing?"
(Bersambung)
__ADS_1