Istriku Kuntilanak

Istriku Kuntilanak
Bab 55. Istriku Kuntilanak


__ADS_3

Satya baru selesai sholat isya, ketika Laksmi mengganti bajunya dengan daster mini. Kulitnya yang putih pucat, sangat kontras dengan dasternya yang berwarna hitam pekat. Laksmi lalu menyisir rambut panjangnya, dan mengambil botol parfum dari rak makeup-nya.


"Mau aku bantu?"


Satya merebut botol bening beraroma melati itu dari tangan sang istri. Dia lalu mengusap minyak wangi itu ke bagian tengkuk Laksmi, seperti kebiasaan wanita itu sebelum tidur.


"Ukh!" Laksmi sedikit menghindar ketika Satya mengusapnya.


"Kenapa, sayang?" tanya Satya. Dia mendadak menghentikan gerakan tangannya.


"Nggak apa-apa. Parfumnya kebanyakan, Mas," ujar Laksmi.


Satya lantas menutup botol parfum tersebut. Manik matanya memandang tengkuk sang istri yang melepuh seperti terkena api. Ternyata diam-diam dia membaca ayat kursi, saat mengusap parfum tersebut ke tubuh sang istri.


"Aneh! Kali ini beneran bereaksi," pikir Satya cemas.


"Mas!"


"Astaghfirullah, Dek." Satya mengusap dadanya yang berdegup kencang karena terkejut. "Ada apa, sayang?" Suara lelaki itu langsung berubah menjadi lembut.


"Apa Mas nggak kesel sama aku?" tanya Laksmi.


"Kesel kenapa?" Satya balik bertanya. Kedua alisnya bertaut, tandanya dia benar-benar bingung.


"Karena aku menunda-nunda malam pertama kita. Memangnya Mas nggak curiga dan penasaran?" Laksmi memperjelas pertanyaannya.


"Tentu aja aku curiga dan penasaran. Tapi aku nggak pernah kesal sama kamu, kok."


Satya membelai rambut istrinya dengan sayang. Matanya yang cokelat indah, menatap Laksmi dengan semburat kesedihan.


"Kamu pasti punya alasan sendiri, kenapa nggak melakukannya. Apa ini karena penyakit langka itu?" bisik lelaki itu dengan lembut. "Tanpa melakukan itu, aku tetap sayang kamu, kok."


Laksmi tercekat mendengar pengakuan Satya yang begitu tulus. Dia lalu menggelengkan kepalanya, "Bukan karena itu. Dan Mas harus menemukan wanita yang benar-benar mencintai Mas nantinya."


"Kenapa begitu? Lalu apa alasannya?" Satya terlihat tak terima dengan ucapan Laksmi barusan.


"Mas tutup mata dulu, ya. Nanti hitungan ketiga Mas buka mata," pinta Laksmi.


"Hah? Apa?"


"Udah, pokoknya Mas ikutin aja. Mas mau tahu jati diri aku yang sebenarnya, kan?" kata Laksmi lagi.


Kendati masih bingung, Satya pun mengikuti permintaan istrinya. Dia menutup matanya, sambil berharap cemas. Tepat hitungan ketiga, dia kembali membuka kelopak matanya.


"Arrrghhh!" Satya menjerit di dalam hati. Namun mulutnya hanya terbuka lebar, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


"Ini wujud asliku, Mas. Aku sebenarnya..."

__ADS_1


Bluk! Satya terkapar di atas kasur, karena shock melihat sosok wanita berwajah pucat, mata hitam dan rambut yang sangat panjang di hadapannya.


"Yahh... Kan pingsan. Padahal belum sempat ngomong apa-apa."


Laksmi kembali ke wujud manusianya. Tangannya meraih minyak kayu putih, dan mengusapkannya ke pelipis Satya. Perlahan, lelaki itu kembali membuka kelopak matanya.


"Laksmi. Kamu benar Laksmi, kan?" Satya yang masih shock berkali-kali memastikan, kalau yang dihadapannya saat ini benar istrinya.


"Iya, Mas. Ini aku. Sosok yang kamu lihat tadi juga aku," ucapnya dengan lembut.


"Apa maksudmu?" Kepala Satya rasanya hampir pecah mencerna semuanya.


Dalam satu kedipan mata, Laksmi kembali mengubah wujudnya. Mata Satya langsung terpejam. Tak sanggup melihat wajah cantik itu tiba-tiba berubah penuh luka goresan yang menganga. Luka tersebut mengeluarkan darah pekat, hingga membasahi kain putih transparan yang dia kenakan.


"Ka-ka ..."


Satya juga tak bisa bergerak dan berbicara. Jantungnya bemar-benar shock melihat sosok perempuan di hadapannya itu.


"Iya, Mas. Ini wujud asliku. Seorang kuntilanak yang menyimpan dendam," ujar sosok itu dengan suara parau dan menggema ke seluruh kamar.


Hening. Satya tak beraksi apa pun. Bukan karena tak ingin, tetapi tak bisa. Batinnya terus menerus mengucapkan ayat-ayat Al-quran untuk menenangkan dirinya.


Tak tega melihat Satya yang ketakutan, Laksmi pun mengubah wujudnya menjadi perempuan cantik seperti sedia kala. Dia juga mengambilkan Satya minum ke dapur. Namun pria itu tak berani meminumnya.


"Cepat katakan! Di mana istriku yang asli!" Suara Satya terdengar bergetar dan hampir hilang.


"Ini aku, Mas. Laksmi Kinasih. Nggak ada lagi Laksmi yang lain, selain aku?


Laksmi mengangguk, "Mas mau lihat wujud asliku lagi?"


"Nggak, makasih. Mas percaya, kok," ucap Satya buru-buru. Dia tak ingin melihat makhluk mengerikan itu lagi.


"Tapi tolong ceritakan secara detail, siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa seperti ini?" pinta pria itu. Kedua tangannya menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya yang menggigil ketakutan. Dalam hatinya masih tidak mempercayai ucapan sosok di hadapannya.


"Namaku Kinanti Laksmi Nayaka. Mas pasti pernah dengar, kan?" ungkap Laksmi memulai ceritanya.


"Kinanti Laksmi Na... Ah, kamu perempuan yang hilang itu?" Satya langsung beringsut mundur menjauhi perempuan itu. "Eh, tunggu. Tadi katanya kamu Laksmi Kinasih?"


"Ya, aku Kinanti yang hilang itu. Dulu beberapa temanku membawaku ke hutan dan melakukan hal tak senonoh. Lalu membunuhku untuk menghilangkan jejak," cerita Laksmi.


Satya terdiam sejenak, mencoba mencerna apa saja inti dari percakapan ini.


"Kamu serius?"


"Iya. Aku serius."


"Jadi Kinanti sudah mati?" ucap Satya dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Ya, begitulah. Makanya aku datang untuk membalas dendam," ucapnya.


"Tapi aku nggak pernah mengganggumu. Bahkan saat kamu hilang, umurku masih tujuh tahun saat itu," protes Satya.


"Aku tahu. Maaf aku salah menilaimu sejak awal. Ku pikir kamu salah satu di antara mereka," kata Laksmi. "Aku juga sudah dilarang oleh Pak Dukun. Tetapi dendamku yang teramat besar, membuatku gelap mata," isaknya.


"Ah, tunggu. Jadi Pak Dukun tahu semuanya, dan dia membiarkan aku menikahi kuntilanak?" Suara Satya semakin naik. Rahangnya mengeras, mengetahui dia ditipu.


"Nggak, bukan begitu ceritanya. Semua yang mengikuti rangkaian lamaran dan pernikahan kita itu bukan Pak Dukun. Dia dirasuki oleh Pak De Mito, genderuwo yang menjadi temanku," pungkasnya.


Satya hanya menganga mendengar ceritanya, "Aku masih nggak percaya. Kinanti kan orang desa sini. Aku bahkan sangat mengenal keluarganya. Lalu kenapa kamu bisa sampai ke Dusun Wingit yang angker itu?"


"Panjang ceritanya. Intinya aku tanpa sengaja mengikuti Pak Dukun hingga ke sana."


Laksmi menjeda kalimatnya sejenak, untuk melihat reaksi Satya. Rupanya pria itu masih menantikan kelanjutan ceritanya.


"Wujud manusia yang aku ambil juga merupakan wujud putri tunggal Pak Dukun. Gadis manis bernama Laksmi Kinasih. Dia memang mengidap penyakit langka, seperti yang aku ceritakan padamu," lanjut Laksmi lagi.


"Ah, jadi begitu. Tapi kenapa aku tak pernah bertemu perempuan itu, saat berkunjung ke rumah Pak Dukun?" selidik Satya tak mau percaya begitu saja.


"Itu semua rahasia Pak Dukun. Aku tak berhak memberitahunya," ucap Laksmi. "Namun kamu harus tahu satu hal, Pak Dukun selalu mencari cara untuk memberitahumu, bahwa aku bukanlah manusia."


"Terus apa yang terjadi? Apa kamu menghalanginya?" tebak Satya. Laksmi mengangguk.


"Jadi kamu yang melukai dan membuat lelaki itu sakit?" bentak Satya. Semenjak menikah, inilah pertama kalinya Laksmi melihat suaminya marah.


"Iya. Aku yang melakukannya. Maafkan aku. Aku janji akan pergi jika semua telah selesai," sahut Laksmi dengan lirih.


"Kamu pikir aku bakal percaya dengan semua ucapan makhluk sepertimu? Bahkan sejak awal kamu sudah menipuku!"


Sorot mata Satya meredup. Dia merasa sangat hancur dan tertipu. Padahal hatinya sudah sangat menyayangi perempuan ini dengan segala kekurangannya.


"Aku benar-benar minta maaf, Mas. Dulu aku tak ingat siapa yang telah membunuhku. Tapi sejak bertemu denganmu, aku mengingat semuanya. Aku akan membuat mereka menemukan jasadku."


Rintihan Laksmi yang sangat pilu, membuat hati Satya kembali luluh. Mungkin makhluk itu memang sulit dipercaya. Tetapi jika semua yang dikatakannya benar, artinya Kinanti tersiksa selama puluhan tahun.


"Jangan balas dendammu lagi. Beritahu aku di mana jasadmu dibuang. Aku akan meminta polisi menemukannya," bujuk Satya.


Laksmi menggeleng kuat. "Aku memang sudah menemukan sebagian dari mereka. Tetapi mereka masih belum mau membuka mulutnya tentang kasus itu. Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri, Mas."


"Tapi ..."


"Mas nggak usah khawatir. Aku nggak akan mengganggu keluarga ini, juga tak melibatkan kalian yang tidak bersalah. Biarkan aku yang menghukum mereka. Aku nggak akan berhenti, sampai tulang belulangku ditemukan."


"Baiklah, kalau itu maumu. Tapi aku minta, kamu jangan menyakiti Pak Dukun lagi," pinta Satya.


"Aku janji, Mas," balas Laksmi.

__ADS_1


"Lalu selanjutnya kita gimana?" Satya mendadak merinding, membayangkan dia setiap malam tidur bersama kuntilanak.


(Bersambung)


__ADS_2